Wednesday, July 25, 2012
Gregetan
Karena banyak pendapat beredar dari segala penjuru mata angin, mau tak mau kan ikut berpikir, merenungkan lalu menanggapi. Bahkan jika bisa mengajukan usul pemecahan masalah, kayak di sana masih ijo aja soal problem solving. Terus terang, kita pun terpancing untuk punya opini walaupun terbatas untuk hatiku sendiri.
Buntut-buntutnya kita jadi bertanya-tanya, apakah ini euforia berpendapat, sampai lupa dengan tugas utamanya sehari-hari. Or berpendapat untuk menutupi borok sendiri? Kan gampang tuh berujar ini itu, padahal dirinya juga melakukan hal sama, cuma dalam skala lebih kecil or skala tak terlihat media massa bahkan tak diketahui tetangganya.
Kalo udah gini kita hanya khawatir pepatah gajah di pelupuk mata tak terlihat tetapi kuman di seberang laut nampak jelas semakin marak terjadi. Kiranya Tuhan Mahakuasa memampukan kita untuk tidak terseret mengejawantahkan pepatah itu dengan senang hati di dalam hidupku.
Tuesday, July 24, 2012
Gamang
Suatu kali muncul sas-sus jika ibu itu pernah dijumpai di perempatan sedang mengamen dengan anak-anaknya. Seperti biasa, kita cuek dengan sas-sus itu, karena bagiku itu bukan urusanku. Jika mau ya ditolong, kalo nggak ya nggak usah diributin or digosipin, buang-buang kala nggak ada faedahnya.
sore, setelah pulang rapat kita berhenti di perempatan Pingit. Lagi asyik-asyiknya mikir, di sebelah kananku melintas seorang ibu sedang begging dengan anak di gendongannya. Set!! Kayaknya kita koq nggak asing dengan wajah ini, lalu kita perhatikan lagi. Wjah sebagian etrtutup topi itu ternyata ibu-ibu sering mengundang tanya di hatiku.
Saat itulah muncul kegamangan dalam diriku. Gimana ya jika dia menghampiri jendela mobilku? Jika kita memperlihatkan bahwa kita mengenalnya, dia malu apa nggak ya? Padahal jelas-jelas dia menutupi mukanya dengan topi agar tak dikenali. Jika kita nyuekin dia, dia tersinggung nggak ya? Eee...h bener, dia menghampiri jendelaku. Dengan cepat kita memutuskan untuk menatap ke depan sambil menunjukkan penol dengan tanganku. Kala kita melakukan itu, kita hanya tidak ingin dia malu lalu nggak muncul lagi di komunitas kami.
Sampai lampu hijau kita sudah di rumah, kita masih terus memikirkan ibu itu. What should I do actually? Kita jadi pengen mendekatinya di kala pertemuan kami nanti. Mungkin kita bisa memulai dengan pertanyaan, "Kayaknya saya ketemu ibu Sabtu lalu di Pingit?" Emang kalo gini cara bertanya model Yogya paling cucok, muterlah dulu sampai ke Solo baru balik lagi dengan pertanyaan semakin fokus. Intinya kita pengen menjenguk ke jendela hidupnya, kan gimana-gimana juga kami rutin bertemu. Pastilah ada alasan mengapa sampai ia menjadi seperti itu. Hanya, jika sas-sus itu benar adanya, mungkin sebaiknya ada tindak lanjutnya. kalau-jika ada sesuatu bisa kita bantu untuknya.
Dunia memang sedang bersusah...
Tuesday, July 3, 2012
Merindukan si Bungsu
Cukup lama kita nge-kost di tempatnya, hampir 9 tahun. Dengan empat orang juga hampir sama lamanya beberapa teman silih berganti. Banyak hal kita pelajari dari beliau, terutama kerapihan penampilan. Salah seorang adik kelas kaget kala bertemu kita setahun lalu, "Lho, Mbak? Sekarang koq nggak seperti kala kuliah? Dulu baju, sepatu sampai anting-anting tas senada semua. Sekarang Mbak nyaman dengan jins oblong ya?" Nah, sampe segitu pengaruh Tante sama aku, walaupun kita tak menyadarinya. Belum lagi sikap hidupnya. Semakin Tante diam, semakin keras nyata apa mau diungkapkannya. Pernah nih teman-teman meray ultahku dengan masak indomie goreng sekuali gedhe. Begitu kita pulang rapat buka pintu kamar, mereka langsung teriak. Padahal udah malem banget kala itu, sekitar pk 10.00. Sesudah itu dengan sendirinya kami ber sst...sst...sst...ria, khawatir Tante terganggu. Kamarku di sebelah kamarnya Tante. Besokannya kala sarapan Tante lewat, dia hanya diam tak berkomentar tentang berisik-berisik malam sebelumnya. Tapi dari raut wajahnya kami tahu dia memaklumi anak-anak kostnya kadang-kadang masih kayak bocah padahal sudah mahasiswa.
