Sunday, February 15, 2009

Hukum Islam Tentang Donor ASI

(sumber saya dari milis sehat)

Dear Pak Untung,

Insya Allah sudah dipertimbangkan dg dalam. Sebelum melakukan apapun biasanya saya mengkonfrimasi ke ahlinya. Dan informasi yg saya dapat bahwa tidak semudah itu hukum saudara sepersusuan dijatuhkan. Ada persyaratan sendiri utk menjadi saudara sepersusuan, spt :

- menyusui langsung (bukan minum ASI peras),
- dilakukan selama 5 hari berturut-turut,
- anak berusia dibawah 2 tahun,
- dan si bayi tidak minum apapun kecuali asi (eksklusif).

Dan semua syarat itu harus ada. Komplit. Gak hanay separuh2 saja. Jika ya terpenuhi semua, baru jatuh hukum saudara sepersusuan atau muhrim.

Referensi tsb dijelaskan detail oleh Yusuf Qardawi di bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer. Insya Allah shahih.

Jadi kalo memberikan ASI peras bahkan menyusui sekali kepada seorg anak gak akan membuat ia menjadi muhrim utk anak kita.

Saya posting artikel dari fatwa tsb.

Tapi sekali lagi ini masalah keyakinan. Semua kembali ke kita masing ya pak. Kita jalankan yg yakin menurut kita. Mohon maaf bagi yg non muslim jika bahasan ini membahas soal agama. Karena kondisi ini masih related dg kesehatan dan berulang kali ditanyakan, maka rasanay perlu dishare kemabli agar tidak menimbulkan kebingungan.

Maaf jika tidak berkenan
Luluk

-------------------------------------

(Bagian 1/2, 2/2)
Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press


BANK SUSU (1/2)
Dr. Yusuf Qardhawi

Pertanyaan

Anak yang lahir prematur harus memerlukan perawatan tersendiri dalam suatu jangka waktu yang kadang-kadang lama, sehingga air susu ibunya melimpah-limpah.

Kemudian si anak mengalami kemajuan sedikit demi sedikit meski masih disebut rawan, tetapi ia sudah dibolehkan untuk minum air susu. Sudah dimaklumi bahwa air susu yang dapat menjalin hubungan nasab dan paling dapat menjadikan jalinan kasih sayang (kekeluargaan) adalah air susu manusia (ibu).

Beberapa yayasan berusaha menghimpun susu ibu-ibu yang sedang menyusui agar bermurah hati memberikan sebagian air susunya. Kemudian susu itu dikumpulkan dan disterilkan untuk diberikan kepada bayi-bayi prematur pada tahap kehidupan yang rawan ini, yang kadang-kadang dapat membahayakannya bila diberi susu selain air susu ibu (ASI).

Sudah barang tentu yayasan tersebut menghimpun air susu dari puluhan bahkan ratusan kaum ibu, kemudian diberikan kepada berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus bayi prematur, laki-laki dan perempuan ... tanpa saling mengetahui dengan jelas susu siapa dan dikonsumsi siapa, baik pada masa sekarang maupun masa mendatang. Hanya saja, penyusuan ini tidak terjadi secara langsung, yakni tidak langsung menghisap dari tetek.

Maka, apakah oleh syara' mereka ini dinilai sebagai saudara?
Dan haramkah susu dari bank susu itu meskipun ia turut andil dalam menghidupi sekian banyak jiwa anak manusia?

Jika mubah dan halal, maka apakah alasan yang memperbolehkannya? Apakah Ustadz memandang karena tidak menetek secara langsung? Atau karena ketidakmungkinan memperkenalkan saudara-saudara sesusuan --yang jumlah mereka sangat sedikit-- dalam suatu masyarakat yang kompleks, artinya jumlah sedikit yang sudah membaur itu tidak mungkin dilacak atau diidentifikasi?

Jawaban

Segala puji kepunyaan Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa ba'du.

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan diadakannya bank air susu ibu sebagaimana dipaparkan dalam pertanyaan adalah tujuan yang baik dan mulia, yang didukung oleh Islam, untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, apa pun sebab kelemahannya.
Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang lahir prematur yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.

