Thursday, May 17, 2012
Doa Ulang Tahun
Tuhan Yesus terima kasih karena hari ini Jessie ulang tahun kesembilan,
Jadikanlah dia anak mencintai Engkau,
mampukan kami orangtuanya untuk membimbingnya menjadi anak baik.
Juga karuni kerajinan ketelitian....nggak kayak sekarang kalo belajar masih suka males kamarnya berant (Jessie mencubit kakiku, diaduin ke Tuhan).
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.
Kayaknya ini doa paling ger-geran deh. Jessie cekikikan melulu didoain begitu, padahal maknanya lumayan berat buat kami, soalnya ini anak unting-unting (dalam budaya Jawa, anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting). Apalagi, karena di rumah hanya ada keluarga inti, makin lama makin serupa sama kita jadinya. Bagi udah lama kenal aku, udah keba kan nanti gedenya dia seperti apa, ha...ha...ha...
Eniwei, kami bersyukur dikaruniai Jessie. Emang sih kalo dia di rumah kami sering keberisikan karena tak pernah habis hal dikatakannya, tapi kalo dia lagi sekolah, kita sering keilangan. Kayaknya rumah jadi sepi tanpa Jessie. Kalo dia lagi ngeyel juga kadang-kadang kami cape ati, tapi ngeyelnya itu bikin kami harus pandai-pandai memutar otak supaya bisa masuk dalam frame of referencenya.
Kami juga berharap supaya doa terkandung dalam namanya bisa terwujud dalam hidupnya: "Ya Tuhan Maha Pemurah, jadikanlah kita anak kuat bijaksana" (Jessica Joanne Mahardhika).
Wednesday, June 22, 2011
UM
Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
Sunday, April 5, 2009
Penggocohan Mental
Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi kita disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.
Hebat nggak? Rupanya pemal mental sudah dimulai. Kita sama misua cuma geleng-geleng. kayak begini ini rentan buat Jessie, kita lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak ludes tandas. Suatu kali kita pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin kita geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, kita sendiri nggak kebagian. Katanya kalo kita nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya or cara teman bersikap ketika dia bicara sangat mempengaruhi mentalnya. Jika udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.
Dari dua kasus dialami anakku, kita jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali jika kita mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Kita sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma lebih penting buat kita adalah memberitahu makna sahabat sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya kita juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.
Sisi positif Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, banyak berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilkita teman-temannya.
Wednesday, November 5, 2008
Beranjak Besar
Kami cukup terkejut kala mendengar keluhan si anak semata wa jika payudaranya sakit. Soalnya dia abis jatuh, jadi pikiran nih udah nggak-nggak. Jangan-jangan kala jatuh kena ke dada, seribu satu macem jangan-jangan. Tetapi setelah kita amat-amati ternyata nipplenya mulai membentuk, mungkin proses itu bikin sakit. Barangkali seperti gigi mintip-mintip mau tumbuh.
Terus kepikirlah membelikan dia miniset, kayaknya kaos dalem aja udah nggak memadai. Nah ini, ternyata miniset itu ada bermacam-macam step, dari step 1 sampai step 3. Step 1 bentuknya kayak kaos dalem, tapi panjangnya sampai pertengahan dada, lalu plain sama sekali, nggak ada busanya. Step 2 panjangnya miniset berkurang sampai kurang lebih 2 cm di bawah payudara, lalu di bagian belakangnya ada tali menyilang. Step 3 udah seperti bra biasa, tapi busanya tipis sekali. Kita bingungnya tuh miniset nggak boleh dicoba. Akhirnya kita ukur-ukurin aja di badannya Jessie. Dibelilah si step 2, tapi nggak pake tali menyilang, biasa aja model talinya.
Namanya anak-anak, udah ketemu stepnya, dia bingung milih….gambarnya warnanya. Akhirnya dia milih ada bunganya gantung-gantung. Kita misua mesem-mesem aja, liat anak-anak mulai gede.
