Showing posts with label Me. Show all posts
Showing posts with label Me. Show all posts

Sunday, July 8, 2012

Bolu Bawean

Kadang-kadang kita suka inget seolah-olah di udara tercium aroma Bandung. Itu kangen kali ya namanya? Ha...ha...ha...!

Salah satu bikin kita kangen Bandung itu bolu Sweetheart. Zaman kita di sana, sekitar 1982-1985, bolu ini sangat terkenal, karena rasa rumnya sangat kuat. Kita mencicipi pertama kali saat ada mengantarkannya ke rumah di Pasir Luyu, Buah Batu, itu.

Sejak itu kita tergila-gila sama bolu Sweetheart, tapi ya nggak bisa sering-sering makan, karena harganya selangit. Kala itu Papa kan studi S2, jadi tahu sendiri lah.

Lebaran teman lamkita dari Bandung datang. Entah dia baca di fb or feeling aja kalo kita suka bolu ini, tiba-tiba paket datang dari Bandung. Guess what?.....Bolu Sweetheart, tapi sekarang udah ganti nama jadi bolu Bawean, kali karena mengikuti nama jalan. Kala di sms, kita pikir satu sloaf aja, nggak tahunya dua sloaves!!! Masih ditambah satu pack brownies dua pack bagelen keju. Wah...., ini bukan cuma pucuk dicinta ulam tiba tapi mak nyuss!

Jadi, hari ini sarapan bolu Bawean dengan kopi hangat. Jessie juga ikut-ikut sarapan bolu dengan susu Ultra. Sarapan gini emang cocok buat pagi-pagi sekitar 03.20, ringan ueeenak.

Thanks ya teman buat perhatiannya.

Sunday, July 1, 2012

Diglot

Ulang tahun kali ini ada hadiah istimewa dari sahabat keluarga kami, sebuah Alkitab diglot. Kado ini se mengukuhkan keseriusanku untuk memelajari teologi.

Jangankan orang lain, bapakku aja bingung kala kita beritahu jika sekarang kita kuliah teologi. "Emang mau jadi pendeta, kuliah koq teologi?" Nadanya biasa lah, agak-agak bernuansa kolong walau udah purna bakti sekian tahun lalu.

Pertanyaan kenapa itu terus mengikutiku setelah kita mendengar khotbah Pdt. Rudy Budiman di GKI Taman Cibunut, hampir seperempat abad silam. Kala kita cerita ke Papa kalo mau masuk teologi, Papa nggak bisa tidur. Dia berpendapat teologi itu ilmu abstrak nggak bisa buat hidup. Lalu kita disarankan masuk ke fakultas agak-agak mirip teologi. Jadilah kita ke psikologi.

Tahun-tahun berlalu, tapi keinginan itu terus bercokol di dalam hati. Sampai, kita berani menuliskan resolusi tahun 2006 untuk sekolah theologia. Tapi, setelah menulis resolusi itu, hambatannya makin menjadi-jadi, mulai dari biaya, waktu, multiple task sampai niat.

Tahun ini, kita dapat cukup banyak dividen usaha, cukup untuk biaya kuliah satu matkul satu semester. Cepet-cepet deh kita mendaftarkan diri melunasinya. Biasa ibu-ibu, ada uang sedikit larinya ke seprei apa kuali, ha...ha...ha...! Jadilah kita kuliah lagi.

Nah, di ulang tahunku ke 43 ini kita dihadiahkan Alkitab dwi bahasa: Indonesia - Ibrani. Bacanya aja kayak buku Jepang, dari belakang. Lalu bahasa Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, seperti bahasa Arab. Cuman kita belum ambil tuh matkul Ibrani, paling kita deketin dulu aja dosennya, supaya dikasih kunci-kunci untuk mengetahui huruf tulisannya.

Resolusi 2006 terwujudkan di 2009. Sekarang, kita mau bertekad ah supaya selesai di tahun 2016, pas di ultahku ke-50. Semoga dikabulkan ya?

Wednesday, June 20, 2012

Apa Bisa?

Satu hal tak pernah kita impikan adalah menghadiri reuni. Apa pun kelompok reuni mengundang aku, dengan entengnya kita menolak hadir. Bagiku reuni itu hanya pekerjaan buang-buang kala mengenang-ngenang masa lalu, koq seperti nenek-nenek or kakek-kakek duduk di kursi go tinggal tunggu waktu, sementara dunia berjalan progresif cepat.

Tapi asumsiku itu berubah setelah bertemu banyak teman lama di jejaring sosial. Karena ada fotonya, kita terbantu untuk mengingat. Tapi jujur aja, memori 30 taon lalu (kira-kira kita SMP) or kala kita SD banyak hilang. Apalagi, kalo nama-namanya mirip-mirip-mirip, nah sel abu-abuku harus kerja ekstra keras.

Lebaran tahun ini kita nggak kemana-mana karena tiba-tiba aja kita malas bepergian. Tahun lalu, begitu antrian karcis KA dibuka, kita ikutan ngantri mau ke Jakarta lawan arus. Tapi tahun ini kepikir juga nggak untuk ke tempat-tempat jauh, deket-deket mungkin kami rencan jika ada 2 hari libur berturut-turut, juga nggak masuk pikiran samsek. Nggak kepingin aja pergi ke Solo, seperti biasanya, or ke Magelang, or lainnya.

Kamis or Jumat minggu lalu, teman se kost ku dulu tiba-tiba sms ngajak ketemuan. Dia mau ke Yogya. Kita menjemputnya di bandara Minggu pagi. Siangan dikit teman se kost ku dari Solo juga dateng, wah tambah seru, karena anak-anaknya seperti mimpiku dulu, empat! Karena mereka belum punya tempat menginap, kita telponin deh temanku punya guest house di belakang seminari Kentungan. Begitu kamar dinyat ada, kita langsung antar mereka ke sana. Ternyata .....is so sweet. Kita nggak cuman ngomongin "Inget nggak dulu..." tapi juga masa kini ke depannya.

