Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Galeri Bunda, memberi solusi dengan alternatif kerudung yang sesuai dengan tuntutan dunia modern saat ini tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman bagi pemakainya.
Berbagai corak dan variasi warna yang menawan dipadu dengan design apik dari model pendek hingga panjang akan memberi pilihan bagi para pengguna untuk disesuaikan dengan busana yang dikenakan dan suasana yang dihadapi.
Selamat menikmati koleksi kerudung cantik dan eksklusif di Galeri Bunda dan tetaplah untuk tampil cantik dalam nuansa beribadah kepada Allah SWT.
Untuk type (model), corak dan warna kerudung terbaru yang saat ini available bisa dilihat di ‘Our Collections’.
Untuk Produk terbaru dan paling update dari Galeri Bunda, bisa dilihat di Facebook Page : galeribunda
Home » All posts
Friday, August 28, 2009
Thursday, August 20, 2009
Towel Cake (sport towel)
Souvenir siraman/perkawinan berupa sport towel/handuk olahraga yang dibentuk berbagai macam kue seperti roll cake & tart sangat menarik untuk dijadikan pilihan souvenir di hari istimewa seperti perkawinan/siraman pengantin.Kode ST01/ST02/ST03Harga Rp. 16.000/pcs Minimal Pembelian 10 pcsHarga belum termasuk ongkos kirimKode ST04/ST05/ST06Harga Rp. 16.000/pcs(ST04) Rp. 23.000/pcs (ST05-06)Minimal
Towel Cake (face towel)
Souvenir perkawinan berupa towel/handuk yang dibentuk berbagai macam kue sangat menarik untuk dipilih.Kode FT01/FT02/FT03Kode FT04 - ice cream /FT05 - lolly popFT 06 - ice cream coneUkuran saputangan 25x25cmHarga Rp. 7.500/pcs Minimal Pembelian 50 pcsHarga belum termasuk ongkos kirim
Monday, August 3, 2009
Friend
a person we only know by name, but we never met
a person we met but we don't now by name
A Friend is
an Aquaintance who we'd share information, stuff, stories
an Aquaintance who we'd share friends
A Good Friend is
a Friend who understands us
a Friend who is sometimes around to come to
a Friend who showed us our mistake risking the friendship it self
a Friend who wished all the best for us
A Best Friend is
a Good Friend who we feel secure with
a Good Friend who is always around to come to
a Good Friend who wished and did all the best for us
a Good Friend who push aside her troubles to step into ours
A Lover is
a Best Friend who might be a spouse in the future :D
A Spouse is
a Lover to whom we make love...halal & freely! =))
a Lover with whom we share our beloved children
a Lover with whom we want to spend the rest of our life with
*To Kenya, happy 25 years of friendship
Thursday, July 30, 2009
Heboh Pagi
Seharian sangat melelahkan. Secara fisik lelah, tapi benak juga lelah karena mikirin cari nama, Gara-gara itu diskusi intensif dengan adik iparku sampe lewat tengah malam, pagi ini kita kesiangan. Kalo Jessie nggak bangunin, mungkin kita bisa tidur sampe siang, kali.
Bangun-bangun udah pk. 05.20, padahal mungkin kita bangun paling laat pk. 05.00. Cepet-cepet kita siapin bagelen buat sarapan Jessie, masak air panas. Selintas kita denger Jessie belajar Mandarin. Dalam hati kita khawatir, "Piye, belajar cuma 20 menit, apa nyantol?" Tapi kita diem aja, karena kalo kita tanya nanti dia tambah panik. Lalu kita bantuin dia nyusun buku pelajaran hari ini, alat tulisnya. Lalu tanya-tanyaan Mandarin sama dia, mana pelafalanku kan nggak good, jadi susah juga. Akhirnya kami selesai pk 06.25. Cepet-cepet mandi, berpakaian, berangkat deh. Puji Tuhan, misukita bisa dapetin rumah dekat sekolah, jadi 15 menit paling lama, udah nyampe sekolah. Sesampainya di sekolah, belum banyak mobil parkir, berarti banyak juga kesiangan, kirain cuma sendiri...
