Showing posts with label Sketsa Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Sketsa Jiwa. Show all posts

Friday, September 9, 2011

Cerita Kisah Sebuah Lampion

Ketika kita lewat di daerah sekitar Giwangan, banyak lapak menjual lampion tradisional. Lampion itu bermacam-macam bentuknya. Rangkanya terbuat dari bilah-bilah bambu. Tangkainya terbuat dari batang bambu ujungnya dibuat berlubang untuk tempat lilin.

Jessie senang sekali kita belikan lampion itu. Kita memilih bentuk bintang, karena itu paling netral. lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-ar malam takbiran. Hanya, kita suka bentuknya dengan membeli ini, kita mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.

Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah kita membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.

Harapanku sih anak kami ini tak gamang hidup di dunia penuh warna.

Tuesday, April 7, 2009

Penghayatan

Kalo dari asal katanya, hayat itu sama dengan hidup. Dulu kita masih mengenal buku dengan judul ilmu hayat, nggak laen nggak bukan sama dengan biologi sama dengan sains pada generasi Jessie sekarang. Jika ditambah awalan peng akhiran an = penghayatan= berarti penghidupan. Menurutku bisa dikonotasikan dengan mencoba menghidupkan or menjadikan hidup.

Hari-hari ini tanpa kita bisa kendalikan, banyak ingatanku tau-tau lagi membayangkan sengsara Tuhan Yesus menuju penyaliban. Mungkin karena tahun lalu tiba-tiba kita mengalami kematian seorang sahabat, lalu bayang-ba kematian menjadi sesuatu akrab denganku. Tahun-tahun lalu, paling banter kita menghayati kematian-Nya hanya dengan mendengarkan khotbah Jumat Agung. Nggak seperti kala kecil, saat kita menghayati iman Khatolik, upacara sudah dimulai sejak Kamis, kita harus pakai baju warna gelap untuk menand kedukaan. Kala itu di Protestan kayak gitu-gitu nggak ditekankan.

Saat menghayati inilah kita melakukan pencarian ke dalam diri. Betapa banyak kekeliruan, salah dosa di dalam hidupku. Nggak usah berat-berat, soal melanggar lampu merah aja, sering banget kita melakukannya. Apalagi dosa lebih serius, hanya diketahui otakku nurani sengaja kita bungkam, agar tak ada rasa salah tak nyaman. Itu baru di tahap dosa. Belum lagi, ndablegnya kita kalo soal mengampuni. Padahal dilakukan Tuhan Yesus dengan kematian-Nya adalah menanggung dosa umat manusia agar manusia beroleh pengampunan. Seharusnya kan kita juga mau bisa mengampuni, tetapi nyatanya........ hanya Dia lah tahu.

Saat-saat penghayatan ini juga menimbulkan gelisah tanya dalam diriku. Masak sih kita mau tinggal berkubang dengan dosa-dosaku? Kita jelas nggak mau. Berhari-hari mikirin ini sampai kita tiba di ujung pencarian: memahami dengan benar mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

Keliatannya pendek, hanya satu kalimat, tapi mewujudkannya perlu usaha keras, nggak jera jika suatu saat jatuh terpenting kita mau bertaut kepada-Nya, supaya kita senantiasa dikuatkan diteguhkan. Konkritnya: lebih giat ber-PA berdoa, hidup dengan penuh cinta kasih so kita jadi nggak marah-marah melulu sama anak semata wayang, bekerja melayani lebih sungguh-sungguh. Kita mau lihat ah resolusi Paskahku ini beberapa bulan ke depan. Kita juga terus mendo supaya bukan hanya kematian-Nya kita hayati tetapi juga meray kebangkitan-Nya, jadi kita selalu disertai-Nya karena Dia selalu berkata, "Jangan takut, hanya kuatkan teguhkanlah hatimu..."

Thursday, October 30, 2008

Nangis Dua Kali

Kemaren malam, akhirnya jadi juda nonton Laskar Pelangi. Perjuangan untuk nonton ini seminggu lebih karena menyesuaikan dengan jadwal sahabat keluarga cukup padat.

Film ini bagus di dalam kesederhanaannya. Sebenernya kita tertarik kepada bukunya setelah kawanku berulang kali ngomong kalo cara penulisan Andrea Hirata itu lain dari lain. Halaman-halaman awal kita sempat bosan nggak bisa terima dengan istilah-istilah dari keyakinan lain. Tapi, begitu mata hatiku terbuka misi pendidikan di dalamnya, lanjuuut sampai halaman terakhir.

Film emang nggak pernah sebagus bukunya, hanya film ini sekuelnya terputus-putus. Nggak ada alur kontinu. Ketolong aja dengan konten berbobot.