Jumat minggu ini teman-teman dari masa kuliahku datang. Kalo ini kita gamang betul. Temen se kost sih relatif mudah mengikuti arah pembicaraan, kalo temen-temen kuliah itu kita agak susah ngikutin. Nyesel juga dulu kita kuliah hanya untuk kuliah. Ruang gaulku di tempat lain. Jadi, kita hanya berhandai-handai jika ketemu di ruang kuliah. Kadang-kadang kita lupa samsek, ini orangnya mana ya? Kala ada telpon kita bulan lalu, kita harus segera merecall memoriku karena nggak ada nama seperti itu di antara teman-temanku sekarang. Begitu dia bilang psikologi, baru deh kita nyantai. Ada sih kita langsung akrab, tapi sangat sedikit dibanding lainnya kita hanya tahu namanya aja.

Memang jejaring itu mengakrabkan kami, tapi apa bisa nanti kita langsung nyemplung ngobrol? Apa bisa kita nggak cuman diem sambil senyam-senyum, seperti biasa kita lakukan jika bertemu orang baru? Apa bisa kita nimbrung di 'kerjaan perempuan' pada umunya bicara soal baju, mengurus anak, or urusan dapur? Sementara dunikita sekarang ini agak maskulin, penuh dengan rapat, dll. Apa bisa nanti kita nggak canggung berakrab-akrab sementara sel abu-abuku tak mau diajak kompromi? Apa bisa...apa bisa...apa bisa....???

Saturday, June 2, 2012

Menata Hati

Hari berganti hari, begitu juga suasana hati. Ada seorang teman mengibaratkan hati itu harus dipelihara, jika nggak banyak angin dapat memporak porandakannya. Bener juga sih, karena secepat perasaan senang datang, secepat itu pula rasa tertekan diam-diam menyelinap.

Kayak perasaanku hari ini. Hari ini kita baru terbebas dari tekanan darah rendah nyebabin kepala kliyengan membuat malas melakukan segala sesuatu. Kita memulai hari dengan hati gembira penuh harapan. Tapi, secepat itu juga berita sakitnya kawanku semasa mahasiswa menggayuti relung hati. Langsung cahaya hatiku meredup pelan-pelan. Kita sangat sadar hal itu berusaha sekuat tenaga melawannya, agar hatiku tetap ceria. Tapi perasaan tertekan itu terus mengikutiku ke mana-mana, padahal jalanku lumayan jauh hari ini, hampir 60 km putar-putar seantero Yogya, ujung ke ujung.

Akhirnya sore ini kita menerima perasaan itu menata ulang suasana hati. Kalo nggak gitu, bisa porak poranda beneran. Kita hanya bisa berdoa supaya Sumber Sukacitkita menjagai hatiku sehingga mendung itu tak merembet ke mana-mana.

Tuesday, May 29, 2012

Buah Siwalan

Tadi kala lagi ngerundingin mau ke mana, tiba-tiba misua ngelihat buah siwalan di pinggir jalan Magelang, dekat Indo Grosir. Langsung deh kami bertekad membawanya pulang.

Buah ini jarang sekali ada di Yogya. Jika penjualnya ditanya mesti dijawab bahwa datengnya dari Tuban. Kita sih taunya buah ini banyak bertebaran di Semarang, mungkin karena deket pantai ya?

Nah, awal kita senang dengan buah ini itu dari masa kecil di Kupang. Kami sering piknik ke pantai. Zaman 70-an ke mana lagi menghabiskan hari Minggu jika bukan ke pantai? Di sana kita sering dibelikan buah itu sama papa. Kadang-kadang sama air tuaknya.

Semasa pulang ke Kediri pas mahasiswa kami jalan-jalan ke Surabaya, jika ada siwalan ini, pasti deh berhenti minum juga tuaknya.

Di Yogya memang jarang, tapi sore tadi buah itu muncul segerobak. Langsung deh beli. Misua kupasin buat kami. Airnya dimasukkan ke kulkas diminum dingin-dingin. Kalo nggak salah sih buah ini masih kerabat dekat kelapa. Buahnya kecil, di dalamnya ada lembaga buah. Nah, lembaga ini harus dikupas pelan-pelan untuk dilepaskan dari kulitnya. Rupanya bening kenyal. Jika digigit, keluarlah airnya terasa segar di mulut manis. Nggak pernah bosen kita kalo ketemu buah ini. Hmmm....

Sunday, May 13, 2012

Pengalaman Baru

Sebulan lalu, aku, misua adik iparku berbincang-bincang soal pekerjaan sampingan, cocok untuk full time mom or nggak mengganggu pekerjaan utama. Selama ketemuan keluarga itu, pembicaraan intensif dilakukan terus, di kolam renang, di lobby hotel, di mobil, di segala tempat deh. Maklum, ketemuan kayak gini bisa diitung pake jari, karena kerjaan misua repot sekali, jarang-jarang ada kala senggang di Jakarta.

Pulang dari sana, termotivasi malah aku, tadinya sih kita cuman ngedengerin aja. Jadi, kita set up semuanya deh. paling susah itu nentuin produk dipamerin di tokoku. Kalo kelengkapannya relatif mudah walau jalannya panjang.

Adalah suatu ketepatan. Pas ngumpul sama ibu-ibu kala nungguin Jessie les tari, ada salah satu kawanku bercerita tentang usaha sampingannya di Yogya di Bondowoso. Barang Yogya dia jual ke Bondowoso sebaliknya. Tiba-tiba dia nyeletuk soal craft, bagaimana dia memaketkan berkarung-karung craft bolak-balik ke dua kota tersebut. Akhirnya, kita janjian deh sama dia ke suplier craft di desa pinggiran Yogya.