Pulang nganter, kita beli sarapan di Bu Joyo. Pulangnya dari situ rada ribet. Udah ada kali dua bulanan ini di Jl. Magelang itu lajur kiri buat motor. Berarti kita kan harus masuk jalur kanan, karena warung Bu Joyo di kiri jalan. Nungguin laju motor sepi itu lama, karena banyak orang menuju kota di pagi hari. Udah bisa masuk, problem muncul lagi kala mau masuk ke gang rumahku juga di kiri jalan, karena nggak jauh sebelum gang ku itu ada polantas berdiri di atas podium kecil untuk mengarahkan agar motor berada di jalur kiri. Akhirnya kita nyalain sign agak jauh dari depan sambil melanin laju mobil. Pelaaaan...banget, sampe motor di belakangku masih agak jauh, barulah kita belokin si Mumun ke gang.
Bener-bener heboh pagi ini. Bangun kesiangan sih, ha...ha...ha...
Bangun-bangun udah pk. 05.20, padahal mungkin kita bangun paling laat pk. 05.00. Cepet-cepet kita siapin bagelen buat sarapan Jessie, masak air panas. Selintas kita denger Jessie belajar Mandarin. Dalam hati kita khawatir, "Piye, belajar cuma 20 menit, apa nyantol?" Tapi kita diem aja, karena kalo kita tanya nanti dia tambah panik. Lalu kita bantuin dia nyusun buku pelajaran hari ini, alat tulisnya. Lalu tanya-tanyaan Mandarin sama dia, mana pelafalanku kan nggak good, jadi susah juga. Akhirnya kami selesai pk 06.25. Cepet-cepet mandi, berpakaian, berangkat deh. Puji Tuhan, misukita bisa dapetin rumah dekat sekolah, jadi 15 menit paling lama, udah nyampe sekolah. Sesampainya di sekolah, belum banyak mobil parkir, berarti banyak juga kesiangan, kirain cuma sendiri...
Pulang nganter, kita beli sarapan di Bu Joyo. Pulangnya dari situ rada ribet. Udah ada kali dua bulanan ini di Jl. Magelang itu lajur kiri buat motor. Berarti kita kan harus masuk jalur kanan, karena warung Bu Joyo di kiri jalan. Nungguin laju motor sepi itu lama, karena banyak orang menuju kota di pagi hari. Udah bisa masuk, problem muncul lagi kala mau masuk ke gang rumahku juga di kiri jalan, karena nggak jauh sebelum gang ku itu ada polantas berdiri di atas podium kecil untuk mengarahkan agar motor berada di jalur kiri. Akhirnya kita nyalain sign agak jauh dari depan sambil melanin laju mobil. Pelaaaan...banget, sampe motor di belakangku masih agak jauh, barulah kita belokin si Mumun ke gang.
Bener-bener heboh pagi ini. Bangun kesiangan sih, ha...ha...ha...
Monday, July 13, 2009
Phon Buku Tulis Baru
Hari Minggu kita mengajak Jessie menyiapkan buku-buku tulisnya untuk kelas 4. Namanya menyiapkan berarti mengeluarkan buku tulis kelas 3 membersihkan rak meja tulisnya.
Sebelum ini Jessie memang sudah beli beberapa buku tulis, tapi bukan paketan, karena khawatir kertas isinya nggak sebagus sampulnya. Tahun lalu dia beli satu paket, ternyata depannya doang bagus, isinya tipis mudah robek. Jadi, ceritanya dia nggak mau mengulangi kesalahan tahun lalu.
Masalahnya, setelah buku tulis kelas 3 dikeluarkan, ada beberapa buku baru terpakai sedikit, nggak sampe setengahnya malah. Jadi, kita minta Jessie memakai buku lama itu menyampulnya ulang supaya menyenangkan dilihatnya. "Masak sih Mom, kita nggak boleh pake buku baru? Ini kan sampulnya udah robek?" Jessie mulai mengajuk. Kita liat sampul buku tulis itu memang sudah robek. Kita nggak bilang ya, juga nggak bilang tidak. Kita diam saja sambil menyiapkan buku tulis baru untuk mata pelajaran lainnya. Begitu udah mau selesai, kami kembali diperhadapkan dengan buku peer bahasa Indonesia bahasa Jawa masih banyak itu tadi. Entah ada angin apa, bisa-bisanya kita berujar begini, "Jess, pake ya buku lama ini? Sa deh kalo nggak dipake lagi, kan masih banyak lembarannya? Kita cari sampul bagus yuk di kamar kerja? Lagian, kalo kertas-kertas ini nggak dipake, sa kan pohon-pohon ditebang untuk membuatnya dulu?" Lalu dia berpikir cukup lama, akhirnya nurut.