Induk semangku ini meninggal dalam usia sekitar 90 tahun. Kala layat kita kembali bertemu dengan anak-anaknya dulu kita panggil Mas Mbak, serta cucu-cucunya sebaya dengan aku. Ada salah satu cerita jika Tante udah hampir 5 tahun nggak bisa mengeluarkan suara. Sebelum meninggal ini sudah tiga kali kritis. Pada kondisi kritis ketiga, anak, menantu, cucu, cucu mantu cicit sudah meminta maaf, baik langsung hadir di sekitar Dia or pun melalui telepon. Ketika anak bungsunya telepon, tiba-tiba Tante mengucapkan namanya dengan suara sudah 5 tahun tak pernah terdengar. Anak bungsunya kala telepon berada di Yogya langsung berangkat ke Ciamis. Dia mencuci kaki ibunya meyakinkan ibunya bahwa hidupnya oke. Tak lama kemudian Tante berpulang.
Ternyata dia merindukan anak bungsunya di alam bawah sadarnya. Memang menurut penelitian, jika seseorang sudah tak berdaya apa-apa, koma or hampir meninggal, salah satu organ masih berfungsi dengan baik yaitu telinganya. Ajaib memang, namun itulah kenyataannya. Mungkin itu sebabnya, pada pasien-pasien koma, suara dari orang-orang terdekat dalam hidupnya disinyalir dapat mengembalikannya ke alam realita. Or pada orang-orang hampir meninggal, bisikan bahwa semua merel kepergiannya dapat melapangkan jalannya ke alam baka.
Melalui misa requim siang ini kita kembali menghayati bahwa hidup manusia ini seperti bunga ilalang, hari ini ada esok hilang. Selamat jalan Tante Nardi.
Monday, July 2, 2012
Bau Donggala
Lokasi jalannya memang berada di salah satu Pecinan Yogyakarta. Begitu kita jalan, sudah tercium bau hio, semacam dupa untuk sembahyangan orang Tionghoa. Baunya khas membuat ingatanku mela ke rumah mertukita juga pake hio-hio kayak begitu. Lalu di kiri kanan jalan ada orang duduk-duduk ngobrol di depan pintu toko dicet hijau terang seperti rumah-rumah Tionghoa zadul. Suara orang ngobrol bagaikan musik merdu mengiringi perjalananku malam itu.
Tiba-tiba terdengar gelas pecah suara ibu-ibu ngomelin anaknya. Tapi masih kalah sama instrumen Mandarin dari rumah di seberangnya. Jadi kita berjalan sambil mencandra pernak-pernik percik kehidupan di Pecinan. Suara-suara itu silih berganti, jadi jalan sunyi senyap itu seolah ditingkah aneka suara dari dalam rumah...
Di jalan itu ada semacam tanh berpasir tak berpenghuni. Maksudku, di situ nggak ada tenda jualan makanan or rumah. Hanya seng menutupi sebidang tanah. Penerangannya pun remang-remang. Di situlah kita mencium harum rokok lintingan khas pedesaan di Jawa Tengah, semasa kita KKN dulu.
Kalo nggak jalan kaki gini, semua cita rasa udara tak tercium. Ingatanku langsung menuju Donggala, tempat mertuaku. Di sana juga situasinya persis seperti ini. Mungkin karena jarang ada kegiatan malam hari. Jadi sesudah tutup toko, mandi, lalu mulailah acara kongkow-kongkow sampe malam di depan toko. Kadang anak-anak berlari-lari di jalan belum teraspal sempurna. Jika bulan terang benderang, anak-anak bernyanyi-nyanyi di jalan sementara orang tuabercengkerama sambil menumpangkan satu kaki di atas kaki lainnya, or sambil bisik-bisik.
Paling nggak malam itu kita menyicipi suasana Donggal telah lama tak kulihat...
Saturday, June 30, 2012
Prit....! Goceng, Bu.
Kalo orang tinggal di kota tujuan wisata, musti lega lilo a.k.a. berlapang dada melihat kemacetan di mana-mana. Ya iyalah macet. Kota dengan kapasitas 3 juta penduduk ketublekan orang segitu banyaknya, ya pasti mbludag, terutama di pusat-pusat keramaian seperti Jl. Malioboro or Amplaz (Ambarukmo Plaza).