Terus kemaren malem, kala antar temen nyari jas di Centro, dia ajak lagi cari miniset. Nah, kalo ini simple, nggak ada step-stepan. Bentuknya seperti bra, hanya ukurannya S pake karet elastis, jadi nggak pake kait. Begitu coba langsung pas. Jadi, dia beli lagi tuh miniset.
Lucunya, karena gambarnya juga lucu, udah rapi-rapi pake seragam, tiba-tiba Jessie bilang begini, “Nih Mam, liat, lucu
Sunday, November 2, 2008
Bonyok
Bukan bokap nyokap, tapi bonyok beneran. Nih ada kaitannya sama idungnya Jessie. Dalam perjalanan jemput dia Sabtu lalu, kita ditelepon kepseknya. Dengan suara takut-takut dia memberitahu, “Kak Ian, inii… tadi Jessie terdorong temannya pas pelajaran olahraga. Lalu, dia jatuh.”
“Lalu, kena apanya?”
“Hidungnya. Tapi tadi sudah diperiksa guru olahraganya nggak apa-apa, hanya memar luka berdarah di lubang hidung.”
“
“Oh nggak, nggak ada patah or goyang. Jessie juga nggak pusing. Saya memberitahu supaya Kak Ian nanti nggak kaget kala jemput lihat ada luka di mukanya Jessie. Kmi minta maaf atas kejadian ini.”
Lega banget kala liat Jessie tergolong nggak apa-apa karena luka cukupan itu persis di bawah lubang hidung. Bagian hidung sebelah kiri bengkak sedikit, batang hidungnya lecet-lecet memanjang, dagunya memar biru, Selain itu punggung tangannya lecet dikit. Lutut kiri kanan memar biru lecet-lecet.
Menurut cerita Jessie, dia lagi jalan di pinggir lapangan, lagi ngincer bola. Tiba-tiba dari belakang dia ditabrak temennya. Langsung nyungsep ke paving block. Kala nyungsep itu, tangannya refleks nutupin mata, makanya punggung tangannya luka.
Bapaknya kaget, pulang-pulang muka anaknya bonyok. Mau dibawa ke dokter, tapi anaknya sendiri udah nggak ngeluh. Ditanyain pelan-pelan ngerasa pusing, mual or mata berkunang-kunang nggak kala jatuh. Teteup aja ngegeleng.
Dengan kondisi muka bonyok, kemana-mana jadi malu. Jadi wiken kemaren di rumah aja, sambil ngomporin Jessie supaya nggak usah malu kalo ketemu orang. Namanya aja kecelakaan, orang jatuh itu biasa. Luka juga nggak bisa sembuh instant, walau udah ditaburin hau fung san sakti mandraguna… Jadi, kalo orang kiri kanan nanya ya dijawab aja kalo itu karena jatuh. Soalnya, anakku ini kan mentingin banget gimana dia tampil di depan orang, beda 180 derajat sama emaknya, ha…ha…ha…., jadi perlu dikomporin supaya Jessie gak berkurang pedenya.
Friday, August 8, 2008
Ujian Kesabaran
Selain sepatu butut ini, masih ada sepatu olahraganya juga sama-sama butut. Jadi, di diskonan itu, kami mencari sepatu hitam syaratnya harus bisa untuk sehari-hari untuk olahraga. Jadi, sepatu sekolah itu satu aja, nggak usah gonta-ganti. Kan jadi nggak usah mikir ini hari olahraga apa bukan. Pokoknya ke sekolah ya pakenya seatu itu.
Pusing liat sepatu koq bececeran dimana-mana, emaknya aja cuman punya satu sepatu satu sandal tinggi untuk ke pesta. Lagian ribet kalo banyak sepatu (mood ngosongin rumah lumayan masih tinggi nih).
