Showing posts with label Jessie. Show all posts
Showing posts with label Jessie. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

Doa Ulang Tahun

Tadi pagi, anak kami bangun dengan wajah berseri-seri, karena dia ulang tahun hari ini. Selesai beres-beres buku alat-alat gambarnya, kami pun berdoa, gini bunyinya:

Tuhan Yesus terima kasih karena hari ini Jessie ulang tahun kesembilan,
Jadikanlah dia anak mencintai Engkau,
mampukan kami orangtuanya untuk membimbingnya menjadi anak baik.
Juga karuni kerajinan ketelitian....nggak kayak sekarang kalo belajar masih suka males kamarnya berant (Jessie mencubit kakiku, diaduin ke Tuhan).
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.

Kayaknya ini doa paling ger-geran deh. Jessie cekikikan melulu didoain begitu, padahal maknanya lumayan berat buat kami, soalnya ini anak unting-unting (dalam budaya Jawa, anak perempuan satu-satunya disebut unting-unting). Apalagi, karena di rumah hanya ada keluarga inti, makin lama makin serupa sama kita jadinya. Bagi udah lama kenal aku, udah keba kan nanti gedenya dia seperti apa, ha...ha...ha...

Eniwei, kami bersyukur dikaruniai Jessie. Emang sih kalo dia di rumah kami sering keberisikan karena tak pernah habis hal dikatakannya, tapi kalo dia lagi sekolah, kita sering keilangan. Kayaknya rumah jadi sepi tanpa Jessie. Kalo dia lagi ngeyel juga kadang-kadang kami cape ati, tapi ngeyelnya itu bikin kami harus pandai-pandai memutar otak supaya bisa masuk dalam frame of referencenya.

Kami juga berharap supaya doa terkandung dalam namanya bisa terwujud dalam hidupnya: "Ya Tuhan Maha Pemurah, jadikanlah kita anak kuat bijaksana" (Jessica Joanne Mahardhika).

Wednesday, June 22, 2011

UM

Hari ini adalah sejarah buat Jessie. Untuk pertama kalinya dia berangkat ke Jakarta sendirian, menggun fasilitas unaccompanied minor.

Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.

Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.

Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.

Sunday, April 5, 2009

Penggocohan Mental

Tadi pagi kala membereskan tas sekolah Jessie, kita menemukan surat-suratan Jessie dengan beberapa temannya. Surat-suratannya sih nggak apa-apa, isinya bikin hatiku mencelos.

Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi kita disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.

Hebat nggak? Rupanya pemal mental sudah dimulai. Kita sama misua cuma geleng-geleng. kayak begini ini rentan buat Jessie, kita lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak ludes tandas. Suatu kali kita pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin kita geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, kita sendiri nggak kebagian. Katanya kalo kita nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya or cara teman bersikap ketika dia bicara sangat mempengaruhi mentalnya. Jika udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.

Dari dua kasus dialami anakku, kita jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali jika kita mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Kita sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma lebih penting buat kita adalah memberitahu makna sahabat sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya kita juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.

Sisi positif Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, banyak berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilkita teman-temannya.

Wednesday, November 5, 2008

Beranjak Besar

Kami cukup terkejut kala mendengar keluhan si anak semata wa jika payudaranya sakit. Soalnya dia abis jatuh, jadi pikiran nih udah nggak-nggak. Jangan-jangan kala jatuh kena ke dada, seribu satu macem jangan-jangan. Tetapi setelah kita amat-amati ternyata nipplenya mulai membentuk, mungkin proses itu bikin sakit. Barangkali seperti gigi mintip-mintip mau tumbuh.


Terus kepikirlah membelikan dia miniset, kayaknya kaos dalem aja udah nggak memadai. Nah ini, ternyata miniset itu ada bermacam-macam step, dari step 1 sampai step 3. Step 1 bentuknya kayak kaos dalem, tapi panjangnya sampai pertengahan dada, lalu plain sama sekali, nggak ada busanya. Step 2 panjangnya miniset berkurang sampai kurang lebih 2 cm di bawah payudara, lalu di bagian belakangnya ada tali menyilang. Step 3 udah seperti bra biasa, tapi busanya tipis sekali. Kita bingungnya tuh miniset nggak boleh dicoba. Akhirnya kita ukur-ukurin aja di badannya Jessie. Dibelilah si step 2, tapi nggak pake tali menyilang, biasa aja model talinya.


Namanya anak-anak, udah ketemu stepnya, dia bingung milih….gambarnya warnanya. Akhirnya dia milih ada bunganya gantung-gantung. Kita misua mesem-mesem aja, liat anak-anak mulai gede.


Terus kemaren malem, kala antar temen nyari jas di Centro, dia ajak lagi cari miniset. Nah, kalo ini simple, nggak ada step-stepan. Bentuknya seperti bra, hanya ukurannya S pake karet elastis, jadi nggak pake kait. Begitu coba langsung pas. Jadi, dia beli lagi tuh miniset.