Suatu kali kami terpaksa mendatangi Jl. Malioboro karena teman ingin m Chinese Food. Nah, resto Chinese Food paling oke buat kita sih ada di Danurejan, jalan itu hanya bisa dicapai melalui Malioboro. Bener aja, mendekati hotel Inna Garuda, kemacetan sudah terlihat. Mobil berjalan perlahan di sepanjang Malioboro. Lalu kami parkir di dekat resto itu.
Begitu turun, kita didekati tukang parkir, "Bu, parkirnya sekalian, siapa tahu Ibu mau berjalan-jalan di sinii." Spontan kita mengeluarkan uang Rp 1.000, tetapi dengan cengangas-cengenges tukang parkir berlengan buntung itu berkata, "Goceng, Bu." Dengan mangkel kita menyerahkan uang Rp 5.000 sambil berujar, "Pripun tho Mas, saya kan penduduk sini." Si tukang parkir hanya menjawab, "Ehm...ehm...ehm," sementara teman-temannya di belakang ketawa-ketiwi mengejek temannya kena batunya itu.
Kita tak memperpanjang soal goceng ini karena nggak mau selera makanku rusak. Mangkelku bertahan berhari-hari, karena mendapatkan uang parkir berlebih ini bukan tukang parkir mungkin bertugas di sana, tetapi tukang parkir liar. Ngono ya ngono, ning ojo ngono, wuaahhh!
Sekali lagi kita alami kala nganter ke Mirbat. Kali ini kita sudah merel seandainya harus bayar parkir Rp 5.000, karena di mana-mana parkir penuh kita diberi tempat parkir cukup elit, di halaman kantor dekat GPiB. Kala pulang kita bergurau dengan pak parkir, "Wah, jenengan untung kathah nggih, Pak." Dengan senyum lebar ia menjawab, "Nggih, Bu. Setahun pisan."
Senin lalu, muncul keluhan soal parkir ini di Kompas Jogja. Ternyata bukan hanya kita tho mengeluhkan hal ini. Pikirku harusnya kita terima saja diperlakukan sewenang-wenang oleh tukang parkir karena itu event besar di Yogya. Kan nggak setiap kala penduduk Yogya mendadak beralih jadi tukang parkir mendapatkan uang tambahan? Nah, menurut Lembaga Konsumen, harusnya hal itu diadukan. Tapi, kita kembali ke sikap praktisku, gituan koq dilaporin buang-buang kala aja. Kalo mau ditertibkan, ya sejak awal diberi penyuluhan lalu patroli dijalankan.
Susah emang ngurus negara eh kota, ha...ha...ha...
Sunday, June 17, 2012
Target
Karena si istri bekerja, kedatangan baby sitter prigel, trampil gemati jadi sangat menolong. Pekerjaan maju, rumah beres, mau apa lagi? Sampe tetangganya melihat suatu keanehan pada diri si baby sitter ini. Tapi ketauan kalo dia mau cerita ke si istri, tetangga itu akhirnya mati. Setelah pemakaman tetangga naas itu, si istri pulang bersama temannya, suaminya pulang dengan anak-anak baby sitternya. Di rumah, baby sitter ini seolah-olah tak tahu jika di kamar mandi ada orang. Hanya dengan kamisol terbuka dia membuka pintu kamar mandi, di dalamnya si suami sedang mandi. Jika mandi ya nggak pake apa-apa lah. Si suami langsung jengah, tapi si baby sitter menutup pintu sambil matanya mengerling gimanaaa gitu.
Adegan demi adegan makin lama makin serem, keliatan kalo si baby sitter ini pengen ngerebut sang suami, walaupun untuk itu dia harus membunuh sang istri. Kita nonton sambil ngeri-ngeri sambil teringan Fatal Attraction bertahun-tahun lalu.
Jadi emang bener setan ada di mana-mana, terutama dia menggoda rumah tangga baik-baik, aman tentrem berbahagia. Rasa aman di keluarga bisa terkoyak karena teledor tak meneliti siapa berusaha mendekati keluarga, tak berdaya mengatasi kerepotan berbagai tugas harus diselesaikan relatif pada kala bersamaan, kurangnya kala berkualitas di antara anggota keluarga tuntutan ekonomi semakin tinggi. Kalo udah mikir sampe ke sini, bisanya cuma berdoa supaya Tuhan melindungi keluargkita keluarga-keluarga di dunia. Jangankan sebulan ke depan, semenit berikutnya kita juga tak kuasa mengetahuinya. Selain doa, suami istri ya harus alert dengan situasi zaman. Mengikuti zaman tanpa terhanyut, bukan perkara gampang. Makanya suami istri harus bergandeng tangan mengarahkan biduk keluarga ke tempat aman.