Tidak disangsikan lagi bahwa perempuan yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan air susunya itu boleh dibeli darinya, jika ia tak berkenan menyumbangkannya, sebagaimana ia diperbolehkan mencari upah dengan menyusui anak orang lain, sebagaimana nash

Al-Qur'an serta contoh riil kaum muslim.

Juga tidak diragukan bahwa yayasan yang bergerak dalam bidang pengumpulan "air susu" itu --yang mensterilkan serta memeliharanya agar dapat dikonsumsi oleh bayi-bayi atau anak-anak sebagaimana yang digambarkan penanya-- patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.

Lalu, apa gerangan yang dikhawatirkan dibalik kegiatan yang mulia ini?

Yang dikhawatirkan ialah bahwa anak yang disusui (dengan air susu ibu) itu kelak akan menjadi besar dengan izin Allah, dan akan menjadi seorang remaja di tengah-tengah masyarakat, yang suatu ketika hendak menikah dengan salah seorang dari putri-putri bank susu itu. Ini yang dikhawatirkan, bahwa wanita tersebut adalah saudaranya sesusuan. Sementara itu dia tidak mengetahuinya karena memang tidak pernah tahu siapa saja yang menyusu bersamanya dari air susu yang ditampung itu. Lebih dari itu, dia tidak tahu siapa saja perempuan yang turut serta menyumbangkan ASI-nya kepada bank susu tersebut, yang sudah tentu menjadi ibu susuannya. Maka haram bagi ibu itu menikah dengannya dan haram pula ia menikah dengan putri-putri ibu tersebut, baik putri itu sebagai anak kandung (nasab) maupun anak susuan. Demikian pula diharamkan bagi pemuda itu menikah dengan saudara-saudara perempuan ibu tersebut, karena mereka sebagai bibi-bibinya. Diharamkan pula baginya menikah dengan putri dari suami ibu susuannya itu dalam perkawinannya dengan wanita lain --menurut pendapat jumhur fuqaha-- karena mereka adalah saudara-saudaranya dari jurusan ayah ... serta masih banyak masalah dan hukum lain berkenaan dengan susuan ini.

Oleh karena itu, saya harus membagi masalah ini menjadi beberapa poin, sehingga hukumnya menjadi jelas.

Pertama, menjelaskan pengertian radha' (penyusuan) yang menjadi acuan syara' untuk menetapkan pengharaman.

Kedua, menjelaskan kadar susuan yang menjadikan haramnya perkawinan.

Ketiga, menjelaskan hukum meragukan susuan.

Pengertian Radhn' (Penyusuan)

Makna radha' (penyusuan) yang menjadi acuan syara' dalam menetapkan pengharaman (perkawinan), menurut jumhur fuqaha -termasuk tiga orang imam mazhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi'i-- ialah segala sesuatu yang sampai ke perut bayi melalui kerongkongan atau lainnya, dengan cara menghisap atau lainnya, seperti dengan al-wajur (yaitu menuangkan air susu lewat mulut ke kerongkongan), bahkan mereka samakan pula dengan jalan as-sa'uth yaitu menuangkan air susu ke hidung (lantas ke kerongkongan), dan ada pula yang berlebihan dengan menyamakannya dengan suntikan lewat dubur (anus).

Tetapi semua itu ditentang oleh Imam al-Laits bin Sa'ad, yang hidup sezaman dengan Imam Malik dan sebanding (ilmunya) dengan beliau. Begitu pula golongan Zhahiriyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Al-Allamah Ibnu Qudamah menyebutkan dua riwayat dari Imam Ahmad mengenai wajur dan sa'uth.

Riwayat pertama, lebih dikenal sebagai riwayat dari Imam Ahmad dan sesuai dengan pendapat jumhur ulama: bahwa pengharaman itu terjadi melalui keduanya (yakni dengan memasukkan susu ke dalam perut baik lewat mulut maupun lewat hidung). Adapun yang melalui mulut (wajur), karena hal ini menumbuhkan daging dan membentuk tulang, maka sama saja dengan menyusu. Sedangkan lewat hidung (sa'uth), karena merupakan jalan yang dapat membatalkan puasa, maka ia juga menjadi jalan terjadinya pengharaman (perkawinan) karena susuan, sebagaimana halnya melalui mulut.