Cari punya cari, akhirnya ketemu oke. Sekarang tinggal ngelobby kala memakainya. Sejak awal udah dibilangin kalo sepatu itu hadiah ultahnya, dibeli sekarang karena ada diskon mayan gede. Kala sepatunya belum keliatan, Jessie sih manggut-manggut aja. Begitu sepatunya udah nangkring di depan mata, keinginannya untuk langsung memakai sepatu baru muncul.
Bagiku, ini sarana ujian kesabaran buat Jessie. Nggak banyak momen kayak gini, menunda sekian lama untuk mendapatkan sesuatu. Namanya anak semata wayang, jadi kita juga kadang-kadang suka ngebeli-beliin dia benda disukainya. Tapi, kayaknya udah waktunya Jessie belajar bahwa menunda itu buahnya manis. Latihannya dari benda nggak urgent kayak sepatu. Besok-besok, harapanku dia bisa belajar untuk benda lebih penting, misalnya beli hp, dll.
Buat Jessie, penundaan ini rupanya bikin dia manyun. Tapi lama- lama, saking banyak aktivitasnya, lupa juga. Tau-tau udah tanggal 9, tinggal 9 hari lagi. Selama dia lupa, kita diem-diem aja. Kalo pas inget, jawabanku klasik ibu-ibu, “Sabar…sabar…sabar…”
Wednesday, August 6, 2008
Tidur Nyenyak
Kalo udah gitu kita sering memandangi wajahnya. Kayaknya nggak ada kedamaian melebihi nuansa damai tersirat di wajahnya. Kenapa ya, kalo anak lagi tidur begitu, rasa sa bisa membuncah deras? Wajahnya, mungkin juga wajah anak-anak lain, serasa nggak ada salahnya. Belum lagi napasnya teratur jadi kayak musik penenang, he…he…he….! Terus, posisinya itu lho, persis seperti kala dia bayi tidur. Tangannya dua-duanya naik ke atas. Papinya bilang secara nggak sadar Jessie meniru maminya, sebab kata misua tanganku juga naik ke atas dua-duanya kalo lagi tidur. Mana kutahu…. (nyanyi dong).
Alhasil, sore ini kita lonely, abis dia tidur nyenyak. Udah dari pk 13.30, sampe 17.30, belon ada tanda-tanda dia mau bangun. Padahal, kita bolak-balik melulu dari kamarnya ke depan, mbak kami juga ngepel sama beres-beres di
Tuesday, July 22, 2008
Kenangan 2 tahun lalu
Kemampuannya dalam bidang bahasa sungguh luar biasa, tetapi di bidang olahraga…., butuh kesabaran! Karena gangguan asmanya, kami sepakat untuk memotivasinya agar menyukai renang. Mula-mula dengan membelikannya kolam renang dari plastik, lalu renang di kolam anak-anak, sampai mulai mau renang bersama saya di kolam dewasa.
Sebagai ibu, tidak tega rasanya melihat anaknya stress seperti itu. Hanya karena inilah satu-satunya cara supaya asmanya sembuh, saya menguatkan hati setiap kali bentuk stresnya muncul. Segala daya saya kerahkan supaya ia mau les setiap minggu, dari memberi semangat sampai janji bermain di tempat kesukaannya setelah selesai renang. Berbulan-bulan kami mengalami up and down dalam les renang. Berkali-kali saya hampir menyerah karena merasa tidak ada gunanya menunggui anak les renang jika hasilnya hanya tangisan muntah. Syukurlah tekad melihat anak ini mandiri, sehat punya semangat juang memampukan saya bertahan menjalani masa-masa tak enak itu.
Di tempat lesnya banyak anak baru juga mengalami hal serupa. Rupanya ini menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan jika dirinya sekarang sudah bisa. Sekarang ia sangat menyukai renang. Sekalipun teman akrabnya tak mau renang, ia tetap pergi les. Sekalipun hujan, asalkan gurunya ada di kolam renang, ia pasti bersikeras ingin renang. Lega rasanya berjalan bersamanya mengatasi rintangan berat dalam hidupnya.