Kita tercenung-cenung. Masak sih anakku harus selalu diberi pengertian agak jauh ke depan? Koq dia nggak mau ya terima penjelasan sederhana, sesuai dunia kanak-kanaknya? Ndilalah, kita juga kadang-kadang nggak bisa berpikir seperti dunia anak-anak, kali kebany dicekokin slogan 'go green.'
Jadi, ada hubungannya tuh antara pohon buku tulis. Jawabannya A, ha...ha...ha...
Sebelum ini Jessie memang sudah beli beberapa buku tulis, tapi bukan paketan, karena khawatir kertas isinya nggak sebagus sampulnya. Tahun lalu dia beli satu paket, ternyata depannya doang bagus, isinya tipis mudah robek. Jadi, ceritanya dia nggak mau mengulangi kesalahan tahun lalu.
Masalahnya, setelah buku tulis kelas 3 dikeluarkan, ada beberapa buku baru terpakai sedikit, nggak sampe setengahnya malah. Jadi, kita minta Jessie memakai buku lama itu menyampulnya ulang supaya menyenangkan dilihatnya. "Masak sih Mom, kita nggak boleh pake buku baru? Ini kan sampulnya udah robek?" Jessie mulai mengajuk. Kita liat sampul buku tulis itu memang sudah robek. Kita nggak bilang ya, juga nggak bilang tidak. Kita diam saja sambil menyiapkan buku tulis baru untuk mata pelajaran lainnya. Begitu udah mau selesai, kami kembali diperhadapkan dengan buku peer bahasa Indonesia bahasa Jawa masih banyak itu tadi. Entah ada angin apa, bisa-bisanya kita berujar begini, "Jess, pake ya buku lama ini? Sa deh kalo nggak dipake lagi, kan masih banyak lembarannya? Kita cari sampul bagus yuk di kamar kerja? Lagian, kalo kertas-kertas ini nggak dipake, sa kan pohon-pohon ditebang untuk membuatnya dulu?" Lalu dia berpikir cukup lama, akhirnya nurut.
Kita tercenung-cenung. Masak sih anakku harus selalu diberi pengertian agak jauh ke depan? Koq dia nggak mau ya terima penjelasan sederhana, sesuai dunia kanak-kanaknya? Ndilalah, kita juga kadang-kadang nggak bisa berpikir seperti dunia anak-anak, kali kebany dicekokin slogan 'go green.'
Jadi, ada hubungannya tuh antara pohon buku tulis. Jawabannya A, ha...ha...ha...
Friday, July 10, 2009
Melewati Kelam Malam
Ada perbedaan cukup signifikan dalam diriku. Ini sangat terasa ketika memasuki usia 40 tahun, kita banyak berjumpa dengan kedukaan. pertama adalah kepergian suaminya kongsi usahaku, hampir dua tahun lalu. Mungkin kita lega lilo jika melayat, kali itu kebingungan kesedihan melandkita karena kepergian almarhum sangat mendadak. Sejak itu kita gamang jika menginjakkan kaki di rumah kedukaan. Tapi, kehidupan kan harus berjalan terus, kita nggak bisa kan memanj diri dengan terus berkubang di momen-momen traumatis, maka kita memulihkan diri cukup cepat.
Dalam proses pemulihan itu kita memelajari kenapa orang merasa takut menghadapi kematian. Nggak usah kematian, tapi kondisi pingsan or mulai tak sadarkan diri pun kadang-kadang menjadi sangat menakutkan. Mungkin kehilangan kontrol diri kegamangan apa ada di hadapannya, membuat ketakutan itu makin menjadi-jadi. Apalagi jika tak seorang pun di sana mendampingi saat-saat maut itu menjelang. Mungkinkah ini diras oleh sahabatku almarhumah, Martha?