Riwayat kedua, bahwa hal ini tidak menyebabkan haramnya perkawinan, karena kedua cara ini bukan penyusuan. Disebutkan di dalam al-Mughni "Ini adalah pendapat yang dipilih Abu Bakar, mazhab Daud, dan perkataan Atha' al-Khurasani mengenai sa'uth, karena yang demikian ini bukan penyusuan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya hanya mengharamkan (perkawinan) karena penyusuan. Karena memasukkan susu lewat hidung bukan penyusuan (menghisap puting susu), maka ia sama saja dengan memasukkan susu melalui luka pada tubuh."

Sementara itu, pengarang al-Mughni sendiri menguatkan riwayat yang pertama berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud yang diriwayatkan oleh Abu Daud:

"Tidak ada penyusuan1 kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan daging"

Hadits yang dijadikan hujjah oleh pengarang kitab al-Mughni ini sebenarnya tidak dapat dijadikan hujjah untuknya, bahkan kalau direnungkan justru menjadi hujjah untuk menyanggah pendapatnya. Sebab hadits ini membicarakan penyusuan yang mengharamkan perkawinan, yaitu yang mempunyai pengaruh (bekas) dalam pembentukan anak dengan membesarkan tulang dan menumbuhkan dagingnya. Hal ini menafikan (tidak memperhitungkan) penyusuan yang sedikit, yang tidak mempengaruhi pembentukan anak, seperti sekali atau dua kali isapan, karena yang demikian itu tidak mungkin mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging. Maka hadits itu hanya menetapkan pengharaman (perkawinan) karena penyusuan yang mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging. Oleh karena itu, pertama-tama harus ada penyusuan sebelum segala sesuatunya (yakni penyusuan itu merupakan faktor yang utama dan dominan; Penj.).

Selanjutnya pengarang al-Mughni berkata, "Karena dengan cara ini air susu dapat sampai ke tempat yang sama --jika dilakukan melalui penyusuan-- serta dapat mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging sebagaimana melalui penyusuan, maka hal itu wajib disamakan dengan penyusuan dalam mengharamkan (perkawinan). Karena hal itu juga merupakan jalan yang membatalkan puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia juga merupakan jalan untuk mengharamkan perkawinan sebagaimana halnya penyusuan dengan mulut."

Saya mengomentari pengarang kitab al-Mughni rahimahullah, "Kalau 'illat-nya adalah karena mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging dengan cara apa pun, maka wajib kita katakan sekarang bahwa mentransfusikan darah seorang wanita kepada seorang anak menjadikan wanita tersebut haram kawin dengan anak itu, sebab transfusi lewat pembuluh darah ini lebih cepat dan lebih kuat pengaruhnya daripada susu. Tetapi hukum-hukum agama tidaklah dapat dipastikan dengan dugaan-dugaan, karena persangkaan adalah sedusta-dusta perkataan, dan persangkaan tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran."

Menurut pendapat saya, asy-Syari' (Pembuat syariat) menjadikan asas pengharamnya itu pada "keibuan yang menyusukan" sebagaimana firman Allah ketika menerangkan wanita-wanita yang diharamkan mengawininya:

"... dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan ..." (an-Nisa': 23)

Adapun "keibuan" yang ditegaskan Al-Qur'an itu tidak terbentuk semata-mata karena diambilkan air susunya, tetapi karena menghisap teteknya dan selalu lekat padanya sehingga melahirkan kasih sayang si ibu dan ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal (pokok), sedangkan yang lain itu mengikutinya.

Dengan demikian, kita wajib berhenti pada lafal-lafal yang dipergunakan Syari' di sini. Sedangkan lafal-lafal yang dipergunakanNya itu seluruhnya membicarakan irdha' dan radha'ah (penyusuan), dan makna lafal ini menurut bahasa Al-Qur'an dan As-Sunnah sangat jelas dan terang, yaitu memasukkan tetek ke mulut dan menghisapnya, bukan sekadar memberi minum susu dengan cara apa pun.

