Wednesday, August 29, 2012
To My Treasures
One day be the prince
In the world of decency
Rule the kingdom of honesty
From the palace of fervor
Keep integrity as your throne
Place dignity as your crown
Have humanity within your grip
Walk on the carpet of demeanor
Be the shelter to the lost
Be the entrusted one
Don’t let affliction
Sprays your ether
Smile should always adorn you
Sweet little piece of my heart
One day be the princess
In the world of benevolence
Rule the kingdom of generosity
From the palace of beauty
Keep benignity as your throne
Place probity as your crown
Have chastity within your grip
Walk on the carpet of vigor
Be the haven to the lost
Be the dependable one
Don’t let chagrin
Raise in your air
Beam be always embellish you
My gorgeous little treasures
Let Quran and Hadits
Light your paths
And take your hands
Through the gateway of truth
(June, 12 1999)
Wednesday, January 19, 2011
Ketemuan
Setelah ketemu lalu kami diajak m di Boon Tong Kie. Itu resto Chinese food ramenya aujudubilah. Ngantri panjang, untung iparku pinter cari telusupan. Nggak lama kemudian kami masuk deh, he...he...he...
Adikku ini boleh dibilang pelajar mandiri. Dalam keadaan papa harus mondar-mandir Bandung-Jakarta saat menempuh S2, dia tetap rajin belajar meraih juara umum saat lulus SMP. Guru-gurunya heran banget begitu tahu mama otomatis hanya sendirian bersama anak-anak di rumah papa kuliah di UI. Sampe SMA pun di Kediri dia juara. Nggak usah negri-negrian tetap bisa masuk ITB. Hebat kan?
Satu hal selalu membekas dalam ingatanku itu adalah pertengkaran masa kecil kami. Suatu kali kami berantem, nggak tau tentang apa. Lalu karena mau disambit kita lari ngumpet ke kamar mandi lalu kita konci. Adikku ini tungguin terus kita pun tak berani keluar. Lalu, entah karena ada mau mandi or karena dia dipanggil Mama, akhirnya kita dilepaskan sambil ngomong gini, "Kali ini gw ampunin ya Ya, awas lain kali!" Secara tak sadar pengalaman ini memampukanku mengampuni orang lain, walaupun itu sesuatu sulit, ha3. Adikku ini juga satu-satunya memahami pergumulanku menjadi hamba Tuhan. Dia bikin ortuku rela melepas anak perempuan satu-satunya ini untuk melayani 2 tahun di Perkantas sebelum kerja beneran.
Setelah kami tua beranak pinak malah jarang ketemuan, karena itu kita senang sekali kemaren bisa ketemu setelah sekian lama. Kita tau pola hidup mereka dari bincang-bincang dengannya. Luv u always.
Monday, March 23, 2009
Bahaya di Dalam Rumah
Jika dirunut-runut kejadiannya, rasanya nggak masuk akal, tapi tokh terjadi. Dari pagi iparku memang sudah wira-wiri nganterin anak-anaknya les. Pulang dari antar les, karena itu hari Sabtu, dia langsung ke Carrefour belanja macem-macem. Sesampainya di rumah dia langsung duduk di kursi pijat. Tapi karena nggak ada bisa nyalain, dia naek ke kamarnya di loteng. Menurut ceritanya sih dia lagi ngobrol di handphone dengan suaminya, adikku paling besar. Tau-tau nggak sadar udah jatuh. Mungkin kelelahan lalu sarafnya tidur tapi orangnya masih jalan-jalan. Soalnya dia nggak berusaha menggapai-gapai benda or pegangan besi di tangga itu.
"Bunyinya keras sekali, seperti ada benda besar dijatuhkan ke bawah," begitu laporan Mamaku. Lha iya, iparku ini lumayan tinggi berat. Setelah jatuh begitu, pembantu memanggil tetangga-tetangganya membawa iparku ke rumah sakit. Sempat muntah satu kali begitu abis jatuh, lalu darah berceceran di mana-mana. Di rumah sakit Puri, muntah lagi 5 kali. Dokternya mendiagnosa kalo iparku ini gegar otak ringan.