Lucunya, karena gambarnya juga lucu, udah rapi-rapi pake seragam, tiba-tiba Jessie bilang begini, “Nih Mam, liat, lucu kan gambarnya?” Terus dia sibak sedikit kemeja seragamnya. Dasar anak-anak, polos-polos gimana gitu….

Sunday, November 2, 2008

Bonyok

Bukan bokap nyokap, tapi bonyok beneran. Nih ada kaitannya sama idungnya Jessie. Dalam perjalanan jemput dia Sabtu lalu, kita ditelepon kepseknya. Dengan suara takut-takut dia memberitahu, “Kak Ian, inii… tadi Jessie terdorong temannya pas pelajaran olahraga. Lalu, dia jatuh.”


“Lalu, kena apanya?”


“Hidungnya. Tapi tadi sudah diperiksa guru olahraganya nggak apa-apa, hanya memar luka berdarah di lubang hidung.”


Ada patah or goyang? Jessienya mengeluh pusing nggak?”


“Oh nggak, nggak ada patah or goyang. Jessie juga nggak pusing. Saya memberitahu supaya Kak Ian nanti nggak kaget kala jemput lihat ada luka di mukanya Jessie. Kmi minta maaf atas kejadian ini.”


“Ya, ok. Saya segera ke sana.”


Lega banget kala liat Jessie tergolong nggak apa-apa karena luka cukupan itu persis di bawah lubang hidung. Bagian hidung sebelah kiri bengkak sedikit, batang hidungnya lecet-lecet memanjang, dagunya memar biru, Selain itu punggung tangannya lecet dikit. Lutut kiri kanan memar biru lecet-lecet.

Menurut cerita Jessie, dia lagi jalan di pinggir lapangan, lagi ngincer bola. Tiba-tiba dari belakang dia ditabrak temennya. Langsung nyungsep ke paving block. Kala nyungsep itu, tangannya refleks nutupin mata, makanya punggung tangannya luka.

Bapaknya kaget, pulang-pulang muka anaknya bonyok. Mau dibawa ke dokter, tapi anaknya sendiri udah nggak ngeluh. Ditanyain pelan-pelan ngerasa pusing, mual or mata berkunang-kunang nggak kala jatuh. Teteup aja ngegeleng.

Dengan kondisi muka bonyok, kemana-mana jadi malu. Jadi wiken kemaren di rumah aja, sambil ngomporin Jessie supaya nggak usah malu kalo ketemu orang. Namanya aja kecelakaan, orang jatuh itu biasa. Luka juga nggak bisa sembuh instant, walau udah ditaburin hau fung san sakti mandraguna… Jadi, kalo orang kiri kanan nanya ya dijawab aja kalo itu karena jatuh. Soalnya, anakku ini kan mentingin banget gimana dia tampil di depan orang, beda 180 derajat sama emaknya, ha…ha…ha…., jadi perlu dikomporin supaya Jessie gak berkurang pedenya.

Friday, August 8, 2008

Ujian Kesabaran

Akhir Juli lalu Matahari Dept. Store ngadain diskon gede2an di bagian sepatu anak. Nah, sepatu sekolahnya Jessie udah waktunya diganti sih, cuma masih bisa dipake. Udah kena jahit pak sol sepatu dua kali, abisnya mangap sih setelah dicuci. Terus lapisan luarnya udah mulai retak-retak. Ngenes kan ngeliatnya?

Selain sepatu butut ini, masih ada sepatu olahraganya juga sama-sama butut. Jadi, di diskonan itu, kami mencari sepatu hitam syaratnya harus bisa untuk sehari-hari untuk olahraga. Jadi, sepatu sekolah itu satu aja, nggak usah gonta-ganti. Kan jadi nggak usah mikir ini hari olahraga apa bukan. Pokoknya ke sekolah ya pakenya seatu itu.


Pusing liat sepatu koq bececeran dimana-mana, emaknya aja cuman punya satu sepatu satu sandal tinggi untuk ke pesta. Lagian ribet kalo banyak sepatu (mood ngosongin rumah lumayan masih tinggi nih).

Cari punya cari, akhirnya ketemu oke. Sekarang tinggal ngelobby kala memakainya. Sejak awal udah dibilangin kalo sepatu itu hadiah ultahnya, dibeli sekarang karena ada diskon mayan gede. Kala sepatunya belum keliatan, Jessie sih manggut-manggut aja. Begitu sepatunya udah nangkring di depan mata, keinginannya untuk langsung memakai sepatu baru muncul.

Susah payah kita menunjukkan realita supaya sepatu bututnya diabisin dulu. Jadi pas ultah cuman tinggal 2 minggu lagi, kedua sepatu bututnya bisa dengan lega masuk tong sampah. Tiap hari diitungin tinggal berapa lama lagi bisa pake sepatu baru. Tiap hari nanyain kenapa musti ditunda-tunda make sepatu barunya, orang sepatu barunya udah di depan mata, lagian sepatunya emang udah butut banget.