Selaen itu, kita teringat salah satu temanku memang punya sentuhan etnik di karya-karyanya. Kita ke rumahnya, ngomong sana sini, lalu dia mau jadi suplierku untuk home decor.

Kita merasa kedua jenis barang itu cukuplah untuk sementara, kecuali jika ternyata bisa berkembang lebih jauh lagi, baru dicarikan suplier lainnya.

Kalo kita renung-renungkan kenapa mau mencoba hal baru ini, padahal kegiatan udah seabreg-abreg, ya karena curiousity itu. Nothing to loose kan kalo untuk mencoba. Semua kan made by order. Lagian, dari kegiatan ini kita juga bisa menabung untuk biaya kuliah semester depan. Semester ini kita hanya ambil satu mata kuliah karena untuk in reiyen setelah lama nggak masuk kampus. Kalo berhasil, semester depan bisa dua mata kuliah, itu berarti kita harus nyiapin sekitar tiga jutaan. Nah, jangan sampai asap dapur nggak ngebul karena ngeberatin biaya kuliah, jadi harus ada usaha lainnya.

penting ada keseimbangan. Mudah-mudahan kita dimampukan Tuhan menyeimbangkan semua: keluarga, pelayanan, pekerjaan pengembangan diri.

Friday, May 4, 2012

24Tahun Lalu

Kalo diinget-inget 24 taon lalu, kita menginjakkan kaki di Yogya. Begitu turun langsung nginep di Hotel Merdeka, sekarang Phoenix Hotel.

Soal kota sih kita nggak terlalu kaget, karena biasa pindah kota, soal bahasa bikin kita mabok kala itu.

Mabok pertama tuh kala beli m di warung ijo Jl. C. Simanjuntak. Penjualnya tanya, "Pake ikan nggak, Mbak?" Spontan kita mencari-cari mana ikannya, karena di situ adanya aym goreng empal. Kita geleng-geleng, jadilah pagi itu kita m sayur kacang ijo pedessss banget. Lama-lama, dari percakapan sehari-hari kita baru tau kalo dimaksud 'ikan' itu segala macam lauk berjenis daging. Mau ayam, may sapi, mau kambing, mau ikan beneran, semua disebut ikan. Hebring euy...

Mabok kedua kalo diterangin jalan pake arah mata angin. Wah, kalo ini kita mabok beneran. Abis orang-orang di Yogya kalo disuruh ulangan mata angin gitu, nilainya A+++ kali. Dengan pengetahuan kiri kanan, sekarang harus belajar mencerna mana barat, mana utara, mana timur, mana selatan. Kalo kita cari penjelasan kenapa sih nunjukin jalan koq pake barat timur segala, kan jadi pusying. Kita selalu dapet jawaban, "Supaya nggak perlu tanya jalan itu dilihat dari arah mana. Barat ya barat, dst.nya." Kita menikmati petunjuk arah ini setelah tiga tahun berdomisili di sini. Kita juga belajarin tuh barat timur dkk dalam bahasa Jawa. Tapi tau nggak, kalo ditanya mau ke mana sama pak parkir kantor pos di dekat sekolah anakku, amannya kita tunjuk aja arahnya. Jadilah si Bapak tersenyum-senyum maklum sama pengunjung setianya ini.

Mabok ketiga, soal rasa makanan. Wah, kalo ini jasa sambel botol amatlah besar. Kita kan jarang, nggak pernah malah, m manis-manis, terutama sayur. Di sini sayur bayam (nama kerennya sayur bening) itu manis, sayur asem ya juga manis. Terpaksa kita membubuhi sambel botol biar ketelen. Lama-lama bisa menikmati juga sih. Cuman...kenapa kuah soto selalu cair bening, itu kita belum bisa nikmati sampai sekarang. Kita heran kalo ada seneng banget m soto. Penyuka soto juga heran kali ya liat kita gak suka soto, ha3.

Dua minggu lalu, ada kawanku datang ke Yogya. Dia datang dari Padang. Suatu kali beli jajan ke pasar Kranggan. "Bu, ini apa namanya?"

"Getuk, Mbak."

"Jika ini?" (sambil menunjuk penganan di sebelahnya)

"Podho, Mbak." (maksud ibu penjual ya sama saja getuk, mungkin berbeda warnanya)

"Ya sudah, beli getuknya satu, podhonya satu." (si ibu terbengong-bengong sambil tetap melayani kawanku ini). Di kemudian hari baru kawanku tahu bahwa podo itu artinya sama, bukan jenis or nama penganan. Malunyaaa....

Ini termasuk culture shock kali ya? Tapi, abis shock itu terus jatuh cinta sama ketenangan Yogya, hingga 24 tahun kemudian, kita masih aja betah di sini.

Monday, April 25, 2011

Kurang Sabar

Pagi tadi, sepulang berburu tiket nonton gratis film Perancis, kita terjebak kemacetan di Jl. Magelang. Jalan utama rumahku ini memang menjadi distrik perdagangan tersibuk besok-besoknya. Kemacetan itu karena di Jamal ada truk Kubota mau masuk keluar dari pabrik. Namanya juga truk, ya nggak bisa lah sekali belok langsung jadi.

Tiba-tiba, ada semacam SUV baru berwarna hijau pucuk daun nyelip di belakang truk, padahal Satpamnya udah nyetopin semua kendaraan. Entah daya ba ruangnya minus or karena ketak sabarannya menunggu kemacetan itu selesai or karena sebab-sebab lain, usahanya menyelip itu diteruskan. Alhasil, mobil barunya itu menghantam pembatas jalan....penyok deh bemper depan bawah.

Kita dari arah berlawanan sampe terkagum-kagum ngeliat usaha bapak ini nyelip. Sa banget mobilnya baru tapi stylenya nyetir kayak sopir angkot. Dan, nyetir ini mending-mending masih muda terkenal berdarah panas, ini nggak, udah stw. Coba sabar dikit, kan nggak menodai mobil baru.