Kita sedang gembira-gembiranya abis pawai langsung lemas. Pertama sih karena kasihan dengan iparku gelinding bebas. Tapi juga kepikiran keponakan-kepon panik melihat mamanya jatuh pingsan begitu. Belum lagi Mamkita sudah renta tak tahu harus berbuat apa.
Jika dipikir-pikir, bahaya banget ya hidup seorang ibu. Kayaknya nggak ada bahaya mengintai, tapi selalu diintai ternyata. Kejadian ini membuatku waspada. Kita mulai lagi mengatur kegiatan sesehari, supaya tidak terlalu banyak melelahkan, apalagi kita nyetir sendiri kemana-mana. Mana sesehari hanya berdua dengan Jessie, nggak ngebayangin kalo tekanan darahku drop pas kita nyetir, or kita ngantuk kala nyetir. Terus kita jaga-jaga juga supaya gas selalu dalam keadaan tertutup. Kita nggak angkat berat-berat kalo nggak ada misua di rumah. Hal-hal nampak sepele, tapi tanpa dinyana bisa membahay seisi rumah.
Cepat puliha ya San, cheers!
Saturday, January 10, 2009
Setahun Kemudian
Taon ini, saat keluarga kumpul, sedikit dateng. Anak-anak tuapeku (abangnya Papa) malah nggak ada bisa dateng. Dua adikku juga nggak bisa dateng. Herannya kita bisa bercanda lepas dengan tuapeku. Selama ini nggak pernah kayak gitu. Usia dia kan jauh di atas papaku, jadi kita sungkan. Malah deket sama dia itu adikku cer. Kita pegang-pegang kalungnya. Masih inget kata-katanya, "Ini kalungnya Feli. Ape cari-cari terus ketemu. Jadi Ape pake deh, dijadiin liontin." Dalam hati kita sempat sedikit kaget karena dia nyebut nama Feli, itu sepupuku udah almarhum long...long...long...ago. Dari sekian pertanyaan-pertanyaannya, kita bisa aja ngejawab. Rupanya dia kaget juga kala kita bisa jawab apa artinya P diberi tanda silang. Tanda itu mungkin ada di mimbar gereja-gereja Protestan. Katanya, "Sekarang namanya bukan lagi Paulus, tapi Paul X." Beberapa kali kalimat itu diulang-ulang.
kita heran takjub, dia ingat sama Khun. Padahal setahuku perjumpaannya dengan Khun bisa dibilang kurang dari lima kali. "Ini Khun 'kan? Betul 'kan?"
Pulang kumpul-kumpul itu tanpa maksud apa-apa kita membuat Papa Mama tetap berkumpul, sementara aku, Khun anak-anak pulang sama Didi. Kata Mama, "Ya, Ape ngomong melulu sepanjang jalan. Nggak ada abis-abisnya." Beberapa kali dia menany saudara-saudaranya Mama, ditanyain itu udah meninggal semua.
Pagi tadi, pas kita lagi pijat, hp ku bunyi. Papa telepon ngabarin kalo tuapeku meninggal. Keberangkatannya sungguh enak. Pk 04.00 masih disuapin soto, tiba-tiba sesak napas, dibawa ke rumkit, berangkat deh pada pk 07.15.
Rasanya pengen ke Jakarta, berkumpul dengan keluarga duka, tapi bonyok nggak ngebolehin, secara Jessie juga ditinggal sama papinya menjelang sekolah. Jadilah hari ini kita jalani dengan bersedih hati. Nyetir sambil kebayang-ba suasana pertemuan 31 Desember. Ketika itulah kita ahir kali melayani menyedi air minumnya. Saat itulah kita ahir menerima berkatnya sebelum pulang. Butuh setaon lebih 10 hari sebelum firasatku menjadi kenyataan. Ternyata ape mau berangkat...
Selamat jalan, Ape. Kalo ketemu Feli, salam ya dari Yaya.