Bagiku, ini sarana ujian kesabaran buat Jessie. Nggak banyak momen kayak gini, menunda sekian lama untuk mendapatkan sesuatu. Namanya anak semata wayang, jadi kita juga kadang-kadang suka ngebeli-beliin dia benda disukainya. Tapi, kayaknya udah waktunya Jessie belajar bahwa menunda itu buahnya manis. Latihannya dari benda nggak urgent kayak sepatu. Besok-besok, harapanku dia bisa belajar untuk benda lebih penting, misalnya beli hp, dll.

Buat Jessie, penundaan ini rupanya bikin dia manyun. Tapi lama- lama, saking banyak aktivitasnya, lupa juga. Tau-tau udah tanggal 9, tinggal 9 hari lagi. Selama dia lupa, kita diem-diem aja. Kalo pas inget, jawabanku klasik ibu-ibu, “Sabar…sabar…sabar…”

Wednesday, August 6, 2008

Tidur Nyenyak

Sejak siang tadi, Jessie langsung tidur. Mungkin sehabis m siang dia masih bikin-bikin prakarya or baca-baca or main congklak sama aku. Tapi karena tadi kami menggan otak sapid an ayam pop di rumah m padang, begitu sampe rumah langsung ganti baju. Tau-tau udah nggak ada suara dari kamar Jessie. Kita intip, eh dia udah tidur hanya dengan pakaian dalamnya. Nggak pake bolak-balik sambil baca buku seperti biasanya.

Kalo udah gitu kita sering memandangi wajahnya. Kayaknya nggak ada kedamaian melebihi nuansa damai tersirat di wajahnya. Kenapa ya, kalo anak lagi tidur begitu, rasa sa bisa membuncah deras? Wajahnya, mungkin juga wajah anak-anak lain, serasa nggak ada salahnya. Belum lagi napasnya teratur jadi kayak musik penenang, he…he…he….! Terus, posisinya itu lho, persis seperti kala dia bayi tidur. Tangannya dua-duanya naik ke atas. Papinya bilang secara nggak sadar Jessie meniru maminya, sebab kata misua tanganku juga naik ke atas dua-duanya kalo lagi tidur. Mana kutahu…. (nyanyi dong).

Itu tuh bikin kita suka memandanginya. Kalo pas malem-malem dia udah terlelap, kita suka manggil papinya untuk menikmati wajah damainya. Kadang-kadng kami tersenyum sendiri, karena mulutnya suka mencecap-cecap. Mungkin karena pernah lama mengisap botol ya?

Alhasil, sore ini kita lonely, abis dia tidur nyenyak. Udah dari pk 13.30, sampe 17.30, belon ada tanda-tanda dia mau bangun. Padahal, kita bolak-balik melulu dari kamarnya ke depan, mbak kami juga ngepel sama beres-beres di sana juga. Nyenyaknya!

Tuesday, July 22, 2008

Kenangan 2 tahun lalu

Kehadirannya dalam keluarga kami tunggu-tunggu. Setelah empat tahun, akhirnya ia datang juga! Anak semata wa ini betul-betul fast learner. Bayangkan, ia sudah bisa mengucapkan kata-kata sejak usia 8 bulan.

Kemampuannya dalam bidang bahasa sungguh luar biasa, tetapi di bidang olahraga…., butuh kesabaran! Karena gangguan asmanya, kami sepakat untuk memotivasinya agar menyukai renang. Mula-mula dengan membelikannya kolam renang dari plastik, lalu renang di kolam anak-anak, sampai mulai mau renang bersama saya di kolam dewasa.

Semakin besar, tentulah diupay untuk renang dengan cara benar. Karena itulah Jessie kami ikutkan kelas renang. Mula-mula sih ia senang, merasa kemampuannya bertambah bisa membanggakannya kepada kakek neneknya. Masalah muncul kala ia sampai di tahap mengambil napas dalam renang gaya bebas. Nangis di kolam renang bukan sekali dua kali, sampai-sampai gurunya hanya bisa menggendongnya di samping mengajar teman-temannya. Jika sampai waktunya les renang, berbagai alasan muncul supaya akhirnya ia tidak perlu les. Lain kali jika pergi lesnya lancar-lancar, sampai di kolam renang langsung muntah.

Sebagai ibu, tidak tega rasanya melihat anaknya stress seperti itu. Hanya karena inilah satu-satunya cara supaya asmanya sembuh, saya menguatkan hati setiap kali bentuk stresnya muncul. Segala daya saya kerahkan supaya ia mau les setiap minggu, dari memberi semangat sampai janji bermain di tempat kesukaannya setelah selesai renang. Berbulan-bulan kami mengalami up and down dalam les renang. Berkali-kali saya hampir menyerah karena merasa tidak ada gunanya menunggui anak les renang jika hasilnya hanya tangisan muntah. Syukurlah tekad melihat anak ini mandiri, sehat punya semangat juang memampukan saya bertahan menjalani masa-masa tak enak itu.