Saya kagum terhadap pandangan Ibnu Hazm mengenai hal ini. Beliau berhenti pada petunjuk nash dan tidak melampaui batas-batasnya, sehingga mengenai sasaran, dan menurut pendapat saya, sesuai dengan kebenaran.

Saturday, February 14, 2009

Anak Kecil

Sepanjang kita terjun di pelayanan, jarang sekali, bahkan nggak pernah kita menaruh perhatian pada pelayanan anak kecil. Selain karakter pribadiku rupkita kata banyak orang galak abizz, pelayanan ini menurutku sangat krusial. Melayani mahasiswa jauh lebih gampang dibanding mengajar anak sekolah Minggu memahami Alkitab. Jiwa mereka masih halus sangat rentan dimasuki paham-paham menyimpang dari kebenaran Alkitab.

Minggu lalu saat mengantar order kaos, guru sekolah minggu curhat. Katanya di pos itu dia hanya sendirian mengajar, nggak ada bantu, padahal hadir lebih dari 20 anak. Kita masih inquiry terus ke guru ini tentang sekolah minggu itu. Biasalah, jika biasa wawancarain orang, bawaannya kan kepengen tau sebener-benernya. Dari hasil ngobs itu memang kondisinya menyedihkan.

Entah kenapa, tiba-tiba aja kita bisa nyeletuk untuk mencoba hadir dulu di sana melihat kondisi ada. Pikirku, nekat juga nih. Pengalaman mengajar anak sama sekali nol, kecuali mengajar Jessie, kata misukita kayak pangkostrad mengajar anak buahnya, ha...ha...ha...!

Akhirnya kita datang mempelajari situasi minggu lalu. Asli, itu dunia asing samsek. Kita hanya bisa senyam-senyum melihat kelakuan anak-anak beraneka, kayak gado-gado gitu deh. Ada nguap, ada memandang kosong entah ke mana saat diajak bernyanyi, ada ngobrol sendiri, dll. Kesanku sih kita musti kuat-kuatin tekad kalo memang dibutuhkan di sini untuk terjun. Ceritanya kita ngernet dulu, baru bisa jadi sopir.

Hari ini kita datang ke sana. Anaknya cuma 3, berempat sama Jessie. Guru lain belum ada datang. Langsung otakku nyari-nyari stok permainan masih kita hafal. Syukurlah tak lama kemudian datang guru sepasang suami istri. Lalu berjalanlah sekolah minggu hari ini. Kali ini kita banyak merenung sambil mendengarkan rekanku mengajar, betapa perlunya kita menundukkan diri pada kuasa Ilahi agar bisa mengantarkan anak-anak ini mengenal Tuhan Yesus. Betapa pentingnya juga kita memiliki hubungan intim mesra dengan Tuhanku, supaya anak-anak ini juga tahu gimana mengalami Tuhan di dalam kehidupannya. Banyaklah harus kita perbaiki di dalam spiritualitasku.

Bukannya anak-anak belajar dari aku, malah kita lebih dulu belajar dari ketulusan mereka, ketaatan mereka kesetiaan mereka. New adventure...

Tuesday, February 10, 2009

Izin Lagi?

Perasaan belum pernah deh hari-hari or bulan-bulan di awal tahun kita serepot ini. Dalam dua bulan ini kita sudah dua kali pelayanan ke luar kota. Kita sih seneng-seneng aja, namanya juga jalan-jalan, ha...ha...ha...

Pertama kali kita ke Magelang, karena ada pertemuan para ketua klasis dengan anak-anak bimbinganku. Mau nggak mau kita harus hadir, kalo nggak siapa memberi penjelasan? Data semua ada di tempatku secara kita seneng catat mencatat a.k.a. carik eh sekretaris.

Kedua kali kita ke Salatiga. Ini baru dilakukan besok, jadi kita menuliskan surat lagi ke gurunya Jessie. Begitu lihat Jessie bawa amplop putih panjang, gurunya langsung berujar, "Izin lagi Jess?" Senyam-senyum anakku menjawab, "Iya Pak, hari Kamis."