Dari sini kita kembali diingatkan supaya lebih bersabar dalam berlalu lintas, apalagi di Yogya, terkenal karena pengendara motornya seperti nyamuk: dari kiri bisa belok kanan tiba-tiba, or kita udah kasih tanda mau belok kiri, teteup aja tuh motor nerabas dari belakang untuk arah lurus. Selain itu kita juga belajar bahwa gaya menyetir mencerminkan kepribadiannya. Gimana sih orang grusa-grusu bisa sabar menghadapi orang lain?

Pelajaran berharga hari ini.

Thursday, July 30, 2009

Heboh Pagi

Seharian sangat melelahkan. Secara fisik lelah, tapi benak juga lelah karena mikirin cari nama, Gara-gara itu diskusi intensif dengan adik iparku sampe lewat tengah malam, pagi ini kita kesiangan. Kalo Jessie nggak bangunin, mungkin kita bisa tidur sampe siang, kali.

Bangun-bangun udah pk. 05.20, padahal mungkin kita bangun paling laat pk. 05.00. Cepet-cepet kita siapin bagelen buat sarapan Jessie, masak air panas. Selintas kita denger Jessie belajar Mandarin. Dalam hati kita khawatir, "Piye, belajar cuma 20 menit, apa nyantol?" Tapi kita diem aja, karena kalo kita tanya nanti dia tambah panik. Lalu kita bantuin dia nyusun buku pelajaran hari ini, alat tulisnya. Lalu tanya-tanyaan Mandarin sama dia, mana pelafalanku kan nggak good, jadi susah juga. Akhirnya kami selesai pk 06.25. Cepet-cepet mandi, berpakaian, berangkat deh. Puji Tuhan, misukita bisa dapetin rumah dekat sekolah, jadi 15 menit paling lama, udah nyampe sekolah. Sesampainya di sekolah, belum banyak mobil parkir, berarti banyak juga kesiangan, kirain cuma sendiri...

Pulang nganter, kita beli sarapan di Bu Joyo. Pulangnya dari situ rada ribet. Udah ada kali dua bulanan ini di Jl. Magelang itu lajur kiri buat motor. Berarti kita kan harus masuk jalur kanan, karena warung Bu Joyo di kiri jalan. Nungguin laju motor sepi itu lama, karena banyak orang menuju kota di pagi hari. Udah bisa masuk, problem muncul lagi kala mau masuk ke gang rumahku juga di kiri jalan, karena nggak jauh sebelum gang ku itu ada polantas berdiri di atas podium kecil untuk mengarahkan agar motor berada di jalur kiri. Akhirnya kita nyalain sign agak jauh dari depan sambil melanin laju mobil. Pelaaaan...banget, sampe motor di belakangku masih agak jauh, barulah kita belokin si Mumun ke gang.

Bener-bener heboh pagi ini. Bangun kesiangan sih, ha...ha...ha...

Tuesday, June 23, 2009

Kesempatan Terakhir

Kita senang sekali mendapat telpon dari sahabatku, Sr. Anna, PK. Ini sahabat by accident, karena kita mengantarkan buku pesanannya saat masih di Kediri. Lalu, suatu kali kami sekeluarga berlibur Jessie kami ajak mengunjungi Sr Anna di biara. Kala itu Jessie masih kecil, umur 4 tahun. Kami mengajaknya supaya ada bandingan nyata dengan biara di fil Kakak Maria (maksudnya The Sound of Music).

Sejak itu persahabatan terus terjalin. Sr Anna juga menolongku menyampaikan bukuku ke tangan para remaja binaannya. Nggak nyangka kita jika bahasa remaja di bukuku itu bisa diterima Sr bahka dibantu untuk menjualkannya. Wah, itu pertolongan besar buat penulis pemula. Jika bukunya diserap pasar 1000 eks mendadak sontak, keba kan sukacitaku? Tapi bagiku bukan nilai komersialnya penting, tapi isi buku itu bisa memperkaya jiwa remaja, apalagi Sr Anna membantu menyampaikannya dengan cepat ke tangan tepat.

Kami masih bertemua dua or tiga kali lagi, lalu setelah itu kami hanya kontak lewat email or telepon. Lalu Juli ini Sr Anna meninggalkan Indonesia untuk menempati pelayanannya baru di Daughters of Charity di Irlandia.

Ketika kami bertemu kemarin, kita sempat bertanya tokoh wa siapa dijadikan idolanya. Ternyata Parikesit, putranya Arjuna, karena Parikesit menjadi raja di usia terbilang sangat muda, 16 tahun. Hampir mirip dengan kondisi Sr saat menjabat Provinsial di usia 36,5 tahun. Saat pelantikan ditanggaplah wa dengan lakon Parikesit menjadi raja. Wah, luar biasa pengalaman hidupnya. memimpin tarekat di usia sebelum 40 tahun adalah hal jarang terjadi.

mencari oleh-oleh untuk sahabatnya di Irlandia. Senang juga karena kita berhasil mempertemukan Sr dengan sahabatku punya homestay di Jl. Kaliurang, jadi Sr bisa lihat tempatnya memperkir tempat itu untuk tempat berlibur para suster suatu saat kelak. Rupanya Sr senang karena tempat itu dekat dengan Seminari Kentungan.

Perjumpaan kami diakhiri dengan m siang bersama di Warung Pak Parto. Di sinilah selama m siang Sr Anna mengarahkan Jessie bagaimana harus mulai menunjukkan minat hidup sejak dini. Kita ngedengerin aja dialog mereka. Memang lain jika pendidik berbicara.

Selamat jalan, Sr. Teruslah berkarya di ladang-Nya maha luas. Penyelenggaraan-Mu ya Bapa, menyelenggar segalanya.