Di tempat lesnya banyak anak baru juga mengalami hal serupa. Rupanya ini menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan jika dirinya sekarang sudah bisa. Sekarang ia sangat menyukai renang. Sekalipun teman akrabnya tak mau renang, ia tetap pergi les. Sekalipun hujan, asalkan gurunya ada di kolam renang, ia pasti bersikeras ingin renang. Lega rasanya berjalan bersamanya mengatasi rintangan berat dalam hidupnya.

PS: Tulisan di atas pernah kita kirimkan ke salah satu lomba ibu anak. Kemarin, kala antar Jessie les, ada anak laki-laki usia 6 tahun baru belajar renang, nangis-nangis juga. Teringat kenangan 2 tahun lalu saat Jessie mulai belajar renang.

Monday, July 21, 2008

Genap Seminggu

Seminggu lalu, Jessie memulai hari pertamanya di kelas 3 SD. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini baru hanya blus seragam putihnya, secara dua taon lalu udah butek bener warnanya. Kalo ada kategori warna putih tua, mungkin itulah warnanya, ha…ha…ha…! Tas, sepatu, peralatan tulis menulis, semuanya masih seperti dulu.

kita kagum pada Jessie adalah semangatnya. Berhari-hari sebelum ia bertanya-tanya siapa teman-temannya siapa gurunya. Jika kita sih selalu mengeluarkan metode sama yaitu mempersiapkan Jessie seolah-olah di kelas itu tak ada dikenalnya, supaya dia nggak kaget kalo memang itu terjadi. Lalu kita juga ngajarin supaya nggak milih-milih guru. Semua guru pasti udah dibekali dengan pengajaran standar, hanya gimana si anak mengoptimalkan kelebihan gurunya aja.

Hari pertama sampai ketiga, dia pulang pk 09.00, karena masih tahap perkenalan. Ternyata Jessie diajar lagi oleh guru laki-laki. Kita senang, jadi ada imbangan dengan polkita mengajar di rumah. Kan kita dominan banget ngajarin dia ini itu. Lalu kawan-kawannya juga bervariasi, campur dari kelas-kelas laen. Ada udah pernah, ada belum pernah.

Langkah penting kita tanamkan di dalam diriku adalah mengajarkannya kemandirian. Salah satunya memberday dia supaya mampu menyampul sendiri buku-buku pelajarannya, terutama buku tebel-tebel. Mungkin kita nggak sabaran, akhirnya kita sampulin semua. Tahun ini kita bertekad supaya lebih membiarkan dia berkarya sendiri.

Kita juga mulai membiasakannya belajar di sore hari, karena materi kelas 3 nggak seenteng materi kelas 2. Banyak hal butuh pengendapan, baru bisa dipahami. Mula-mula sih dia nolak abis, karena mungkin dia belajar di pagi hari. Tapi setelah kita jelaskan, Jessie mau ngerti kalo porsi belajarnya musti ditambah. Jadi sore ngulang sebentar pelajaran hari ini, besok pagi nyiapin pelajaran buat hari dijalani.

Beberapa hari lalu ia kepengen jadi ketua kelas. Kita sih santai aja, kita bilang en jadi warga kelas biasa, jadi nggak terbuang kala belajarnya. Jiwa kompetitornya tinggi rupanya agak menyulitkannya melihat hal ini. Emang dasarnya anaknya suka berpartisipasi, jadi kali dia nggak tahan kalo di kelas dia nggak punya peran. Nurun kita apa bapaknya ya? Ha....ha...ha...

Untuk menghindari kejenuhan, kita memperbolehkannya ikut lomba langen carita alias operet Jawa bersama teman-temannya di sanggar tarinya. Lakonnya lucu-lucuan, tapi digarap secara kolosal, jadi memperluas pergaulannya.

Hari ini, kita lihat semangat belajarnya terus tinggi. Tiap pagi dia ngebayangin hal-hal menyenangkan dijumpainya di sekolah, termasuk acara piket kelas. Semoga aja begitu terus di tahun ini. Yah, belajar itu habit, gampang melencengnya kalo nggak betul- betul dijaga. Apalagi buat anak seperti Jessie gampang teralihkan perhatiannya. Musti dicontohin berulang-ulang kalo belajar itu habit.

Saturday, July 12, 2008

Laste

Dua hari ahir liburan Jessie ini diisi dengan banyak kesibukan. Justru menjelang liburannya abis, baru muncul berbagai ide.


Pertama, dia mau memberi variasi pada baju boneka tangannya. Minta diajarin jahit bis untuk lengan kanannya. Jadilah, abis m malam kita ngeluarin peralatan jahit sederhana. Mulai dari memasukkan jarum, lalu gimana bikin bis nya, terus gimana nempelinnya ke boneka tangan itu. Susah sekali buat Jessie masukin benang ke jarum. Tapi begitu disemangatin diceritain masa kecilku pernah menang lomba masukin benang, langsung deh jiwa kompetitornya muncul, he…he…he… . Tiga kali masih minta bantuan. Kali keempat seterusnya udah jalan sendiri. Abis masang bis, jarum benang nggak mau dilepasin, semua kain perca dijahit-jahit ama dia. Ada di’tulisin’ namanya, ada dibikin hiasan rumput. Pokoknya meja m amburadul, penuh kain perca proyek jahitan Jessie. Kita sama papinya geli sendiri, ngeliat anak kami mendapat mainan baru. Jari-jarinya itu loh, bikin gemes: ramping-ramping lentik. Lebih lucu lagi melihat keseriusannya menjahit.


