Saturday, June 30, 2012
Hawa Liburan
Dari bangun pagi tadi pk 03.00, semangat belajar Jessie tinggi sekali. Mungkin tiap lima menit minta istirahat, tapi pagi ini belajar sejam terlewati tanpa terasa. Istirahat lima menit, langsung dijalani lagi hingga pk 05.00. Kita aja mungkin bete nemenin dia belajar, pagi ini mau tak mau terkagum-kagum melihat semangatnya, jadi ikut semangat.
Kala kita tanya koq dia seneng sekali, Jessie langsung jawab begini, "Soalnya ini udah Desember, Mom, Jessie pengen cepet-cepet liburan. Tapi sebelum itu Jessie mau belajar rajin-rajin supaya nilai UAS nggak ada di bawah 90." Nah...., malah kita tertegun, malah memecut semangatku juga untuk memberikan etrbaik di paper terakhirku.
Hawa liburan emang terasa banget, semua jadi ringan riang....
Thursday, June 18, 2009
Senandung Yogya
dulu kami bertiga juga nge-bajigur di Kadin. Udah lama banget nggak ke sana. Kayaknya di Yogya bajigur available tiap saat cuman di sana. Jadi sehabis m malam, kami langsung nagbur ke Kadin. Sedap deh, bajigur pake es, tambah sedap lagi karena ada musik keroncongan lagu-lagu lama. Nggak berasa tau-tau udah pk 21.30.
Kemarennya lagi, ak sama Jessie siang-siang m di Mirota Batik. Tadinya pengen m sambil liat-liat jalan depan pasar Beringharjo. Sampe sana malah disuguhi piano klasik. Untuk aransemennya nggak ruwet, jadi tetap terasa nyaman walau siang bolong. Setelah menyantap m siang, kita diam-diam mencandra semua bunyi di luar diriku. Ternyata samar-samar ada bunyi kayuhan becak, suara orang tawar menawar, suara sirene ambulance sura remaja bergerombol jalan-jalan. Belum lagi di kejauhan ada suara tekukur sahut-sahutan. Semua itu msih ditingkah dengan semilir angin segar. Siang panas jadi terasa syahdu, bikin mata mengantuk...
Itu bikin kita cinta Yogya. Di kala kita bosan dengan mal toko, ada tempat-tempat tertentu memadai untuk menyelaraskan jiwa. Jika kita diam sedikit lebih lama, irama kota ini sarat seni muncul, juga irama pedesaan mencuat di tengah modernitas kota besar.
Sunday, October 26, 2008
Jogja Java Carnival
Udah lama kepengen nonton acara-acara di Jogja Java Carnival, baru kemaren malam keturutan.
Nggak nyangka, acara ini banyak sekali pengunjungnya. Kali sama dengan kita salah satu alasan ke sananya adalah karena acara ini gratis, ha…ha…ha… . Soalnya jalanan ke Kaliurang sepiii…., gelaaap… sunyi! Semalem jadi raja jalanan, soalnya nggak ada kendaraan laen. Mulai tau kalo acara ini banyak peminatnya adalah karena di gerbang masuk Kaliurang ada penjaganya. Mungkin sore juga udah tutup.
Wednesday, May 14, 2008
Mengay Pengalaman
Pas lagi denger radio ada pertunjukan “Orang Jawa Main Jazz – Vertigong”. Lalu kita rundingan sama papinya. Kami sempat ragu apakah Jessie bisa mengerti musik jazz. Lalu kita ngusulin supaya pertunjukan ini hanya untuk mengay pengalaman musikalitasnya aja. Lagian, dari iklan di
Jadilah kami malam menonton pertunjukan itu. Semuanya ada 10 repertoar dicipt oleh Purwanto dimainkan bersama grup musik Kuaetnika. Repertoar 1 2 kita sempat mau tertidur, terbuai dengan alunan musiknya. Teringat masa lalu nge- jazz banget. Namun, mulai repertoar 3 keliatan keunikannya. Jessie sampe riang bertepuk tangan, soalnya lucu melihat mereka berenam ngerubutin gambang diketok-ketok. Repertoar itu namanya Gambang Ceruwak. Konon, gambang itu alat musik Jawa harus ada tapi tidak penting. Terbuat dari kayu tak punya gaung. Gambang ini alat musik pemalu, dia harus didampingi oleh gender, kendang, suling lainnya. Makanya Purwanto mau membuktikan bahwa gambang bisa juga semarak, dengan cara memainkannya beramai- ramai, makanya diberi nama seperti itu.
Kehadiran Trie Utami, Djaduk Ferianto Christopher Abimanyu semakin menyemarakkan suasana. Kepiawaian mereka bermusik jazz nampak dari luas beragamnya improvisasi muncul spontan. Nyanyinya juga nggak ada syairnya. kedengeran cuman pa..pa…ra..pap..pap, syedana…na…na…ni…ni…, sejenisnya. Kita langsung melek deh, gemes gitu ngeliat orang koq punya musikalitas begitu bagus. Apalagi, seluruh penonton juga diajak bertepuk tangan dengan irama ditentukan oleh Purwanto. Jadilah kami semua mengiringi para pemain melantunkan nyanyiannya.
Satu hal kita kagumi dari eksplorasi musik ini adalah penggunaan alat musik Jawa kaya. Betul- betul kaya, karena bonangnya bisa berpadu manis dengan bass guitar rhytmn guitar. Gender juga nggak mau kalah menimpali boning drum. Duet kendang bass guitar juga mengeluarkan nuansa gegap gempita meriah.
Panjang juga repertoar itu. Selesai pk 22.20. Libur- libur diajak ortunya ngedugem, ha…ha…ha….
Thursday, May 1, 2008
Thanks 2 U, Pap
Beberapa hari ini kerepotanku semakin bertambah, apalagi deadline udah kelewat berkali- kali. Jadi, terpaksalah tugas- tugas rutin rumah tangga sedikit terabaikan. Mau gimana lagi, tangannya cuman dua. Jalan repot ini kita pilih, kalo nggak bisa boring deh idupku. Hanya saja, kalo berbagai kerepotan bertabrakan, paling nggak urgen kita kalahin, misalnya cuci piring, cuci underwear, membersihkan garasi, dll.
Kemaren
Kira- kira pk 09.30, Jessie hubby udah bangun. Kita siap-siap janjian ama temenku, Kita tinggalin deh mereka sebentar, soalnya ini dalam rangka cari pembantu pocokan, supaya rumah tetep oke.
Pulang dari
Thanks ya Pap. Banyak orang berkoar-koar soal kesetaraan jender, Papi malah udah negbuktiin di rumah sendiri. Muahhh…….
Sunday, April 20, 2008
Sanctuary Pagi
Nggak lama, paling 5 – 7 menit, tapi karena kita melakukannya setiap hari, itu jadi seperti vitamin jiwa. Mungkin ini bikin hidupku terus bersemangat, walau kerjaan kayaknya bertumpuk-tumpuk. Be still and know that I am God (Psalm)