Jadi inget ucapan selamat dari pendeta kami saat kami menikah, "Khun, Ian, selamat menempuh hidup baru, selamat memperjuangkan hidup bersama."
Saturday, June 2, 2012
Kuburan Blog
Sa sekali, banyak teman-teman dulu blognya rame pengunjung, sekarang menjadi sepi. Tanggal ahir upload tulisan ada enam bulan lalu, empat bulan lalu, hampir setahun, dll. Kali kalo di dunia beneran, rumah ini sudah kosong, di langit-langit rumah bersarang dengan nyaman si spider, jendela ada pecah, lantainya retak-retak, menguar bau apek dari dalam kamar mandi kulkas berisi sisa-sisa makanan. Belum lagi ilalang tumbuh di halaman begitu tingginya.
Kita memantau banyak kuburan blog sejak merambahnya situs jejaring fb digemari orang. Mungkin karena di sana sudah tersedia lengkap note, video, foto bisa digun semudah membalik telapak tangan. Lalu respon atas note juga lebih dinamis dibanding blog. Ketambahan note di fb itu dibaca oleh orang-orang adalah sahabat si pembuat note. Jika di blog kan susah mendeteksi siapa membaca, karena tidak ada keharusan meninggalkan jejak dengan mengisi buku tamu. Hanya, di blog itu punya kelebihan yaitu, blog terbuka luas, siapa aja boleh liat, dibanding dengan jejaring hanya untuk teman-teman.
Kita pribadi tetap mempertahankan menulis blog, karena siapa tahu pengalaman hidupku bisa berguna bagi tamu-tamu di blogku. Mungkin mereka baru pertama kali mengenal internet, sehingga tahu pertama yaitu blog, belum kenal dengan fb or lain. Mungkin juga mereka mau baca-baca lembar hidupku di tahun-tahun lalu dengan segala suka dukanya. Mungkin juga blogku ini mendorong tamu-tamuku berani mengungkapkan pikiran dengan bahasa tulisan. Kan banyak manfaat positif dengan menulis.
Kalo sekarang, malah kita memperluas pemakaian blog. Jadi bukan hanya untuk cerita sana cerita sini, tapi juga untuk membuka toko online. Mungkin karena sifatku cenderung menjaga kestabilan jadi dua-dua or tiga tiga bisa jalan. Mungkin juga itu sulit dilakukan orang lain.
Ke depannya mungkin pengelola blog harus lebih inovatif supaya bikinannya nggak ditinggalin orang kali ya? Memang dunia berubah senantiasa menuntut inovasi kreatif.
Monday, November 7, 2011
Thanks to Tech
Kalo soal download masih bisa lah ditunda, tapi jika email penting or pertemuan penting, rasanya kondisi internet kayak gitu bikin frustrasi.
Satu hal akusyukuri adalah kita dibekali dengan handheld canggih. Halangan begitu hampir bisa diatasi semua. pertama kali membuatku bersyukur adalah kala kita harus meneliti hasil pemeriksaa psikologis saat itu juga, padahal internet down. Dengan handheld ini, tugasku itu terlaksana dengan baik.
Begitu juga kala di kampus, kami diminta mencari seuah istilah penting, dengan adanya handheld ini tugas itu tak perlu tertunda-tunda.
Ajaibnya lagi, kala kita berinisiatif mencarikan tempat syawalan angkatanku. Kan hanya kita ada di lokasi saat itu, jadi dengan handheld ini kita cepret sana cepret sini, alngsung kirim ke grup. Saat itu juga kami sepakat menyewa or tidak tempat kita kunjungi. Tanpa handheld seperti ini agak mustahil melakukan banyak pekerjaan dengan kala sesingkat-singkatnya.
Itu soal perangkat keras. Dalam hal software, kita banyak tertolong dengan yahoo messenger. Dengan meletusnya Merapi, komunikasi menjadi sulit. Komunikasi tatap muka, maksudku. Tugasku itu menghubungkan berbagai macam orang di Jakarta, Semarang, Salatiga Yogya. Tanpa bantuan ym, sulit semua itu terlaksana.
Zaman teknologi begini, kemungkinan tatap muka di dunia nyata bisa dikurangi dengan amat banyak, walaupun itu juga diperlukan. Tapi dalam keadaan darurat, bantuan teknologi sangat terasa signifikansinya.