Kedua, jalan-jalan searian. Abis liat kepastian kelasnya, kami bertiga langsung menuju Amplaz. Wah, kalo ke sini bisa m 3-5 jam deh, saking nyamannya tuh tempat. Mau nonton Kung Fu Panda, saking tuh fil ngedidik banget. Dapet karcis tempat duduknya enak pk 17.30. Jadi kita m siang dulu sambil nge-net. Asyik banget surfing 2 jam koq gratis, alias m saing plus. Abis itu maen ke Timezone, ngeliat buku di Gramedia beli beberapa kebutuhan kue, kita mau praktek bikin katetong ama Jessie. Mudah-mudahan jadi, he…he…he… Ahir baru nonton, ketawa ketiwi, sampe di rumah lagi pk 20.00, dari pk 11.30, bayangin!


Ketiga, mencatat renungannya setiap hari. Nah ini agak mengejutkan aku. Dia emang ngeliat kita saat teduh, tau kalo kita melakukannya rutin, tapi dia dapet ide sendiri nyatet saat teduhnya. Kalo ditanya kenapa membuat catetan, jawabnya, “Soalnya Jessie cepet lupa, jadi mau dicatet udah diajarin.” Kita yah manggut-manggut mendukung, asal nggak cuman keinginan sesaat aja.


Hari-hari ahir sibuk mengasyikkan!

Monday, June 23, 2008

Ciecie apa Kakak?

Kita mendapat tugas supervisi lapangan ke Kartasura. Ya seneng, ya deg-degan. Seneng karena jalan-jalan adalah kesukaanku. Deg-degannya karena kita belum pernah nyetir sejauh Kartasura. Jam terbang luar kotkita baru sampe Magelang.

Teman seperjalananku juga ibu-ibu juga bawa anak perempuannya. Pertama kenalan mereka seperti anak-anak umumnya, malu-malu pengen tau. Seperempat jarak tempuh komunikasi masih sebatas tawar menawarkan makanan minuman. Mulai akrab kala temannya Jessie, Ata, minta boneka buat tidur. Ternyata nggak bawa boneka kesayangan jadi masalah juga, padahal sebelumnya udah ditanya sama mamanya: ok nggak kalo boneka kesayangannya kelupaan. Tiba-tiba kita ingat kalo tadi pagi Jessie belon nurunin boneka berang-berangnya dari mobil. Dibuat bermain sama Kezia kala nganterin Kezia pulang. Jadilah mereka bermain boneka-bonekaan.

Di tengah serunya bermain peran, Jessie nyebut dirinya Ciecie, terus Ata terdiam bingung. Jadi keluar deh pertanyaan begini, “Lhoh, kamu manggil kita apa ya? Ciecie apa kakak?” Spontan kita lagi nyetri sambil iauber-uber bus antarkota tertawa terbahak-bahak. Bingung juga akhirnya anakku ini.

Dari kecil kita membias Jessie memanggil orang lebih tua dengan sebutan kakak. Ini untuk mengantisipasi kalo dia bertemu dengan orang dari berbagai suku bangsa, kan udah terbiasa dengan panggilan dimengerti semua orang. Lalu, dia sekolah kebany keturunan Tionghoa. Panggilannya mulai bervariasi. Dia mulai mengenal panggilan Ciecie, artinya kakak perempuan. Kadang-kadang muncul dialek Hokiannya dengan menyebut dirinya Cici, artinya juga kakak perempuan.

Sekali ini dia bertemu dengan temanku punya suami berdarah Jawa. Otomatis panggilan di rumahnya kakak. Tapi kita merasa Jessie belum terbiasa dipanggil sebegitu sering dengan, “Kak, kita pura-puranya maen tarik tambang yuk?” “Kak, nanti kalo kita namain bonekanya si Cimut boleh nggak?” “Kak….” “Kak….” Selama ini kan dia manggil kakak ke orang lebih tua.

Sekali ini dia jadi kakak. Sebuah pengalaman unik buatnya semoga bisa memperkaya nuansa jiwanya.

Friday, June 6, 2008

Eksplorasi Bakat Anak

Beberapa hari lalu, kawanku sms, bunyinya,” Masuk tivi koq nggak ngajak-ngajak? Ha…ha…ha…” Terus terang kita kaget, soalnya nggak berasa menghadiri event tertentu cukup signifikan buat dimasukkan ke berita tivi. Siang harinya, kala kita ke rumahnya baru deh diceritain jika kita Jessie ada di berita pagi Trans7. Katanya kita di shoot lagi duduk-duduk santai, lalu Jessie datang membaw pizza buatannya. Wah, itu peristiwa setahun lalu, pas liburan kenaikan kelas, sehabis kita dari Jakarta. Itu salah satu ekplorasi bakat Jessie. Siapa tau dia bakat masak, walopun kita nggak. Jadi kita ikutkan children cooking class di Novotel.