Memang sejarah anakku ikut rapat bersamkita cukup unik, di tempat kita melayani anak juga boleh hadir. Kalo ibu-ibu melayani dia punya buntut, buntutnya harus diperhitungkan. Itulah enaknya jadi ibu, he...he...he.... . Kali buat melayani sama ibu-ibu bisa senep juga jika di tengah-tengah rapat sang anak minta ditemenin pup, haks! Dari usia 4 bulan Jessie udah ikut rapat. Kita udah nyiapin tuh semuanya. Perutnya nyaman, jadi gak dia pup di pampersnya, kala itu. Begitu diletakkan di atas meja, dia bermain-main dengan maenannya macem-macem bunyinya, sementara kita mencatat jalannya rapat. Setelah besar dia udah nggak mau disuruh bermain-main or membaca-baca, tapi maunya bantuin mommynya!! Mulai dari nempelin foto para mahasiswa, nyeklekin file, ngingetin wajah kakak-kakaknya karena mommynya pelupa abis, sampai berbagai pekerjaan asisten kecil. Kadang-kadang sampe bantuin bendahara komisi ngaturin snack minum buat tamu-tamu rapat, ha...ha...ha...

Begitu masuk sekolah, izinlah dia nggak sekolah kalo kita rapat. Setiap tahun mesti dia izin beberapa hari. Akibatnya, dia harus mengejar ketinggalannya dengan belajar ekstra. Karena keseringan ikut rapat dia jadi cepat menangkap pembicaraan orang dewasa, moga-moga kau tak tua sebelum waktunya, Nak.

Syukurlah, tahun ini uan SD berlangsung pada saat kita harus melakukan psikotes selama 3 hari, jadi izinnya nggak kebanyakan. Kita juga jaga-jaga, kalo nggak terpaksa sekali, tak perlulah kita berangkat ke luar kota. Mendingan nggak tidur seharian nyiapin data buat ketuaku, daripada ke luar kota, ha...ha...ha...

Friday, February 6, 2009

To commit

Kita jadi tergelitik membaca salah satu posting di blognya temanku soal komitmen perkawinan. Keprihatinannya mencuat karena banyak terjadi perceraian di sana di sini.

Bagiku, menikah itu pilihan, bahkan pilihan bisa jadi masuk ke dunia penuh kebodohan. Orang jomblo nggak pernah dipusingkan dengan tetek bengek toleransi ora menyenangkan pasangan. Hidup mengalir seperti bebasnya udara. Sebaliknya orang menikah, selain direpotkan dengan berbagai macam persoalan, tapi juga meras nikmatnya surga dunia saat cinta itu terus bertumbuh dari hari ke hari. Apa pun pilihannya, masing-masing punya konsekuensinya.

Jika memilih menikah, berarti masuk ke sebuah perjanjian, diharapkan bersifat kekal adanya: sampai maut memisahkan kita, till death separate us. Bagiku, di sinilah komitmen itu menunjukkan dirinya.

Komitmen itu berasal dari kata to commit, secara sederhana artinya menjalankan. Ya, menjalankan or melaksan janji pernikahannya itu. Karena nggak ada keinginan 100% menjelma menjadi kenyataan, maka komitmen ini jadi krusial. Kayak kita sempet kaget setelah menikah ternyata pasanganku bukan 'orang pagi' tapi 'orang malam'. Padahal, kita sangat menyukai pagi bening hening. Begitu ketahuan perbedaan ini, kita dia sama-sama berusaha menyesuaikan diri. Bany kita gagalnya untuk menemaninya menjelajah malam. Abis, malam bagiku bagaikan selimut mengantarku tidur nyenyak. Kadang-kadang kita mengandalkan kopi untuk memelekkan matkita bandel ini. Pasanganku paling susah suruh bangun pagi, lha wong tidurnya malam. Makin malam, idenya makin mengalir.