Pikiran nih film nggak deh nguras air mata seperti film Denias, eh… kala suasana film mulai muram, kala tokoh sekolah itu meninggal di atas meja kerjanya kala guru satu-satunya di sana tak berdaya mengajar lagi, perlahan namun pasti airmata menitik juga. Lebih-lebih kala Lintang terpaksa berhenti sekolah karena ayahnya meninggal, sementara di rumah ia hanya sendiri dengan ketiga adiknya masih kecil, waa…nangis bombay deh.

Kala keluar bioskop kita dengar ada penonton bilang begini sama temennya, “Wah, kita jadi semangat lagi, kita mau kuliah lagi ah!” Nah begini baru namanya sadar, tinggal ngelakoni aja tekadnya itu.

Pertanyaan kritis sempat kita misua bahas adalah ke mana sekolah Muhammadiyah lain?

Sunday, August 3, 2008

Trilogi Donna van Lierre

Nggak tau kenapa, dulu kita kepengen baca lagi tulisannya Donna van Lierre. Bukunya ada tiga kita tahu. pertama Christmas Shoes. Kala Khun bilang buku ini bagus mau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kita agak pesimis. Tapi kita baca juga aslinya, kita nangis Bombay. Rasanya sedih gitu ngebayangin hidup seorang bocah lelaki berjuang membelikan ibunya sepatu sebagai hadiah ahir sebelum ibunya meninggal. Terus, kala tahu penerjemahnya (Pdt. Joas Adiprasetya) juga piawai bahasa Inggrisnya, kita tambah optimis kalo novel ini lkita di Indo.

Bukunya kedua kita baca kala liburan sekolah tahun lalu di Jakarta. Untuk mempertahankan ritme bangun pagiku, kita sengaja bawa novel itu. Baca sambil nerjemahin kata-kata jarang kita jumpai. Christmas Blessing nggak segitu menyentuh seperti Christmas Shoes, jadi nggak sampe nangis bacanya.

Nah, bukunya ketiga, Christmas Hope, agak lain. Prolognya agak panjang ceritanya tentang seorang social worker. Kerja model begini agak jarang di Indo, walopun di sana rupanya sudah jadi hal biasa. Kita mulai tersentuh kala masuk bab 3. Social worker ini ternyata pernah ditinggal mati anak tunggalnya, hidup perkawinannya sepoh tanpa kehadiran Sean. Hidupnya berubah kala dia terpaksa nerima kehadiran Emily, gadis 5 taon, ditinggal mati ibunya.

Baru sampe situ sih bacanya, hanya kita jadi tau kalo efek kematian itu begitu kuat. Bisa menggoyahkan pernikahan, bisa menutup jalur komunikasi pasutri, bisa merusak hubungan harmonis anak ibu, bisa membuat orang menarik diri dari dunia. Hanya cinta tulus bisa membalut perasaan kehilangan itu. Novel ini ‘masuk’ karena kita udah ngeliat kematian dari dekat. Kalo belon, mungkin efek novel ini sedikit hambar.

Paling nggak trilogi ini memperluas ranah afeksiku. Ada serpihan kehidupan bisa kita rasakan, walopun kita belum pernah mengalaminya.

Friday, August 1, 2008

Memori

Berhubung memori hape penuh, kita terpaksa menyeleksi nama-nama di hape. Begitu sampe di huruf J, langsung tertera di sana nama almarhum sahabatku meninggal Desember 07. Wah, kita sampe deg-degan mau menghapus namanya. Rasanya seperti mengkhianati dia, padahal kepergiannya udah kita relakan, artinya memang jalannya jika dia harus pergi secepat itu.

Heran ya, kehilangan orang kita sayangi bisa begitu lama penyembuhannya. Kita nih cuma teman, kalo ke penjahitan lihat dia sedang mendisain kaos produksi kami. Kadang-kadang kita berdiskusi sama dia, tapi kebany sih kita lihat dia lagi merenung, or jalan-jalan di rumahnya luas, or mengetuk-ngetukkan pensil sambil merokok untuk mendapatkan ide.

Apalagi istrinya ditinggalkan mendadak ya? Pernah kita mencontoh suaminya ngeguntingin kain kecil-kecil untuk contoh warna, lalu kawanku melihat contoh warna itu. Langsung mukanya meredup kami terhanyut kenangan berjuang bersama. Pernah juga dia beberapa kali kepeleset manggil kita Ian, padahal selama ini dia sengaja manggil kita Mar untuk membedakannya dengan nick name alm Mas Janni. Dan….secara naluri kita tau kalo dia kangen dengan suaminya. Cuma kangen begini kan susah? Masak musti manggil cena kayak di film Ghost, lagian itu forbidden and ngeriii….