Kita memang sedang eksplorasi bakat anakku. Tau sendiri kan, kala kita kecil ortuku mana sempet mikirin bakat anaknya. Kadang-kadang belajar aja nggak sempet ditungguin, soalnya kami berempat. Jadi, ini semacam perbaikan masa kecil, supaya masa kecil Jessie dijalani dengan pengalaman kaya.

Pertama kali kita cobain ke nari. Sejak umur 2 tahun dia udah kita ajak ke sanggarnya Didi Nini Thowok. Kira-kira 3x datang tangan kaki mungilnya mulai bergoyang-go mengikuti irama gamelan. Hanya saying, terputusa karena dia masuk Kelompok Bermain siang hari, jadi abis sekolah udah lelah. Kala itu rumahku di ujung dunia, jarak ke tempat nari kira-kira 20 km. Untuk ukuran Yogya, segitu tuh jauh banget. Narinya nyambung lagi sejak umur 4 tahun sampai sekarang. Apakah Jessie berbakat nari? Mungkin ya, karena mamkita mudanya penari ballroom, lhoh…jauh banget linknya? Ha…ha…ha…! Mungkin juga nggak. Bakat itu muncul karena dia rajin berlatih di rumah di les, lalu sering diajak pentas sama sanggarnya. Memang keliatan sedikit lebih karena jika denger musik, mungkin Jessie langsung go merancang ger tari.

Selaen itu kita nyobain dia maen piano. Lesnya sih piano, tapi alat di rumah hanya keyboard buatan China 200 ribu. Kita kembalikan ke prinsip, penting kemampuan, bukan alat. Kalo Tuhan kasih rejeki lebih dia memang seneng musik, barulah direncan beli alat musik standard. Sekarang ini latihan musik di rumah masih harus didorong-dorong. Tapi kita sadar kalo itu invest jangka panjang. Lhah iya lah, mana bisa jadi seperti Purwa Caraka dalam kala 4 tahun? Jadi, masih tanda tanya juga, namanya juga eksplorasi. Hanya kita pikir bermain alat musik itu penyaluran bagus buat Jessie, typically sanguine.

Di bidang olahraga kita ‘maksain’ dia renang. Bagus buat asmanya renang itu olahraga paling kecil risiko kecetit ototnya, karena otot jadi lentur di dalam air. Susah payah juga sebelum dia mencintai renang. Kami turuti jika dia harus beli peralatan renang nggak murah. Supaya gerakannya bisa oke.

Pendek panjang, eksplorasi bakat anak butuh kesabaran, kemauan coba-coba kejelian melihat golden age nya. Kalo nggak, jadilah dia seperti generasiku nggak diapa-apain ortu akhirnya hanya menjalani rutinitas. Generasi penerus seyogyanya sih lebih bagus lebih adaptif.

Monday, June 2, 2008

Diskusi Siang

Suatu kali wkita kita Jessie m siang, tiba-tiba muncul sebuah topic diskusi kita pikir penting buat dia. Di rumah itu, kalo lagi cerita-cerita ada satu nama selalu muncul. Hampir tiap ari Jessie nyebut nama dia. Nah, pas m siang itu dengan setengah berbisik (padahal di rumah ya cuma ada kami berdua) dia berkata begini, “Mam, katanya Y itu anak angkat lho!”

“Jessie tau darimana jika dia anak angkat?”

“Soalnya papanya kan lagi operasi mata, jadi jemput Y itu mamanya.”

“Terus, kenapa? Kan itu memang mamanya?”

“Iya, tapi laen banget sama Y. Lagipula, temen-temen bilang koq kalo dia diambil dari panti asuhan…”

Kita pengen kejelasan apakah dia melihat keberbedaan Y dari orangtuanya sebagai faktor membuatnya mengambil kesimpulan jika Y itu anak angkat, tapi nggak tega. Rasanya seperti membongkar sendiri fondasi kita tata dengan susah payah. Fondasi itu antara lain jangan memandang orang dari warna kulit, agama or budayanya. Maksudku, janganlah bersikap diskriminasi kepada siapa pun terhadap apa pun. Temennya Jessie ini memang berbeda sekali dari orangtuanya, otomatis melahirkan pertanyaan jika melihat mereka berjalan bersama.

Lalu kita melanjutkan diskusi kami, “Emang kalo dia bener anak angkat, kenapa Jess?”

“Ya nggak apa-apa, tapi gimana gitu lho!”

“ penting kan dia disayang? Ada koq anak kandung tapi nggak disayang?”

“Apa Mam, contohnya?”

“Ya anak kandung tapi nggak dirawat. Dibiarinin aja mau ngapain sesuka hatinya. Mau belajar boleh, nggak mau sekolah juga boleh. Mau m boleh, nggak mau m juga boleh. Kayak- kayak gitu contohnya.”

“Misalnya kalo mau beli maenan disuruh pake uangnya sendiri, gitu?”