Jadi, begitu deh. Kita dia mencoba menjadi pasangan tepat. Pernah nggak kesandung di dalam pernikahan? O, berkali-kali. Tapi, karena mengingat komitmen awal, pelanggaran kesalahan itu diteliti diselesaikan, lalu dilup dimasukkan ke kotak berkunci gembok ganda, kuncinya dibuang entah kemana. Isi peti itu tak bisa dikeluarkan lagi. Susah juga menjalankan kasih menutupi banyak segala dosa. Cuma, dari komitmen kayak gini kita melihat ada dinamika menarik gimana orang saling menyesuaikan diri hingga jadi pas satu sama laen. Dinamika itu berjalan terus setiap hari. Mungkin terlihat jelas kala udah jadi aki ninen. So pastilah, nggak bisa instan jadi, ada proses perlu dilalui.

Betullah pernyataan mengatakan, "setelah menikah, jadilah orang tepat untuk pasangannya."

Thursday, February 5, 2009

Kopdar Ama Mumu

Akhirnya ketemuan juga ama Mumu + Darrell...belakangan papa Darrell nyusul juga tuh =D

Untungnya gue nitip pesenan dari Uwi Maniapasta (shepherd pie ama american risoles) yang mesti buruan diambil. Kenapa buruan? Kenapa Muuuu?? Biarlah Mumu yang menjawab...wakakakaka...
Malah untung kudu buruan, secara klo bisa dipending bakalan kepending ampe kapan tauk secara abis gitu Semarang ujan dan banjir berat bikin males keluar rumah.

Jadi awalnya tuh sms-an ama Mumu, kabar-kabaran. Trus belakangan Mumu bilang mo ke tempat gue aja nganter titipannya, jauh ngga?
Naahh, kebeneran di rumah juga lampu mati, kaga masak, mendingan sekalian ketemuan aja ditengah. Di DPmall.
Sampe DPmall, ternyata Mumu dah duluan sampe dah tuh. Udah masuk Carrefour segala. Gue ajakin makan aja dulu secara gue udah laper =D

Harusnya kan udah santai yah...bisa ngobrol, poto-potoan...KAGA!
Yang ada:
1. Gue sibuk ngebujuk DD supaya mau duduk di kursi fudkot instead of di troli. Secara mereka tuh klo udah ketemu orang asing bakalan langsung diem cep dan gak mau deket-deket. Akhirnya dengan segala bujukan, si Dellynn mau pindah, sementara Darris masi nongkrong di troli ampe pesenan dateng =D

2. Darrell mau ke tempat maen. Kek timezone gituh. Jadi lari aja dia ngabur. Maka pas gue dah longgar, kamera HP siap, yang ada Mumu kabur ngejar Darrell =D

3. Makanan dateng, gue sibuk nyiapin buat krucil, dan belakangan nyuapin 3 mulut termasuk mulut gue =D

4. Demikian pula adanya Mumu, nyuapin dua mulut =D

5. Darrell mulai ngantuk, rewel berat. Jadi Mumu sibuk ngegendong sambil nyanyiin, yang mana gak lama setelah itu papa Darrell dateng dan mengambil alih, ngajak ke tempat maen =D (Mumu rada manyun, "halaahh udah dinyanyiin cape-cape taunya tetep aja ke tempat maen"...kekekeke)

6. Gue sendiri rada gelisah soalnya nunggu kabar dari DJ yg lagi OTW ke Semarang naik pesawat via Jogja. Jadi asli pecah2 konsen gue.

Jadi yang berhasil memfoto, hanya Mumu seorang pas gue tinggal mesen-mesen.
Poto-poto di tempat Mumu yaaa...

*mohon maap apabila kurang kronologis =))

Tuesday, February 3, 2009

Kangen Masak

Senin saat berbelanja beras di Indogrosir, kita lewat di bagian daging. Enath kenapa kita langsung beli buntut sapi. Aneh juga koq tiba-tiba pengen masak.