Jadi, menghapus nama Mas Janni bener-bener membangkitkan kenangan. ketika jariku memencet tombol delete, serasa seperti ada bagian diriku juga ikut pergi. Memori emang bisa bikin perasaan jadi amburadul begini nih.

Wednesday, May 14, 2008

God will always be with you

Dalam artikelnya di Kompas, J. Kristiadi menuliskan bahwa melup peristiwa buruk masa lampau membuat manusia tidak bijak, tidak mengingat keindahannya membuat manusia mudah menjadi jahat. Kalimat ini seperti menggambarkan perasaanku setiap tahun menjelang 15 Mei. Rasanya di telingkita masih terdengar raungan sirine di mana-mana berbagai wawancara ‘mengerikan’ semuanya itu mau memberit bahwa telah terjadi tragedy kemanusiaan paling buruk di Indonesia.


Kala semua itu terjadi kita sudah berada di kaki gunung Merapi tenang, aman, damai, sejuk. Hanya saja, hatiku sama sekali jauh dari suasana tempat tinggalku. Gimana mau tenteram melihat penderitaan tengah terjadi, juga pada para korban disembunyikan? Cerita seram berhamburan menghampiri telinga batinku. Tak heran kita sangat terkesan dengan pelayanan seorang Romo di Jakarta terjun langsung menolong para korban perkosaan.


Hanya saja, pertanyaan terus menghantuiku adalah: jika terjadi perkosaan, seberapa banyak akhirnya menjadi sebuah kehidupan nyata di dunia? Lalu, ke mana di mana anak- anak itu berada? Tentu mereka sudah besar. Jika sekolah, mungkin sudah duduk di kelas 4 or 5 SD. Apakah mereka hidup dengan limpahan kasih sa or kemana- mana diikuti dengan pandang mata kasihan –bahkan mungkin dengan pandangan jijik— oleh orang-orang di sekelilingnya? Apakah mereka hidup dengan ballutan misteri asal- usulnya or sudah diberitahu tentang kenyataan pahit tentang dirinya? Apakah mereka kenal ibunya? Apakah mereka hidup dengan ibunya? Bagaimana keadaan psikis ibunya? Depresikah? Banyak tanya lain menggema di relung hatiku, namun tak ada jawab sampai malam.


malam kita melihat siaran ulangan perspektif di AN TV. Rasanya ada sedikit berkas sinar menyeruak di antara berbagai tanya dalam hatiku. Mudah-mudahan pemerintah memakai momen Mei ini untuk membuka kembali sejarah gelap itu mendudukkannya di tempat benar. Pembukaan ini bukan untuk mengorek kepedihan ada, tetapi seperti tulisan J. Kristiadi di atas: supaya manusia menjadi bijak. Bijak dengan dirinya sendiri bijak dengan sesama.


Salam untuk anak-anak keluarga Mei, di manapun kalian berada. God will always be with you, though you do not want to know HIM.

Monday, May 5, 2008

Kontak Batin

Minggu pagi kita tiba-tiba aja pengen menany berita kawanku sedang hamil tua. Keinginan itu muncul tiba- tiba kita nggak bisa mengabaikannya. Jadi kita langsung sms dia. Pikirku kala itu jangan-jangan bayinya udah lahir. Setelah sms, kita lega. “Ah, mungkin ini hanya karena lama nggak kontak dia, terus tiba- tiba keinget aja,” gitu suara nuraniku.


Setelah itu kita melakukan berbagai aktivitas hari Minggu. Agak siang sedikit, saat kita beribadah, sms temanku itu datang, bunyinya, “Thanks udah mikirin aku. Kita baru aja jatuh, kena perut, muka tangan. Udah periksa ke dokter katanya bayinya nggak apa- apa.” Wah, perutku langsung mules. Dengan bobot kehamilan 8 bulan, jatuh begitu sih kayaknya bahaya. Jadi kita cemas juga.


Sekitar tahun 1984 kita pernah baca penelitian dalam salah satu kisah di Kompas, jika hubungan batin itu bisa terjadi pada dua orang dekat secara psikis, walaupun terpisahkan oleh jarak. Contoh kala itu adalah ibu anak terpaksa berpisah benua. Satu di Asia satu di Eropa. Ketika sang anak kecelakaan, si ibu amat jauh darinya merasa ada nggak beres pada anaknya. Di kemudian hari ternyata saat itu anaknya kecelakaan. Nggak usah jauh- jauh. Kala dulu kita nakal tidak menghiraukan orangtua, berkali- kali mamkita pengen naek travel ke Yogya, tapi dihalangi sama papa. Ajaibnya, kita pernah menabrak temanku naik motor di depan mobilku. Kala itu kita baru belajar naik mobil. Temanku emang masuk rumah sakit kemudian sembuh total. Tapi, adeku nomor dua pada saat kita tabr itu bermimpi kalo kita nabrak orang!