Wednesday, June 10, 2009
Jualan
Temanku ini membawa dua orang temannya mau minta kita menjadi narasumber dalam acara mereka. Ngomong punya ngomong, sampailah ke pertanyaan, "Suami Bu Mariani masih menerbitkan buku?"
"Masih, Pak. "
"Buku jenis apa ya?"
"Buku cocok untuk pasar anak muda, manajemen permainan." (Kita langsung keluarin deh contoh buku-bukunya, soalnya lebih baik melihat contoh daripada keterangan bla bla bla).
Mulai deh misunderstending terjadi. Bapak satu memang benar-benar bapak baik, steady di dunia kebapakannya, nggak pernah ngintip dunia lainnya. Keningnya berkerut, lamaaa sekali. Kita udah tau pasti muncul pertanyaan, cuma pertanyaannya itu nggak kita sangka...
"Lho, ini anak kos jualan apa ya? Sebelumnya pernah jualan? Koq ini judulnya jualan lagi?"
"Jualan???" (sambil terus bertanya-tanya di dalam hati).
Lalu....AHA! Ini kan dunia bernuansa jawa, mestilah kata dodol diterjemahkannya sebagai jual, karena dalam bahasa Jawa, dodhol means jual!
"Oh, itu istilah anak sekarang Pak. Dodol itu artinya bloon-bloon gimanaaaa...gitu. Bukan jualan artinya."
"Wah, ketauan deh kalo saya ini jadul banget...! Jadi ini kisah-kisah tentang apa ya?"
"Tentang kehidupan di kost anak-anak mahasiswa itu, Pak."
Singkat cerita, mereka pun pulanglah dengan damai. Kita masih terkegut-kegut menemukan masih ada orang nggak ngeh artinya dodol. Memang, Yogya buka Jakarta sih. Nggak semua orang di Yogya harus paham dengan istilah-istilah anak muda, cepat menyebar layaknya api disiram bensin. Barangkali dunia memang berputar amat cepat, perubahan terjadi di mana-mana, pun di tatanan paling kecil dalam keluarga, yakni di dunia remaja. Barangkali juga Indonesia kelak menjadi Jakarta, artinya orang dengan dialek Jakarta lebih diajeni. Padahal, Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada kekayaan keragaman budaya di tanah tercinta ini. Bukan sekali ini aja kita menemukan orang-orang murni terkungkung dalam budaya tanah Yogya, tapi bagiku itu bukan kesalahan or kemunduran or kejadulan, melainkan sebuah nuansa layak dijaga dipertahankan.
Apa jadinya jika Indonesia menyiut jadi sebesar Jakarta saja???
Saturday, May 23, 2009
Si Mumun Sakit
Sore mencapai puncaknya. Beberapa kali dia mogok jalan. Dipaksa pelan-pelan, akhirnya berhenti total di depan kantor pos besar. Mau tak mau si Mumun harus opname!
Sedih kita karena Mumunlah setia menemani kita bekerja, mengantar jemput anak, melayani, bersenang-senang. Kala mulai terdengar batuk-batuk, harusnya kita berhenti sebentar check up. Namun karena kesibukan membutuhkan kehadirannya, check up itu tak pernah terlaksana. Beberapa hari ini temperaturnya agak tinggi, melebihi biasanya, walaupun tak pernah lupa kita memeriksa apakah Mumun cukup minum or tidak.
sore, saat kita Jessie berangkat ke kebaktian Sabtu, Mumun mulai rewel. Hidupnya bergantung pada pasokan gas ke mesin temperaturnya tinggi. Tak henti-henti ia berkipas supaya suhu tubuh agak sedikit turun. Jika pasokan gas berkurang sedikit, langsung ia tak mau jalan. Beberapa kali itu terjadi: di dekat Samsat Jlagran, di lampu merah dekat stasiun Tugu, di putaran dekat Hotel Garuda, di depan Hotel Mutiara di perempatan Kantor Pos Besar. Akhirnya kita mengistirahatkan Mumun di parkiran Kantor Pos, sambil menunggu dokternya datang.
Istirahat banyak cepatlah sembuh. Tak berdaya kita tanpamu...