Friday, May 29, 2009

M Ikan

Mustahil deh kayaknya kalo kita masak setiap hari. Di samping repot, kita juga jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Beberapa kala lalu kita rutin beli m siang malam di dua tempat menjual home cook. Walaupun Jessie bapaknya seringkali protes rasanya, kita tetap ke sana memilih menu kira-kira kami sukai. Tapi ada hari-hari memang nggak cocok menunya. Kalo udah gini, kita memilih masak sendiri.

Minggu lalu, Jumat juga, kita coba-coba goreng ikan tengiri. Bumbunya sederhana: asam garam. Begitu digoreng, wanginya merebak ke seluruh rumah Jessie ama bapaknya m dengan lahap. Hari ini kita beli bawal putih. Bumbunya akau ganti dengan garam jeruk nipis. Rupanya, menggoreng ikan nggak seserem pernah kita lakukan sekala masih di Perwita Wisata. Kala itu, tembokku sampe kena bercak-bercak minyak. Dasarnya juga kita males kalo pake api kecil harus nunggu agak lama. Di rumah sekarang, mau nggak mau harus pake api kecil. Kalo tuh minyak sampe muncrat kemana-mana, bisa berabe. Tutup dandang kita jadikan tameng.

Kita mencoba membias Jessie menyenangi ikan. Mungkin kalo kita goreng ikan, kita tambahin rebusan sayur. Kebany brokoli or labu siam (jipang). Direbus biasa dengan sedikit garam. Jadi, dia m ikan sayur. Soalnya pertumbuhan Jessie sedang pesat-pesatnya sekarang. Selain ayam, sapi, dll, menurutku ikan paling oke proteinnya. Jika periode ini lewat, kita nggak bisa nangkep momennya, pertumbuhan tubuhnya biasa-biasa aja, padahal kegiatannya seabreg. Nggak apa-apa repot sedikit cuci-cuci sehabis menggoreng ikan, asalkan kebutuhan protein mineralnya tercukupi. Mungkin suatu kali kita bisa menemukan resep masak ikan nggak terlalu merepotkan tapi yummy?

Tuesday, May 19, 2009

Anak Semata Wayang

Akhir-akhir ini kita bertemu dengan banyak keluarga anaknya cuma semata wa alias sorangan wae. Ada anaknya laki-laki, ada juga perempuan seperti kami. Kita mendapat cerita bagaimana mereka tumbuh dibesarkan dengan pola-pola tertentu. Hasilnya tentu unik. Ada sebuah keluarga berkecukupan ketemu kita minggu lalu. Mereka sangat menyayangi anak satu-satunya ini dengan cara mencukupkan segalanya, melindunginya dari marabahaya mengarahkan hidup anaknya ini sedemikian rupa sehingga sang anak selalu berada di jalan aman.

Kita ngeri juga sebenarnya punya anak cuman satu, walaupun kita senantiasa mensyukurinya. Ngerinya, kami menjadi ortu over protektif sehingga anak kami ini nggak bisa mengembangkan dirinya secara maksimal. Pikiran kami kadang-kadang berbeda darinya, banyak kali kami deg-degan menuruti jalan pikirannya. Mungkin cerminan dari sikap kami over protektif itu adalah keluarnya banyak aturan harus dipatuhinya. Semua serba jangan, jangan ini, jangan itu. Or semua serba seharusnya. Mungkin dia juga pusing kebany aturan.

Kita bersyukur karena anak kami ini dikaruniai kecerdasan very very good. Selain faktor genetis, mungkin juga karena pola asuh kami senantiasa mengajaknya bercakap-cakap, kadang-kadang berunding bersama, or bahkan berantem debat-debatan. Dia bisa diajak berdiskusi, nggak perlu nerangin hal rumit dengan bahasa anak-anak, bisa langsung mengerti merespon. Selain itu dia terbebas dari kecenderungan orangtua untuk membanding-bandingkan. Kami juga memacunya untuk membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri. Jika ini sih kebany epps deh. Perbandingan bermakna itu kan jika terjadi di dalam dirinya sendiri, bukan jika dibandingkan dengan orang lain.

Gimana hasilnya? So far so nice. Kita mengurangi banyak larangan mencoba mengajaknya melihat dari sisi negatif or positifnya. Khususnya aku, berusaha tidak menuntutnya terlalu tinggi banyak. Kita mencoba take it easy, biar dia enjoy sedikit dengan masa kanak-kanaknya. Kalo ulangan dapetnya 87, oke, nggak perlu selalu 100. penting dia tahu sudah mengusah terbaik. paling penting bagi kami, dia nggak jadi anak manja tetapi jadi orang mandiri.

Nggak ada sih sekolah buat orangtua dengan anak tunggal, hmm...

Friday, May 8, 2009

Last Minute

Seminggu ahir ini, hidupku seolah dihitung dalam satuan detik, saking begitu banyaknya hal harus kita kerj dalam kala singkat. Kita sangat bersyukur karena dalam kondisi demikian kondisi ba tidak terganggu, suasana hati selalu ceria tetap bersemangat.

Di awal bulan, kita memulai lagi tugasku setiap Juni Juli, mengunjungi mahasiswa teologi sedang praktik di jemaat-jemaat. Kalo dipikir-pikir, kita koq jadi mewarisi fungsi DPL nya mahasiswa KKN dulu di UGM. Kalo nggak salah ingat sih kami memanggilnya Pak Gatot, walaupun tak tahu nama lengkapnya. Dia jika datang tiba-tiba di tempat KKN, anak sedang di luar lokasi pada kala dia datang, langsung terkena kartu merah. Strick banget, tapi kalo nggak gitu ratusan mhsw KKN bisa hilang satu per satu. Jika kita dkk modelnya memberitahu dulu kepada Majelis Jemaat ditempati mahasiswa praktik, sekaligus sowan karena sebelum ini hubungannya selalu lewat surat. Tahun ini jumlah mahasiswa KKN lumayan banyak, 19 orang. Syukurlah tim kami 10 orang, walaupun nggak semua bisa jadi visitor.