Kontak batin emang bener- bener nyata jika kemampuan itu diasah menjadi alarm buat diri kita. Kita nggak terlalu bisa mengasahnya tapi kemampuan itu sedikit berkembang pada aku. Saat- saat tertentu kita bermimpi menjadi kenyataan. Tapi emang nggak enak, karena mungkin mimpiku itu nggak baik. Mula pertama sih kita mati- matian mengabaikannya, tapi karena berkali- kali terbukti nyata, kita memakainya sebagai isyarat awal. Tanda- tanda kedatangan isyarat awal ini adalah kita seperti mengalaminya dengan sangat jelas, melihatnya dengan sangat jelas, kala itu kita sedang rileks, nggak ada beban batin or stress. Hal pertama kita lakukan adalah mendoakannya, apalagi kalo mimpi itu jelek menakutkan, misalnya ruangan dicat hitam, melihat orang ***, dll. Lalu kita berusaha mengomunikasikannya. Mungkin kita mengajak orang-orang kupercaya untuk mendoakannya. Kalo sampe tuh mimpi bener-bener jadi kenyataan berakibat buruk sama aku, kita minta hikmat Tuhan supaya dapat mengatasinya. It works because He is alive!


Kembali ke temenku itu, kita nggak punya isyarat awal jelek sih, jadi kita tenang-tenang memintanya cek ke dokter seminggu sekali.

Saturday, April 19, 2008

Pengemis Anak

Malem minggu ini kami keluar makan, soalnya tadi siang nggak ada kesempatan beli lauk untuk m malam. Mungkin malam Minggu kami di rumah, soalnya ada acara extravaganza jadi kegemaran Jessie.


Jadi, ujan-ujan kami m di emperan Mangkubumi samping toko kertas Champion. Di situ ada tukang ayam goreng dilengkapi dengan kol goreng. Hmmm…, yummy, kayak ayam goreng di Gang Semar Bandung. Tapi malam ini sih kami gak m kol goreng, ganti sama sayur asem.


Lagi m tiba-tiba ada sesuatu bergerak di samping kursinya Khun. Sampe kaget. Nggak taunya itu seorang anak kecil jongkok di samping tiang. Sekali- sekali kepalanya nongol terus ngeliatin kami makan. Tapi, kalo matanya bersirobokan dengan mata kami, langsung deh kepalanya mendelep lagi, ngumpet di balik tiang. Anak ini nggak menadahkan tangan sambil merengek- rengek mengemis. Dia hanya diam, hanya matanya berbicara banyak tentang rasa kepengennya untuk makan. Ditanyain udah m apa belon, malah ngumpet. Ya udah deh, kami m sambil pura-pura nggak tau kalo ada anak kecil diam- diam memerhatikan kami.


Terus terang kita langsung teringat kisah Lazarus di Alkitab. Tiba- tiba misukita nyeletuk, “Memberi nggak bikin bangkrut pelit belon tentu bikin kaya.” Jadi deh otak perasaanku langsung konek. Begitu selesai makan, kami langsung merancang menu buat si anak kecil itu. Jadi dia dipesenin nasi sama rempelo ati. Sebenernya kita agak khawatir dia nggak mau terima, karena pernah kita bagi-bagi nasi bungkus dalam suatu aksi social, pemberianku malah ditolak. Jadi, kita minta tolong sama jual supaya mereka memberikan ke si anak.


Kala kami pulang, nasi bungkus itu diberikan ke si anak. Lalu dia memerhatikan kami naik mobil sambil memangku nasi bungkusnya. Pelan-pelan dia menyantapnya. Ngenes deh ngeliatnya. Malam ini anak kami mendapat pelajaran nyata dengan melihat kenyataan menyedihkan seperti itu. Mudah-mudahan apa dilihatnya ini membuatnya lebih menghargai setiap menu dimilikinya. Kita sendiri juga belajar banyak tentang penderitaan bangsa ini. Misukita malah udah duluan terketuk melihat keadaan makin lama makin susah ini. Blognya udah kayak perpanjangan beritanya Kompas aja.


“Itulah Indonesia,” seperti selalu dinyanyikan temanku jika melihat kondisi menyedihkan di tanah air.

Search This Blog