PS: Tulisan di atas pernah kita kirimkan ke salah satu lomba ibu anak. Kemarin, kala antar Jessie les, ada anak laki-laki usia 6 tahun baru belajar renang, nangis-nangis juga. Teringat kenangan 2 tahun lalu saat Jessie mulai belajar renang.
Monday, July 21, 2008
Genap Seminggu
Beberapa hari lalu ia kepengen jadi ketua kelas. Kita sih santai aja, kita bilang en jadi warga kelas biasa, jadi nggak terbuang kala belajarnya. Jiwa kompetitornya tinggi rupanya agak menyulitkannya melihat hal ini. Emang dasarnya anaknya suka berpartisipasi, jadi kali dia nggak tahan kalo di kelas dia nggak punya peran. Nurun kita apa bapaknya ya? Ha....ha...ha...
Saturday, July 12, 2008
Laste
Dua hari ahir liburan Jessie ini diisi dengan banyak kesibukan. Justru menjelang liburannya abis, baru muncul berbagai ide.
Pertama, dia mau memberi variasi pada baju boneka tangannya. Minta diajarin jahit bis untuk lengan kanannya. Jadilah, abis m malam kita ngeluarin peralatan jahit sederhana. Mulai dari memasukkan jarum, lalu gimana bikin bis nya, terus gimana nempelinnya ke boneka tangan itu.
Kedua, jalan-jalan searian. Abis liat kepastian kelasnya, kami bertiga langsung menuju Amplaz. Wah, kalo ke sini bisa m 3-5 jam deh, saking nyamannya tuh tempat. Mau nonton Kung Fu Panda, saking tuh fil ngedidik banget. Dapet karcis tempat duduknya enak pk 17.30. Jadi kita m siang dulu sambil nge-net. Asyik banget surfing 2 jam koq gratis, alias m saing plus. Abis itu maen ke Timezone, ngeliat buku di Gramedia beli beberapa kebutuhan kue, kita mau praktek bikin katetong ama Jessie. Mudah-mudahan jadi, he…he…he… Ahir baru nonton, ketawa ketiwi, sampe di rumah lagi pk 20.00, dari pk 11.30, bayangin!
Ketiga, mencatat renungannya setiap hari. Nah ini agak mengejutkan aku. Dia emang ngeliat kita saat teduh, tau kalo kita melakukannya rutin, tapi dia dapet ide sendiri nyatet saat teduhnya. Kalo ditanya kenapa membuat catetan, jawabnya, “Soalnya Jessie cepet lupa, jadi mau dicatet udah diajarin.” Kita yah manggut-manggut mendukung, asal nggak cuman keinginan sesaat aja.
Hari-hari ahir sibuk mengasyikkan!
Monday, June 23, 2008
Ciecie apa Kakak?
Kita mendapat tugas supervisi lapangan ke Kartasura. Ya seneng, ya deg-degan. Seneng karena jalan-jalan adalah kesukaanku. Deg-degannya karena kita belum pernah nyetir sejauh Kartasura. Jam terbang luar kotkita baru sampe Magelang.
Friday, June 6, 2008
Eksplorasi Bakat Anak
Pertama kali kita cobain ke nari. Sejak umur 2 tahun dia udah kita ajak ke sanggarnya Didi Nini Thowok. Kira-kira 3x datang tangan kaki mungilnya mulai bergoyang-go mengikuti irama gamelan. Hanya saying, terputusa karena dia masuk Kelompok Bermain siang hari, jadi abis sekolah udah lelah. Kala itu rumahku di ujung dunia, jarak ke tempat nari kira-kira 20 km. Untuk ukuran Yogya, segitu tuh jauh banget. Narinya nyambung lagi sejak umur 4 tahun sampai sekarang. Apakah Jessie berbakat nari? Mungkin ya, karena mamkita mudanya penari ballroom, lhoh…jauh banget linknya? Ha…ha…ha…! Mungkin juga nggak. Bakat itu muncul karena dia rajin berlatih di rumah di les, lalu sering diajak pentas sama sanggarnya. Memang keliatan sedikit lebih karena jika denger musik, mungkin Jessie langsung go merancang ger tari.