Wednesday, April 29, 2009
Tak Sigap
Kita telpon ke sebuah lab cukup terkenal di Yogya. Penjawab teleponnya laki-laki, langsung perasaanku nggak enak pesimis, "Apa dia bisa jawab pertanyaan-pertanyaanku?" Lalu kita menanyaka tentang vaksin itu jenis papsmear harus kita ambil. Jawabannya, "Ibu tak perlu puasa, karena nanti darahnya dibekukan." Wah, kita kaget banget, orang mau HPV koq ada darah dibekukan segala. Sekali lagi kita menjelaskan ke si petugas itu soal papsmear dapat mendeteksi sel-sel ganas sebelum suntik vaksin. Lamaaa kita disuruh nunggu sementara dia tanya ke teman-temannya. Langsung deh kita putuskan hubungan teleponnya.
Di sini pentingnya front liner, di perusahaan or instansi mana pun. Begitu front linernya payah, gawat deh akibatnya. Bisa salah informasi, salah komunikasi, salah macem-macem lagi. Jarang front liner sigap melayani customer. Mungkin pikirnya, "Ah, kita kan nggak harus menguasai semua informasi, kan ada bagiannya sendiri-sendiri." Sikap mental begini ini payah: nggak mau belajar, mengandalkan orang lain tidak mementingkan citra perusahaan.
Tapi, siapa sih sekarang mau susah-susah belajar menguasai pekerjaannya, penting kan dapet gaji, tenggo, tunjangan full!
Friday, April 24, 2009
State of Mind
Dia memang terkenal dengan gaya hidupnya hijau. Di Kediri, ada kelompok para miskin dibinanya untuk membuat tas belanja, tas peralatan mandi dompet uang receh dari bekas punch sabun mandi, obat pel, kopi, dll. Lalu hasil karya itu dijual.
Melalui perjumpaan-perjumpaanku dengan beliau, kesadaran untuk menyayangi bumi semakin dalam tertanam. Beberapa kali kita membuat posting tentang menghemat pemakaian kertas, memisahkan sampah kering dari sampah basah, dll. Di tengah-tengah ketak berdayaan melihat pak sampah mencampurkan sampah kering dengan sampah basah, kita mencoba usul ke Darwis (Dasa Wisma) untuk mengangkat topik tentang hal ini. Tapi, usulku kandas di tangan sang jubir. Selain itu kita usul juga ke ketua rapatku supaya notula rapat tak perlu diperbanyak, tapi dikirim via email, jadi nggak perlu buang-buang kertas. Toh, semua peserta rapat punya laptop internet bukan lagi barang mewah. Supaya notulanya nggak diubah-ubah, dibuatlah dengan file pdf. Ketua rapat sering kita hadiri setuju, cuma realisasinya masih harus dilihat.
Jadi, kita mulai dengan diri sendiri. Memisahkan sampah kering dari sampah basah, sudah biasa. Lalu, kita membantu kawanku mengumpulkan HVS putih baru terpakai satu sisi untuk dijadikan 'buku tulis' bagi sebuah sekolah di kawasan Adisucipto. Lalu, kita memisahkan kardus kertas warna dari kertas putih. kita tahu pasti semua itu didaur ulang ya di tempat pengumpulan kertas anfal. Jangan dikira jika rumah tangga nggak memproduksi kardus bekas, banyak sekali ternyata. Di rumahku sendiri, sebulan bisa 2 sampai 3 kg! Mengerikan!
Lalu ke mana-mana kita membawa sebuah tas kain kecil. Jadi, kalo kita beli sesuatu, tak perlu tas kresek. Bertepatan dengan itu, salah satu adik ipar mengirimi kita tas sehari-hari lumayan besar. Jadi, kalo barang kecil-kecil, kita langsung masukkan ke tas aja, gak perlu kresek. Pernah juga sih kita mengalami hal memalukan sehubungan dengan memasukkan belanjaan ke tas sendiri bukan tas kresek toko. Ceritanya kita beli kaset lagu daerah anak-anak di sebuah pusat kerajinan cukup terkenal di kota ini. Tau sendiri deh kota turis, siang itu toko juga kayak ublegan cendol, orang ramai berduyun-duyun beli cinderamata di sana. Selesai bayar di kasir, kita bilang ke kasir jika kasetnya nggak usah dipakein tas kresek, langsung masuk tasku aja. Lalu kita langsung pulang. Begitu lewat di sensormatic depan pintu masuk, bunyi tuh alarm!!! Kita aja lewat di situ. Langsung kita digiring ke dekat kasir terus tasnya diperiksa. Ketemulah barang toko itu masih tertempel di sana nota pembayarannya, untungnya nggak kita buang. Penjaga toko satpamnya munduk-munduk minta maaf. Malunya itu rek..., astaga!!!! Mungkin itu bikin kita kadang-kadang males bawa tas sendiri...