“Bisa juga. Tapi kalo gitu kan untuk mendidik anaknya supaya nggak boros, bukan tanda nggak disayang. Nggak disa itu lebih kepada disia-siakan, ditolak, nggak diinginkan keberadaannya, dibenci.”

Sampe di situ diskusi kami berhenti, soalnya m siangnya udah selesai. Kita bersyukur topic ini muncul, jadi Jessie bisa tau kalo status anak angkat itu nggak apa-apa bukan sesuatu hina. Banyak kan orang mengangkat anak karena sebab-sebab mulia, bukan hanya karena pengen keturunan. Hanya saja, di Indonesia kebany orangtua angkat menyembunyikan status anaknya bukan anak kandungnya. Lain sekali di Amerika, mereka dengan terbuka menjelaskan jika mereka adalah orangtua angkat. Kita oernah baca kisah seperti ini di Femina, tentang orang Amerika mengangkat anak dari China. Itu sih jelas banget deh bedanya. satu pirang, anaknya sipit. Tapi karena keterbukaan kasih saying sangat besar dalam, kenyataan itu tidak menyakitkan. Jika ditutup-tutupi memang melahirkan prasangka buat si anak angkat.

Thursday, April 24, 2008

Di Balik Layar

Kata pentas jadi akrab nih sama aku. Kalo kita sendoro sih pentasnya bisa diitung nggak lebih deh dari lima. Ini berkaitan dengan si Nona.

Andaikata nih jadwal pertunjukan pk 11.30, dia udah musti standby di sanggar tari sejak pk 06.30. Lama bener? Nah, kalo itu pastinya berhubungan dengan tata rias. Sejak pertama bergabung mulai pentas sana pentas sini, soal gerak tari sih nggak ada review ulang sebelum pentas. Lamanya persiapan itu semata- mata karena berdandan.

Kalo pas narinya biasa-biasa, dari rumah udah diminta pakai bedak dasar. Paling nggak foundation bedak. Tapi, kalo tarinya membutuhkan riasan khusus, kayak tari kelinci, riasnya semua dikerj di sanggar. Mungkin satu anak membutuhkan kala 30 – 40 menit untuk berhias. Dan, nggak sembarang orang boleh pegang riasan, karena itu menentukan tampilan si penari. Kalo lagi ngerias Jessie ini namanya Pak Hendrid, ciamik punya deh riasan dia, halus jadinya.


Karena kekhususan itu, makanya kalo ada enam penari, tinggal dikaliin aja tuh. Kira-kira 2 jam untuk dandannya aja. Belum pake kostumnya lama perjalanan menuju tempat pentas. Mending- mending kalo sampe di sana langsung naek panggung. Pernah kejadian Jessie harus menunggu 3 – 4 jam sebelum akhirnya naik panggung.

Jadi, selaen rias di sanggar, ada kru bertugas bawa alat rias ke tempat pentas, untuk perbaikan sebelum akhirnya mentas.

Kalo capek lelah kayak gitu, ngapain capek- capek ikut di sanggar tari? Mendingan di rumah nonton tivi apa jalan- jalan. Nah, balik lagi ke panggilan hati. Bicara soal ini, Jessie sangat menikmati saat-saat sebelum pentas. Ada aja diobrolin sama temen-temennya. Walaupun kita tahu, kadang- kadang dia harus tahan kalo udah sampe riasan mata or riasan rambut. Kalo pas nggak kebeneran ya…. sakit. Sebagai ortu negdampingin, kita menjumpai kekerabatan erat di antara orangtua sesame penari. Karena sering kumpul bareng makanya jadi kenal. kami menganggap ini latihan kehidupan sangat bagus buat Jessie. Dengan begini dia langsung praktik hidup di masyarakat heterogen, tidak didapatnya di sekolah. Dengan begini juga dia belajar artinya kerja tim, karena dia selalu menari di dalam kelompok. Dia juga bisa belajar sabar kala menunggu jadwal pentas, mengantri riasan antri memakai kostum. terpenting dia belajar bahwa berbeda itu sah- sah aja nggak ada salah dengan perbedaan. Bahasa ilmiahnya sih memahami individual differences, ha…ha…ha…

Sebelum pentas memang penuh dinamika, kami harapkan bisa memperkaya nuansa jiwa Jessie. Terus maju ya, Nak!

Friday, March 28, 2008

All Round

Pagi ini kita meras betul manfaat pelajaran di SMP dulu betul-betul nggak kita sukai. Paling sebel pelajaran musik. Abis, nggak cuma teori tapi juga praktik bikin tangga nada dengan bermacam-macam kunci, nyanyi bahasa Latin sampe maenin alat musik. Tapi yah… alat musik anak sekolahan zaman dulu kan hanya pianika suling plastik. Ya ampun, itu aja kita lupa namanya. Ujian akhirnya pilih lagu kebangsaan terus diubah nada dasarnya. Apa nggak puyeng tujuh keliling. Gak cukup hanya itu, musti dihias ditempel di karton tebal. Kalo ini kita gatot, lhah nggak ada bisa musik di keluargaku. Babe bisanya megang suntikan, nyak bisanya jahit, ha…ha…ha…


Pagi ini Jessie kebingungan ngerjain peer les pianonya. Dia diminta bikin nada ¼ nada 1/8 sebanyak 5 soal. Bingunglah dia. Di sini nih kita ngerasa manfaat dulu pernah belajar musik beneran di sekolah. Jadi, kita ajak dia lihat lagi apa diterangin sama guru lesnya, terus kita ajarin deh gimana ngeletakin tuh toge-toge pake bendera.