Selaen itu kita nyobain dia maen piano. Lesnya sih piano, tapi alat di rumah hanya keyboard buatan
Di bidang olahraga kita ‘maksain’ dia renang. Bagus buat asmanya renang itu olahraga paling kecil risiko kecetit ototnya, karena otot jadi lentur di dalam air.
Pendek panjang, eksplorasi bakat anak butuh kesabaran, kemauan coba-coba kejelian melihat golden age nya. Kalo nggak, jadilah dia seperti generasiku nggak diapa-apain ortu akhirnya hanya menjalani rutinitas. Generasi penerus seyogyanya sih lebih bagus lebih adaptif.
Monday, June 2, 2008
Diskusi Siang
“Jessie tau darimana jika dia anak angkat?”
“Ya nggak apa-apa, tapi gimana gitu lho!”
“ penting
“Apa Mam, contohnya?”
“Ya anak kandung tapi nggak dirawat. Dibiarinin aja mau ngapain sesuka hatinya. Mau belajar boleh, nggak mau sekolah juga boleh. Mau m boleh, nggak mau m juga boleh. Kayak- kayak gitu contohnya.”
“Misalnya kalo mau beli maenan disuruh pake uangnya sendiri, gitu?”
“Bisa juga. Tapi kalo gitu
Sampe di situ diskusi kami berhenti, soalnya m siangnya udah selesai. Kita bersyukur topic ini muncul, jadi Jessie bisa tau kalo status anak angkat itu nggak apa-apa bukan sesuatu hina. Banyak
Thursday, April 24, 2008
Di Balik Layar
Andaikata nih jadwal pertunjukan pk 11.30, dia udah musti standby di sanggar tari sejak pk 06.30. Lama bener? Nah, kalo itu pastinya berhubungan dengan tata rias. Sejak pertama bergabung mulai pentas
Karena kekhususan itu, makanya kalo ada enam penari, tinggal dikaliin aja tuh. Kira-kira 2 jam untuk dandannya aja. Belum pake kostumnya lama perjalanan menuju tempat pentas. Mending- mending kalo sampe di
Jadi, selaen rias di sanggar, ada kru bertugas bawa alat rias ke tempat pentas, untuk perbaikan sebelum akhirnya mentas.
Kalo capek lelah kayak gitu, ngapain capek- capek ikut di sanggar tari? Mendingan di rumah nonton tivi apa jalan- jalan. Nah, balik lagi ke panggilan hati. Bicara soal ini, Jessie sangat menikmati saat-saat sebelum pentas.
Sebelum pentas memang penuh dinamika, kami harapkan bisa memperkaya nuansa jiwa Jessie. Terus maju ya, Nak!
Friday, March 28, 2008
All Round
Pagi ini kita meras betul manfaat pelajaran di SMP dulu betul-betul nggak kita sukai. Paling sebel pelajaran musik. Abis, nggak cuma teori tapi juga praktik bikin tangga nada dengan bermacam-macam kunci, nyanyi bahasa Latin sampe maenin alat musik. Tapi yah… alat musik anak sekolahan zaman dulu
Pagi ini Jessie kebingungan ngerjain peer les pianonya. Dia diminta bikin nada ¼ nada 1/8 sebanyak 5 soal. Bingunglah dia. Di sini nih kita ngerasa manfaat dulu pernah belajar musik beneran di sekolah. Jadi, kita ajak dia lihat lagi apa diterangin sama guru lesnya, terus kita ajarin deh gimana ngeletakin tuh toge-toge pake bendera.