Minggu pertama Mei kita merampungkan penugasan sebagai editor buku sejarah GKI Ngupasan. Tugasku ini sangat mudah dibanding dengan penyusunnya. Jika lagi cepet-cepet, ada aja hambatannya. Karena kompie sang penyusun kerap hang, lalu data dicari ternyata tidak ada, foto kurang lengkap, kita baru pegang naskahnya tanggal 6 Mei. Padahal 9 Mei libur 10-13 Mei kita ke Magelang. Wah.....mefet sekali waktunya. Jadi pas misua juga ada rapat di kantor sampai malam, ditemani secangkir kopi, kita begadang sampai Kamis dinihari. Draft kasar langsung kita print bawa ke Ketua Majelis supaya dibaca dibuatkan Kata Pengantar. Kamis kita bertemu dengan penyusunnya untuk memantapkan isi berembug soal cover. Jumat kita di percet dari pk 14.30-pk 20.00. Syukurlah selesai. Senin approval ahir dari penyusun, lalu naik cetak deh...

Sabtu libur-libur seperti hari ini sih pengennya pijat, baca novel sambil nyeruput kopi, asyik kan kedengerannya. Mudah-mudahan kesampaian...

Monday, April 27, 2009

Ikuuut...

Kalo anak pentas, orangtua ikut repot. Kayak-kayak begini selalu kualami jika Jessie terpilih menjadi penari sanggar untuk tampil. Kita sih seneng-seneng aja, malah momen-momen seperti ini kita pakai untuk memperlambat irama hidupku wuusss....

Pentas kali ini adalah untuk meresmikan pembukaan cabang Sanggar Tari Natya Lakshita di Klaten, tempatnya di SD Kristen 3. Sepulang sekolah kami m nasi Padang di Duta Minang, rebah-rebah sekitar 15 menit, mandi, lalu berangkat. Misua bilang pake aja si Konde, supaya perjalanan lebih nyaman, terutama buat Jessie. Jadilah kita bawa si Konde, biar nggak ngejen di jalan. Kasihan si Mumun kalo ke luar kota, bisa ngos-ngosan nanti.

Di sanggar baru 3 orang hadir. Begitu anak-anak dirias matanya oleh Pak Sugita, kita mendekat, memerhatikan apa saja dioleskan sampai rias matanya jadi. Sekalian belajar, siapa tau Jessie diminta menari sendiri kan kita udah mulai bisa ngerias matanya. Pak Gita (baca: Gito) ngajarin juga cara membentuk alis mata, ukur-ukurannya juga.

seru kala iring-iringan mobil berangkat. Begitu tahu teman-temannya berkumpul dalam satu bus, Jessie pun ikut mereka. Tinggallah kita sendiri. Kita diem-diem aja di pintu masuk sanggar. Sesudah pada mulai berangkat, ternyata ikut kita itu Mbak Cempluk Pak Hendrid serta seorang murid ambil les privat tari klasik untuk bekal mengajar di Sinagpura.

Kesel deh salah jalan, karena kita ambil jalan kota. Nggak bisa lancar. Lupa lagi kalo itu hari Sabtu, kan banyak orang pulang kerja lebih awal, or pada ke pusat-pusat perbelanjaan. Jalan mulai agak lancar kala keluar Yogya dekat Prambanan. Lagi cerita-cerita tentang pejabat lewat karena jalanan dikosongkan, tiba-tiba dari belakang terdengar sirene meraung-raung. Kita siap-siap minggir memberi jalan. Begitu lewat terbaca I-IV ijo, langsung kita ikuuuut....! Si Konde kan cukup besar untuk menjadi mobil rombongan. Gemeteran juga kala kita nyalain lampu hazard ikut rombongan. Lampu merah lewaaat semua, begitu belok kanan mau masuk Klaten juga lancar. Mau belok kiri menuju lokasi, kita melepaskan diri dari rombongan.

Alhasil Yogya-Klaten, cepet bener. Kalo nggak, mana keburu mau mendampingi anak-anak dan ganti pakaian? Ha...ha...ha..., gara-gara ikuuut..., lancar deh!

Monday, April 20, 2009

Turun Harga

Nggak tau Jessie memang tinggi, apa celana panjang anak disusut panjangnya supaya harga terjangkau, or ada perubahan ukuran ba anak, jadi polanya juga laen.

Pusing juga nyariin celana panjang buat Jessie. Masak tuh celana ukuran anak 11-12 taon ngatung kalo dipake ama dia. Kalo dicariin celana pre teen, kegedean banget. Tapi celana anak paling besar 11-12.

Kemaren malem ada tuh celana keliatannya panjang untuk anak umur 12. Saking girangnya kita saut aja, abis pusing nyari nggak ketemu-ketemu. Ada dua macem, kita minta Jessie cobain dua-duanya. satu naek lima senti dari mata kakinya. satu kepanjangan 3 senti, tapi nggak keliatan aneh. Langsung kita bikin bonnya. Begitu mau dibayar, buset....harganya 209.900! Langsung kita berunding sama Jessie, kami memutuskan cari lagi aja laen. Jadilah kita ngebatalin pembelian sama si mbak spg. Langsung pandangannya berubah...rupanya kita jadi turun harga nih di matanya.

Kita sih cuek-cuek aja. Bagiku nggak masalah orang memandang kita gimana, penting kan nggak besar pasak daripada tiang? Lagian, kita sih nggak mau beli baju mahal-mahal, wong setaon dua pasti kekecilan lagi, bajunya itu cuman pantes kalo dibuat gombal, hiks, gombal koq dua ratus rebu!