Well, sejarah masak memasakku nggak punya record bagus. Kadang kepedesan, keasinan, tawar atau...gosong! Ha....ha....ha..., mungkin karena kita suka m kue agak sedikit goong panggangannya. Bagiku, kue seperti itu wangi, apalagi kalo dim dengan menyeruput kopi, hmmmm! Kita mulai masak setiap hari kala Jessie umur 4 bulan. Mau nggak mau kita harus mengatasi handicappedku menyedi makanan bergizi buat dia. Makanan buat orang tua terasa menyinyikkan, kayak tim hati ayam, tim bayam, dll. Kemampuan segitu-gitunya harus ditingkatkan lagi kala Jessie memasuki tahap susah makan, sekitar umur 10-11 bulan. Misua sampe ngebantuin nyatet makanan kesukaan Jessie, supaya dia tetap dapat asupan makanan padat.

Karena ketelatenan, Jessie jadi anak mudah suka pada segala macam makanan. Mana ada sih batita umur 2 taon suka sama sumsum sapi or sumsum kambing? Nah, itu si Jessie. Semakin dia besar, kita jadi lengah, karena makannya gampang. Jadilah kegiatan cukup menyita kala seperti memasak mulai kita tinggalkan.

Rupanya Jessie kadang-kadang kangen sama mas rumah. Jadi, ada masanya dia minta dibuatkan ketimun ditumis sama ati ampla, or cumi hitam, or jamur merang ditumis sama udang, or kerang kepiting. Kalo pas senggang, sedapat mungkin kita menuruti permintaannya.

Senin itu keajaiban, karena kangen masak sop buntut. Udah ancang-ancang mau masak, kita lupa jika harus mewawancara calon karyawan gereja. Jadilah ditunda sampai hari ini. Karena nanti mau janjian sama pendetaku, pagi-pagi kita udah mresto buntutnya. Pulang anterin Jessie langsung kita bikin ubo rampenya, wortel kentang kecil-kecil. Bawang putihnya cuman kita geprek aja, nggak ditumbuk halus. Daun bawang, seledri sama bawang putih kita tumis terus masukin deh ke sopnya. Sebentar kemudian, jadi deh.

Jadi, kita mulai mikir-mikir mau masak paling nggak dua minggu sekali ah, biar melatih ketrampilan mengasah selerkita juga.

Monday, February 2, 2009

Kepontal-pontal

Akhir-akhir ini banyak kesibukan harus kita lakukan. Satu hal nggak sempat kita perhatikan dengan serius adalah pelajarannya Jessie. Mungkin begitu selesai m siang, kita langsung buka buku tugasnya untuk melihat dia ada peer nggak. Beberapa hari ini kita nggak sempet melakukannya.

Kita hanya tahu dia ada peer IPA, tapi nggak ngeh kalo disuruh bikin peta. Dari Minggu siang kita udah ngingetin supaya stop bermain game komputer mulai mengerj peer IPA Bahasa Jawanya. Tapi, ngeyelnya setengah mati, sampe kita nyerah berkata, "Ya udah, jika nanti kesusahan, mami nggak tahu lho!" Akhirnya dia mengerj peer bahasa Jawanya dulu sambil berkata begini, "Mam, peer IPA nya susah. Sama mami ya ngerjainnya?" Kita ngangguk-ngangguk aja sambil terus membereskan kamar kerja, karena mau pasang scanner.

Ternyata dia disuruh bikin peta! Padahal ketahuannya baru jam 8 malem di rumah nggak ada persediaan kertas roti! Apa nggak kelimpungan? Papinya geleng-geleng ngeliat kejadian kayak gini. Jessie udah mau nangis aja, karena nggak bisa trace gambar petanya.

Akhirnya daripada berantem, kita bilang tidur aja besok bangun jam 4 pagi. Sepanjang malem kita mikirin gimana trace petanya. Jadilah kita mikir semaleman, sampai termimpi-mimpi. Tadinya sih mau kita biarin aja deh, biar Jessie kapok dapet nilai jelek karena nggak mau mempersiapkan peernya dengan baik. Tapi, pikir-pikir ada andilku juga dia begitu. Jadilah kita memasang bohlam, terus nge-trace petanya. Jam 4 kita bangunin supaya dia mewarnai petanya.

Bener-bener kepontal-pontal kalo begini. Jatoh-jatohnya kita juga musti nata ulang manajemen waktuku, supaya anakku kagak jadi korban kesibukan maminya...

Search This Blog