Wualah, jadi ibu nih butuh upgrading terus. Kalo nggak abis anggaran belanja buat les ini itu. Terus, anaknya juga gak pede, kalo pas nggak ngerti di pelajaran nyaknya cuman lola lolo gak ngerti apa-apa. Bukan cuman musik kita harus menggali ingatan, tapi juga belajar tulisan mandarin/ hanzi. Nah, ini kita sangat terbantu dengan les mandarin untuk ortu murid diselenggar sekolah anakku. Jadi, kita ngerti basicnya gimana urut-urutan nulis satu karakter/ hanzi nya. Kalo nggak? Babak belur deh si Jessie
Itu bagian pelajaran. Bagian olahraga kayak mukul bola kasti, maen basket ato maen biliar dll.nya, urusan bapaknya deh. Jadi adil pembagiannya, kalo nggak bisa kecetit nih. Ha…ha…ha…
Friday, February 1, 2008
Narsis
Narsis ternyata menjangkiti si anak semata wayang. Jessie seneng sekali kala diwawancara wartawan Kompas. Itu juga kejadiannya tak dinyana. Jadi, seperti kebiasaannya selama 4 tahun ini, setiap Kamis dia les menari. Kalo telat dikit, bisa mcc alias mencucu alias mancung bibirnya.
Sebelon berangkat les, dia masih latihan tari terbarunya, Pak Pung. Begitu nari, lupa deh dia sama sekelilingnya. Heran juga kenapa dia jadi seneng nari. Kata emanya, nurun dari dia. Mamkita emang doyan dansa. Bayangin aja, di tahun 50-an, setiap pesta ulang tahun, mesti ada dansanya, tak peduli betapa kecil rumah empunya pesta. “Darah” itu rupanya nyampe ke cucunya ini.
Bedanya, cucunya nari tradisional kreasi baru di sanggarnya Didik Nini Thowok, emanya dulu ballroom dance. Pertama-tama dia les nari, emanya protes melulu. Katanya bagusan ballroom dance, daripada tari tradisional. Cuma
Lagi asyik-asyiknya nari, tiba-tiba ada dating langsung memotret anak-anak lagi nari. Kami, ibu-ibu nungguin anaknya nari, Cuma melirik aja. Paling-paling buat dokumentasi sanggar, piker kami, ngobrol jalan terus, he…he…he…! Setelah tarian selesai, tiba-tiba si pemotret ngedatengin kita memperkenalkan dirinya sebagai wartawan Kompas. Lalu diajukanlah berbagai macam pertanyaan, seperti: sejak kapan anaknya menari di sini, kenapa diajak ke sanggar ini, selain tarian tradisional ikut tari modern lainnya nggak, apa harapannya dengan mengikut sert anaknya menari di sini. Setelah Jessie gabung, dia juga ditanya-tanyain.
“Kak, ini mau dimasukin ke tivi ya?”
“Bukan, Kakak dari Kompas.”
“Ooo…, jadi nanti kita dimuat di Kompas? Kompas Yogya? Berarti, terkenal dong ke seluruh Yogya
Belum selesai, sampe di bawah kala ketemu temen-temen narinya, dia bikin pengumuman, “Eh…eh…, kita mau dimuat di Kompas lhoh?” (aduh…aduh… piye iki?)
Nggak cukup, ternyata. Sampe di rumah sahabatku, sekali lagi Jess pengumuman,
“Tante…, Tante…, langganan Kompas
“Lho memangnya kenapa koq sampe masuk Kompas?”
“Tadi kita diwawancara sama wartawan Kompas abis nari.”
“Ooo…”
Sekali ini kita pasrah deh ngeliat anak semata wa narsis abizz!
Kala mau tidur malem Jessie nanya gini, “Mam, emang kita narsis ya? Bagus nggak gitu? Boleh nggak sih? Mami narsis nggak?”
Nah, begini nih punya anak ceriwis. Jadi inget papinya suka komentar gini kalo kita udah ngeluh betapa bawelnya Jessie, “Lhoh! Mami mau punya anak cerdas apa dongok?”
Skak Mat!!!!!!!!