Wualah, jadi ibu nih butuh upgrading terus. Kalo nggak abis anggaran belanja buat les ini itu. Terus, anaknya juga gak pede, kalo pas nggak ngerti di pelajaran nyaknya cuman lola lolo gak ngerti apa-apa. Bukan cuman musik kita harus menggali ingatan, tapi juga belajar tulisan mandarin/ hanzi. Nah, ini kita sangat terbantu dengan les mandarin untuk ortu murid diselenggar sekolah anakku. Jadi, kita ngerti basicnya gimana urut-urutan nulis satu karakter/ hanzi nya. Kalo nggak? Babak belur deh si Jessie


Itu bagian pelajaran. Bagian olahraga kayak mukul bola kasti, maen basket ato maen biliar dll.nya, urusan bapaknya deh. Jadi adil pembagiannya, kalo nggak bisa kecetit nih. Ha…ha…ha…

Friday, February 1, 2008

Narsis

Narsis ternyata menjangkiti si anak semata wayang. Jessie seneng sekali kala diwawancara wartawan Kompas. Itu juga kejadiannya tak dinyana. Jadi, seperti kebiasaannya selama 4 tahun ini, setiap Kamis dia les menari. Kalo telat dikit, bisa mcc alias mencucu alias mancung bibirnya.


Sebelon berangkat les, dia masih latihan tari terbarunya, Pak Pung. Begitu nari, lupa deh dia sama sekelilingnya. Heran juga kenapa dia jadi seneng nari. Kata emanya, nurun dari dia. Mamkita emang doyan dansa. Bayangin aja, di tahun 50-an, setiap pesta ulang tahun, mesti ada dansanya, tak peduli betapa kecil rumah empunya pesta. “Darah” itu rupanya nyampe ke cucunya ini.


Bedanya, cucunya nari tradisional kreasi baru di sanggarnya Didik Nini Thowok, emanya dulu ballroom dance. Pertama-tama dia les nari, emanya protes melulu. Katanya bagusan ballroom dance, daripada tari tradisional. Cuma kan hil mustahal anak umur 4 ikut ballroom dance? Jadi, teruslah dia menari di Natya Lakshita, sampe sekarang.


Lagi asyik-asyiknya nari, tiba-tiba ada dating langsung memotret anak-anak lagi nari. Kami, ibu-ibu nungguin anaknya nari, Cuma melirik aja. Paling-paling buat dokumentasi sanggar, piker kami, ngobrol jalan terus, he…he…he…! Setelah tarian selesai, tiba-tiba si pemotret ngedatengin kita memperkenalkan dirinya sebagai wartawan Kompas. Lalu diajukanlah berbagai macam pertanyaan, seperti: sejak kapan anaknya menari di sini, kenapa diajak ke sanggar ini, selain tarian tradisional ikut tari modern lainnya nggak, apa harapannya dengan mengikut sert anaknya menari di sini. Setelah Jessie gabung, dia juga ditanya-tanyain.

Di sini narsisnya mulai mengejawantah alias kumat.


“Kak, ini mau dimasukin ke tivi ya?”


“Bukan, Kakak dari Kompas.”


“Ooo…, jadi nanti kita dimuat di Kompas? Kompas Yogya? Berarti, terkenal dong ke seluruh Yogya Indonesia?” (kita mulai merah ijo mukanya, buset deh!)


Belum selesai, sampe di bawah kala ketemu temen-temen narinya, dia bikin pengumuman, “Eh…eh…, kita mau dimuat di Kompas lhoh?” (aduh…aduh… piye iki?)


Nggak cukup, ternyata. Sampe di rumah sahabatku, sekali lagi Jess pengumuman,

“Tante…, Tante…, langganan Kompas kan ya? Besok pagi, liat ya , ada kita di sana.”


“Lho memangnya kenapa koq sampe masuk Kompas?”


“Tadi kita diwawancara sama wartawan Kompas abis nari.”


“Ooo…”

Sekali ini kita pasrah deh ngeliat anak semata wa narsis abizz!

Kala mau tidur malem Jessie nanya gini, “Mam, emang kita narsis ya? Bagus nggak gitu? Boleh nggak sih? Mami narsis nggak?”

Nah, begini nih punya anak ceriwis. Jadi inget papinya suka komentar gini kalo kita udah ngeluh betapa bawelnya Jessie, “Lhoh! Mami mau punya anak cerdas apa dongok?”

Skak Mat!!!!!!!!

Search This Blog