Thursday, April 16, 2009

Bukan Tempatnya

Beberapa kala lalu kami mendapat voucher potongan Rp 5.000 di Carefour Amplaz. Jadi, sore itu kami berangkat ke sana, sekalian liat-liat buku, sekalian jalan-jalan. Sampe di sana sih masih aman-aman, horor mulai kala masuk ke jalur parkir.

Di depanku ada Katana. Setelah pemeriksaan satpam di gerbang masuk area parkir, mobil itu mesinnya mati, dua kali, terus melorot lagi. Kita kan nggak nyangka kalo orang itu belum bisa, jadi jaraknya hanya 50cm dari mobil kita setirin. Akhirnya satpamnya nahan di belakang supaya mobil itu nggak kena ke mobilku.

Begitu masuk jalan naik turun, beberapa kali katana itu melorot. Kita jadi deg-degan. Mana parkiran bawah penuh, jadi harus ikut naik di belakang katana itu. Kita bilangin petugas parkir supaya melarang mobil itu naik, kan bisa celaka semua di bawah kalo dia nggak bisa berhentikan melorotnya mobil. Tepatnya sih, kita khawatir kalo terkena tubrukan. Syukurlah, naik satu kali rupanya dia dapet tempat parkir, tapi atretnya masih ngguk-nggukan, begitu agak lowong, langsung deh si Mumun kita pacu supaya mendahului katana itu.

Hhh...lega rasanya bisa parkir, erus nggak terjadi sesuatu menyebalkan. Cuman kita misua jadi berpikir, kualitas les-les setir mobil yah kayak begitu. Boleh dibilang asal bisa masuk gigi satu, ganti ke gigi lebih tinggi or sebaliknya, parkir paralel, berjalan di tempat macet. Lulus deh, apalagi kalo ada uangnya buat beli brevet udah pernah les setir mobil.

Lebih ketat di Singapura, amat ketat dalam mengeluarkan SIM. Udah dapet SIM, mobilnya masih diberi tanda. Tandanya berwarna-warna, ditempel di kaca depan kaca belakang berlangsung periodik. Jadi, jika di jalan tol ada pengendara mobil dengan lingkaran hijau --whatever the color--, pengendara lain harus berhati-hati karena orang ini baru saja mendapat SIM. Nanti beberapa bulan kemudian, orang ini diuji lagi, lalu lingkarannya berubah warna. Terus begitu sampai di mobilnya nggak ada stiker berarti orang itu sudah bisa nyetir dengan aman. Paling nggak sih 3 kali ujian.

Coba, gimana kalo sistem kayak gitu diberlakukan di Indonesia.... paling kita cuman bisa nyanyi, "Itulah Indonesia..."

Thursday, April 2, 2009

Perawatan

Buat perempuan di atas usia 35 tahun, perawatan tubuh jadi penting. Kalo rutin ke salon or spa sih menyenangkan sekaligus naekin pede. Tapi, perawatan kita maksud ini buat organ-organ dalam.

Beberapa kali kita sudah melakukan papsmear, tapi perasaan nggak enak itu tetap menyertai kalo mau papsmear. Ujudnya sih mungkin kita agak-agak pening sedikit, terus bolak-balik ke kamar kecil, terus bingung pake rok apa celana panjang. Untungnya, kesadaran manfaat papsmear itu menguatkan tekadku untuk meneruskan perjalanan ke lab. Kemaren ini hampir aja lewat batas waktunya, 10-15 hari sesudah hari pertama siklus rutin. Jadi, feelingku masih lumayan tajam.

Proses pengambilan semen nya sih nggak lama, kurang dari 10 menit, cuman menuju pengambilan semen itu pali nggak mengenakkan, walaupun pengambilannya dilakukan oleh sesama perempuan. Terus ngedenger alatnya diputar naik, hmmm.... penting tarik napas dalam-dalam deh.

Demi kesehatan, kita melakukannya deh. Kalo nggak inget kesehatan, minta ampyun deh. belum kita lakukan adalah mammogram. Nah, itu perlu kesiapan lebih lagi, soalnya menurut penelitian mammogram itu jadi menyenangkan kalo kita puasa kopi kira2 dua minggu sebelum pemeriksaan. Mana tahaaan, paling enak bangun pagi sambil nyeruput coffee mix, lhah koq disuruh puasa ngopi. Bisa teklak-tekluk pas nyetir. Tapi kita menuju ke sana, cuman pelan-pelan ancang-ancangnya.

Tuesday, March 24, 2009

KO sama si Konde

Begini nih rasanya kalo jadi orang gaptek. Bisa bikin keringet dingin, perut melilit detoksifikasi mendadak!

Pagi ini Jessie mau outdoor study ke Ketep Pass. Kumpulnya di gereja Alitheia, Jl. Magelang. Jadilah kita nganterin dia pake mobil misua baru dateng beberapa hari. Si Konde ini canggih, bagaikan langit bumi sama si Mumun. Semua serba otomatis safe.

Begitu jalan si oke punya deh. Kita bilang begini sama Jessie, "Turun dulu aja, mami muterin di depan sekalian beli sarapan." Lalu kita muterlah di depan. Sampai tuh mobil diparkir, si Konde tenang-tenang aja. Nah, kala kunci kontak mau dicabut, ngambek deh dia. Kita puter-puter ke sign '0', tetep aja kayak nyangkut tuh konci. Udah mulai nih keringet dingin. Kalo dibuka koncinya masih cemantel, bunyi alarmnya. Pusing banget. Terus kita coba-coba ulangin urutan tadi pagi. By insight nih kita pindahin tuh gigi ke 'P'. Wah, bener-bener AHA! Tuh konci dengan bunyi klek halus mau dicabut. Jadi, urusan sarapan beres deh.