Pemakaian obat nyamuk semprot udah kita ganti dengan obat nyamuk elektrik baunya mild sekali. Semprot-semprot masih kita gun dengan frekuensi mat jarang adalah parfum. Untuk fave ku Channel 05 oles, jadi gak perlu semprot-semprot terlalu sering.
Kayaknya, banyak deh masih bisa kita lakukan untuk menghijaukan bumiku. Bukan untuk apa-apa, tapi supaya generasi mendatang, anakku termasuk di dalamnya, bisa hidup dengan lebih baik.
Friday, February 6, 2009
To commit
Bagiku, menikah itu pilihan, bahkan pilihan bisa jadi masuk ke dunia penuh kebodohan. Orang jomblo nggak pernah dipusingkan dengan tetek bengek toleransi ora menyenangkan pasangan. Hidup mengalir seperti bebasnya udara. Sebaliknya orang menikah, selain direpotkan dengan berbagai macam persoalan, tapi juga meras nikmatnya surga dunia saat cinta itu terus bertumbuh dari hari ke hari. Apa pun pilihannya, masing-masing punya konsekuensinya.
Jika memilih menikah, berarti masuk ke sebuah perjanjian, diharapkan bersifat kekal adanya: sampai maut memisahkan kita, till death separate us. Bagiku, di sinilah komitmen itu menunjukkan dirinya.
Komitmen itu berasal dari kata to commit, secara sederhana artinya menjalankan. Ya, menjalankan or melaksan janji pernikahannya itu. Karena nggak ada keinginan 100% menjelma menjadi kenyataan, maka komitmen ini jadi krusial. Kayak kita sempet kaget setelah menikah ternyata pasanganku bukan 'orang pagi' tapi 'orang malam'. Padahal, kita sangat menyukai pagi bening hening. Begitu ketahuan perbedaan ini, kita dia sama-sama berusaha menyesuaikan diri. Bany kita gagalnya untuk menemaninya menjelajah malam. Abis, malam bagiku bagaikan selimut mengantarku tidur nyenyak. Kadang-kadang kita mengandalkan kopi untuk memelekkan matkita bandel ini. Pasanganku paling susah suruh bangun pagi, lha wong tidurnya malam. Makin malam, idenya makin mengalir.
Jadi, begitu deh. Kita dia mencoba menjadi pasangan tepat. Pernah nggak kesandung di dalam pernikahan? O, berkali-kali. Tapi, karena mengingat komitmen awal, pelanggaran kesalahan itu diteliti diselesaikan, lalu dilup dimasukkan ke kotak berkunci gembok ganda, kuncinya dibuang entah kemana. Isi peti itu tak bisa dikeluarkan lagi. Susah juga menjalankan kasih menutupi banyak segala dosa. Cuma, dari komitmen kayak gini kita melihat ada dinamika menarik gimana orang saling menyesuaikan diri hingga jadi pas satu sama laen. Dinamika itu berjalan terus setiap hari. Mungkin terlihat jelas kala udah jadi aki ninen. So pastilah, nggak bisa instan jadi, ada proses perlu dilalui.
Betullah pernyataan mengatakan, "setelah menikah, jadilah orang tepat untuk pasangannya."
Thursday, December 25, 2008
Gereja Masa Kecil
Kita sih seneng-seneng aja liburan kayak gini, cuma ada satu sering bikin kita nggak enak hati. Aneh ya, suasana liburan jadi bikin pergi ke gereja itu sesuatu janggal. Jika lagi liburan keluarga begini, pergi ke gereja jadi sesuatu rasanya terasa tak pada tempatnya. Cuma, tahun ini kita bersikeras ke gereja saat Natal, walau itu berarti kita harus bangun pagi-pagi, nggak sempet sarapan pagi pergi naik taksi di Jakarta.
Akhirnya kita berhasil bangun pk 05.00, lalu siap-siap. Gawatnya Jessie lebih memilih tidak ke gereja karena keluarga mau jalan-jalan di pantai segudang aktivitas tentunya lebih menarik buat anak kecil tinimbang duduk sejam setengah di gereja. Kita bujukin, kita marahin, tetep nggak mempan. Jadi kita berangkat ke gereja dengan setengah bersedih hati.
Kenapa sih kita bersikeras ke gereja? Kalo mau gampang kita tinggal klik situsnya gerejaku, or gereja berbahasa Indonesia di Singapura memuat suara pendeta sedang berkhotbah. Tapi kita mau hadir di gereja di saat penting ini karena: nggak banyak kala untuk merenungkan betapa banyak berkat-Nya dalam kehidupan ini, mengingat pertolongan Tuhan Yesus setahun ini (terlebih kala kami kehilangan Mas Janni), kemurahan-Nya senantiasa tercurah setiap kali kita minta order kerjaan, berkat kesehatan kepandaian untuk anak semata wa keutuhan keluarga. Masak berkat-Nya melimpah kita nggak bisa nyediain kala 2 jam aja untuk kebaktian Natal?