Malam juga menjadi malam panjang menakutkan bagiku saat sms telepon dari adik iparku masuk, "Ya...Mama gimana, kasihan banget. Nggak bisa minum obat, minum teh aja netes-netes, susah banget nelennya. Kala Aiai mau dipamitin ke omanya, ranjang Mama udah basah. Mama ngompol nggak berasa, Ya. Gimana nih, kasihan banget? Kita semua khawatir di sini." Dia cerita sambil nangis-nangis, soalnya sebelum dibawa ke rumah sakit kondisi Mama emang lemes karena muntah-muntah terus, tapi masih bisa jalan sendiri, masih aware terhadap kondisi dirinya. Setelah satu hari di rumah sakit koq malah drop. Nah itu..., mulailah ketakutan memompkita deras. Mana malam kita hanya berdua dengan Jessie, karena suami dinas luar kota. Akhirnya dengan tak berdaya kita menghampiri hadirat Ilahi bersama Jessie. Kami berdoa sambil menangis karena tak berdaya jauh dari Mama sedang sakit. Setelah itu kita mengirim sms ke pendeta-pendetkita untuk minta dukungan doa. Nggak lama kemudian Papa telepon, ngabarin kalo dia lagi siap-siap menuju Jakarta dari Purwakarta, dijemput sopirnya adikku. Kita memutuskan ke Jakarta Sabtu ini jika sampai ada apa-apa, setelah rundingan dengan suami. HP ku juga nyala terus sepanjang malam. Kita mungkin tahan dingin, malam kedinginan sampai ke ujung-ujung jari kaki. Kira-kira pk 00.40 kita terbangun karena mendadak batuk hebat. Akhirnya kita bangun, minum obat batuk neuralgin, pakai kaos kaki mematikan HP. Kita terbangun pk 04.30 dengan ba remuk tanda tanya besar menggelayut dalam hatiku.
Jika kita telusuri lagi, malam betul-betul panjang kelam, harapan melihat sinar mentari terasa jauuuh lamaaa banget. Saat pagi menjelang, kita sms adik iparku lagi puji Tuhan, kondisi Mama membaik. Sudah sadar sudah bisa nanyain berita cucunya paling kecil. Kita betul-betul lega, Mama dalam perawatan tangan-tangan trampil. Cepat pulih ya Mom, kan kita mau ngerayain ultah Khun, Didi, Papa Andre bareng-bareng...
Dalam proses pemulihan itu kita memelajari kenapa orang merasa takut menghadapi kematian. Nggak usah kematian, tapi kondisi pingsan or mulai tak sadarkan diri pun kadang-kadang menjadi sangat menakutkan. Mungkin kehilangan kontrol diri kegamangan apa ada di hadapannya, membuat ketakutan itu makin menjadi-jadi. Apalagi jika tak seorang pun di sana mendampingi saat-saat maut itu menjelang. Mungkinkah ini diras oleh sahabatku almarhumah, Martha?
Malam juga menjadi malam panjang menakutkan bagiku saat sms telepon dari adik iparku masuk, "Ya...Mama gimana, kasihan banget. Nggak bisa minum obat, minum teh aja netes-netes, susah banget nelennya. Kala Aiai mau dipamitin ke omanya, ranjang Mama udah basah. Mama ngompol nggak berasa, Ya. Gimana nih, kasihan banget? Kita semua khawatir di sini." Dia cerita sambil nangis-nangis, soalnya sebelum dibawa ke rumah sakit kondisi Mama emang lemes karena muntah-muntah terus, tapi masih bisa jalan sendiri, masih aware terhadap kondisi dirinya. Setelah satu hari di rumah sakit koq malah drop. Nah itu..., mulailah ketakutan memompkita deras. Mana malam kita hanya berdua dengan Jessie, karena suami dinas luar kota. Akhirnya dengan tak berdaya kita menghampiri hadirat Ilahi bersama Jessie. Kami berdoa sambil menangis karena tak berdaya jauh dari Mama sedang sakit. Setelah itu kita mengirim sms ke pendeta-pendetkita untuk minta dukungan doa. Nggak lama kemudian Papa telepon, ngabarin kalo dia lagi siap-siap menuju Jakarta dari Purwakarta, dijemput sopirnya adikku. Kita memutuskan ke Jakarta Sabtu ini jika sampai ada apa-apa, setelah rundingan dengan suami. HP ku juga nyala terus sepanjang malam. Kita mungkin tahan dingin, malam kedinginan sampai ke ujung-ujung jari kaki. Kira-kira pk 00.40 kita terbangun karena mendadak batuk hebat. Akhirnya kita bangun, minum obat batuk neuralgin, pakai kaos kaki mematikan HP. Kita terbangun pk 04.30 dengan ba remuk tanda tanya besar menggelayut dalam hatiku.
Jika kita telusuri lagi, malam betul-betul panjang kelam, harapan melihat sinar mentari terasa jauuuh lamaaa banget. Saat pagi menjelang, kita sms adik iparku lagi puji Tuhan, kondisi Mama membaik. Sudah sadar sudah bisa nanyain berita cucunya paling kecil. Kita betul-betul lega, Mama dalam perawatan tangan-tangan trampil. Cepat pulih ya Mom, kan kita mau ngerayain ultah Khun, Didi, Papa Andre bareng-bareng...
Subscribe to:
Posts (Atom)