Kala kita masuk lagi mau starter mobil, si Konde bener-bener ngambek. Nggak mau bunyi samsek! Kita panik, mikirnya udah nggak-nggak aja, soalnya kan dulu punya Accord Matic si Jago Mogok. Karena kita telpon misua nggak diangkat (pasti lagi mandi deh), kita telpon adikku bawaannya juga si konde, tapi kondenya udah disimpen di bawah. Dia bilang giginya musti di 'P', kalo nggak, dia nggak mau distarter. Setelah kita coba-coba tetep nggak mau jalan, akhirnya kita coba telpon lagi ke rumah. Kali ini misua ngejawab, terus dikasih saran supaya hand rem nya diangkat.

Ya udah, kita anter Jessie dulu berangkat. Setelah itu kita masuk ke mobil sambil deg-degan, kalo nggak mau nyala juga gimana? Sambil berdoa, kita masukin koncinya, pasang hand remnya, masukkin giginya ke P, putar koncinya.....jalan deh!!! Wah, lega banget. Langsung kita bayar parkir sambil senyam-senyum ngucapin nuwun ke pak parkir.

Begitu sampe di rumah kukembalikan si Konde ke punya. Nggak lama kemudian perutku melilit, mulesnya bukan maen...nah ini, proses detoks jalan deh. "Wah, bagus juga tuh bawa si Konde, bisa langsung detoks," ujar misua riang.

He..he...he..., begini nasib orang gaptek. Nyetir mobil canggih sedikit, langsung KO, sama si Konde, lagi.

Wednesday, March 18, 2009

Adrenalin

Buat orang seumuran aku, ternyata menari itu needs a lot of energy. Sejak kita memasukkan Jessie ke sanggar tari Natya Lakshita dia mulai diajak pentas sana sini, kita melakoninya dengan kesadaran penuh. Namanya kesenian, pastilah tak bisa sepasti kuinginkan, misalnya riasnya lama or kostumnya banyak pernak-perniknya.

Keadaannya jadi lain kala kita sendiri menjalani proses periasan memakai kostum. Belum juga berangkat ke sanggar, leherku udah gatel-gatel. Ini sih kita langsung tahu kalo gejala-gejala kestabilan psikis terusik. susah itu memompa adrenalin supaya mengalir deras. Salah satu berhasil kita bayang-bayangkan bisa meningkatkan semangatku adalah irama gendang saat kami menarikan ragam 1-6. Koreografernya emang ciamik banget, kebetulan kita suka dengan irama menghentak-hentak. Dengan semangat itu kita berangkat ke sanggar untuk dirias.

Celaka 12, rambutku terlalu pendek untuk dicepol (disanggul sederhana). Sang penata rambut akhirnya memasang harnet di sekeliling kepalaku, terus duhair spray beberapa kali. Untungnya kita pake topi aladin, jadi cepol nggak cepol, tertutuplah itu. Soal kostum juga masalah. Teman-teman lain ukuran tubuhnya mungil-mungil. Penata kosum sempat kecele, sampe beberapa kali ditukar tetap nggak muat. Akhirnya diamilkan kostum suangaat besar. Kalo dari labelnya itu kostum untuk permaisuri, tapi kala kita pake koq gak persis permaisuri ya? Ha...ha...ha..., kayak mbok emban malahan.

Saat pawai itu, sampe depan Malioboro Mall, kita masih kuat lah go en megal-megol kiri kanan. Tapi, kala mendekati perempatan Dagen, staminkita mulai abis. Kalo udah gini, senjatkita cuman satu, senyum aja kiri kanan, tapi geraknya hanya seadanya. Akhirnya, sampailah kami di benteng Vredeburg, tempat pentas hut sanggar dilaksanakan. Kita lega banget, soalnya kalo ambruk di tengah pawai kan malu-maluin...

Berhubung tuh tarian banyak banget tarian kelompokku urutan ke tujuh, pegel-pegelnya mulai terasa. Kayaknya nih kaki nggak mau dibengkokin deh, maunya lempeng-lempeng aja. Terus pinggul juga ngilu-ngilu. Untung salah satu temenku bawa pharmaton formula, bisa mempertahankan kondisiku supaya tetep fit.

Walaupun lelah, kita senang sekali ikut pawai kayak gini. Siapa tau ini kesempatanku satu-satunya ikut dalam geliat budaya Yogya, bareng sang maestro tari transgender, lagi. Memang, kairos berbanding terbalik dengan kronos. Untuk menangkap kairos itu butuh kepekaan hati.

Thursday, March 5, 2009

Mendadak Pentas

Tahun ini sungguh spesial buat sanggar tarinya Didik Nini Thowok. Untuk pertama kalinya sanggar meray hut nya dengan berpawai ria di sepanjang Malioboro, dari parkir taman Abubakar Ali sampai ke benteng Vredeburg. Itu lumayan jauh jalannya, pasti rame banget.

Kala diminta jadi ketua panitia, kita menolak mentah-mentah, soalnya dunia ini kan baru aja kita geluti. Lagian, bakatku itu bukan di kepemimpinan aktif tapi di penyedia data buat sang ketua. Jadilah kita sebagai sekretaris, dengan harapan nggak usah disuruh nari karena harus standby di sekretariat.

Kawan-kawan sekelas ibu-ibu pada protes, "Jangan nggak setia kawan dong. Ayo kita nari sama-sama, kan kita mulai dari awal." Kita jadi nggak enak body gitu, akrena memang kita Lilik semangat ada kelas ibu-ibu. Grogi banget kala tadi pas latihan kelas ibu-ibu disuruh tampil berempat. Waah..kita paling nggak bisa sendiri. Ger kakiku masih malang melintang, terutama go pinggulnya. Buset deh, keringat dingin anehnya...kita jadi tersenyam-senyum untuk menutupi kegugupanku.

Jadi mendadak pentas, padahal tujuanku ikut kelas tari adalah untuk olahraga sehat cantik. Bener deh, kelas tari itu jauh lebih melelahklan daripada aerobik. Lhah ini koq malah pentas, duh biyung....

Search This Blog