Setelah tanya sana sini, akhirnya kita memutuskan ke Gunsa 4. Itu gerejkita kala masih kecil. Masih jelas di ingatanku jika kita 'setia' ke sana setiap minggu, walaupun harus naik bajaj sendirian. Kalo diingat-ingat seberapa banyak sih bisa diserap anak umur 14 tahun dari khotbah di kebaktian dewasa? Cuman kita inget aja betapa tenangnya kita jika kebaktian selesai.
Gereja itu masih tetep sama.Pendeta berkhotbah adalah pendeta dari kita kecil sudah melayani di sana. Pendeta ini sudah tua, keriput-keriput di mukanya juga jelas terlihat, namun suaranya masih setegar sejelas dulu sekala muda. Kebaktiannya betul-betul menenangkan aku. Tingkah denting piano lompatan lincah klarinet mengiringi perpaduan lagu-lagu klasik modern dengan cantiknya. Paduan suara sudah dipersiapkan dengan baik, jadi cengkak-cengkok Unto Us a Child is Born or Hallelujah Chorus mulus terlewati. Kebaktian diakhiri dengan Hallelujah Chorus, jemaat menutupnya dengan bersama-sama menyanyikan refrainnya.
Selamat Natal semua. Kiranya kasih kemurahan Tuhan membuat kita terus berharap, walau ada kemungkinan kita menjadi tawar hati saat krisis ekonomi menjadi badai besar di tanah air.
Thursday, November 6, 2008
Pekerjaan Menunggu
Nunggu tuh kerjaan bukan ya? Soalnya nggak keliatan kerja, diem aja. Tapi dibilang bukan kerjaan koq ya menghabiskan waktu. lucu, menunggu bisa terjadi di mana-mana, berulang kali, dengan sengaja dilakukan, bahkan dimodif.
Sebagian besar kerjaan ibu rumah tangga itu menunggu. Mulai dari menunggu tomat dididihkan, menunggu air panas untuk mandi, menunggu nasi ditanak, menunggu tukang ini itu dateng, menunggu suami pulang, menunggu anak les, dll seribu satu macam pekerjaan menunggu.
kita terbiasa menunggu, kadang-kadang kita sabar tapi bany nggak sabarannya. Daripada ngomel-ngomel, udah sejak lama kita berbekal buku kemana-mana, supaya kalo kita terpaksa harus menunggu, kita punya sesuatu untuk dilakukan. Mungkin buku selalu kita sedi itu Reader’s Digest (edisi Indo lah, kalo baca Inggris bisa keriting terus malah jadi mencak-mencak). Tapi, kalo lagi banyak membutuhkan referensi, bukunya jadi ‘berat’. Kalo udah begini, baca buku saat menunggu bukan lagi killing time tapi mendingan ngelamun kali…
Jadi, menunggu buat kita itu sebuah kesempatan langka ma uterus kita eksplor. So far sih kita menuruti kata hati aja. Kalo lagi pas bosen baca, ya kita ngelamun sambil mencermati apa kita tungguin, misalnya ngeliatin ger tarinya Jessie. Or ngeliatin dia renang. Kalo pas harus baca ref kita paksain deh baca, karena pas nunggu ini ada waktunya.
Tuesday, September 23, 2008
Air Keruh
Beberapa hari lalu, air di rumahku menyoklat. Bukan menguning lho, tapi benar-benar coklat! Kayak air the kental. Wah, susah hati deh kalo udah gitu. Soalnya, tahun-tahun lalu, kalo air udah rusak warnanya, nggak lama lagi mati. Abis nguras bak sampe nggak berani diisi lagi.
Wednesday, September 17, 2008
Linglung
Kemaren kita kongsiku sempat ngobrol. Kesempatan begini ini jarang, karena kami harus lari ke
Friday, September 5, 2008
Has Gone
Kala ditengok sih udah bisa ketawa-ketawa, tapi who knows the inside? Kalo udah begini, nyata betul betapa kelahiran janin itu sebuah anugerah. Betapa riskannya kehidupan janin di dalam kandungan. Kesalahan or ketidak tahuan sedikit aja, bisa berakibat fatal. Apalagi sekarang banyak virus mematikan herannya doyan bener menyerang wanita hamil…