Kadang-kadang kita suka inget seolah-olah di udara tercium aroma Bandung. Itu kangen kali ya namanya? Ha...ha...ha...!
Salah satu bikin kita kangen Bandung itu bolu Sweetheart. Zaman kita di sana, sekitar 1982-1985, bolu ini sangat terkenal, karena rasa rumnya sangat kuat. Kita mencicipi pertama kali saat ada mengantarkannya ke rumah di Pasir Luyu, Buah Batu, itu.
Sejak itu kita tergila-gila sama bolu Sweetheart, tapi ya nggak bisa sering-sering makan, karena harganya selangit. Kala itu Papa kan studi S2, jadi tahu sendiri lah.
Lebaran teman lamkita dari Bandung datang. Entah dia baca di fb or feeling aja kalo kita suka bolu ini, tiba-tiba paket datang dari Bandung. Guess what?.....Bolu Sweetheart, tapi sekarang udah ganti nama jadi bolu Bawean, kali karena mengikuti nama jalan. Kala di sms, kita pikir satu sloaf aja, nggak tahunya dua sloaves!!! Masih ditambah satu pack brownies dua pack bagelen keju. Wah...., ini bukan cuma pucuk dicinta ulam tiba tapi mak nyuss!
Jadi, hari ini sarapan bolu Bawean dengan kopi hangat. Jessie juga ikut-ikut sarapan bolu dengan susu Ultra. Sarapan gini emang cocok buat pagi-pagi sekitar 03.20, ringan ueeenak.
Thanks ya teman buat perhatiannya.
Home » All posts
Sunday, July 8, 2012
Saturday, July 7, 2012
Harga Sangat Mahal
Jika musim ujian seperti baru saja dilalui Jessie, mulutku mungkin nggak berhenti-hentinya memintanya supaya teliti membaca soal. Sekali pun kebiasaannya belajar pagi belum banyak berubah, semua itu masih dapat diatasi. Malam tidr jam 20.00 tiap pagi bagun pk 03.00 untuk belajar hingga bahan dikuasai. Tetapi, semua itu hancur jika tidak teliti membaca soal.
Terus terang kita nggak begitu yakin sama ketelitiannya, terutama dalam matematika. UAS kali ini juga kita mengingatkannya supaya teliti. Matematika itu nggak ada susah, tapi ada adalah kesalahan jawaban karena kurang teliti. Kesalahan umumnya terjadi pada anakku itu, kelompatan jika diminta mengurutkan bilangan. Lalu, kadang-kadang kalimat matematikanya sudah betul, jawaban akhirnya salah angka, jadilah berkurang nilainya.
Kala ahir kita bilangin supaya teliti, kita udah khawtair. Hatiku nggak tenteram melepas dia ulangan hari itu. Entah kenapa. Beberapa hari kemudian, keluarlah nilai ulangan matematikanya, cukup mengejutkan aku: 77,6! Langsunglah keluar petuah-petuahku sampai dia mengerti betul kenapa kita menghendaki nilai di sekitar 85 untuk UAS. Kita nggak pernah menuntut nilainya 100, tapi juga nggak boleh seenak-enaknya cuma di kisaran 70-80.
Apa mau di kata, nasi telah menjadi bubur. Mungkin saja ini pelajaran buat ibunya ini supaya menerima hasil sekadar cukup-cukupan. Terlalu mahal harganya jika karena hanya kurang teliti nilai menjadi 77,6....
Terus terang kita nggak begitu yakin sama ketelitiannya, terutama dalam matematika. UAS kali ini juga kita mengingatkannya supaya teliti. Matematika itu nggak ada susah, tapi ada adalah kesalahan jawaban karena kurang teliti. Kesalahan umumnya terjadi pada anakku itu, kelompatan jika diminta mengurutkan bilangan. Lalu, kadang-kadang kalimat matematikanya sudah betul, jawaban akhirnya salah angka, jadilah berkurang nilainya.
Kala ahir kita bilangin supaya teliti, kita udah khawtair. Hatiku nggak tenteram melepas dia ulangan hari itu. Entah kenapa. Beberapa hari kemudian, keluarlah nilai ulangan matematikanya, cukup mengejutkan aku: 77,6! Langsunglah keluar petuah-petuahku sampai dia mengerti betul kenapa kita menghendaki nilai di sekitar 85 untuk UAS. Kita nggak pernah menuntut nilainya 100, tapi juga nggak boleh seenak-enaknya cuma di kisaran 70-80.
Apa mau di kata, nasi telah menjadi bubur. Mungkin saja ini pelajaran buat ibunya ini supaya menerima hasil sekadar cukup-cukupan. Terlalu mahal harganya jika karena hanya kurang teliti nilai menjadi 77,6....
Thursday, July 5, 2012
Term Iklan
Suatu kali di surat berita keluarga kami muncul artikel kuliner tentang gule balung a.k.a. lelung. Seperti biasa, kita langsung tertarik karena kambing itu makanan wajib kalo tekanan darah drop. Nggak ada secepat itu membuat matkita kembali terang, kepala nggak pusing hati jadi nyaman.
Cuma, tempatnya jauh sekali. Kita tadinya menggebu-gebu jadi melorot, karena lelung ini adanya di daerah Bantul. Iu daerah cukup asing bagiku. Jadilah lelung hanya tinggal angan-angan. Tapi, kali bawah sadarku masih tetep kepengen. Jadi, kala kita mengganti tali kipas di bengkel langgananku, kita cerita soal lelung ini. Nah, Pak Geng, sang pemilik bengkel itu paham luar dalam soal Bantul, terlebih lagi soal makanan khas Yogya tempatnya nylempat-nylempit, Selesai kita cerita, beberapa hari kemudian kami mendatangi tempat itu.
Sialnya, kita tak membawa serta artikel di koran itu. Hanya berdasarkan ingatan bahwa lelung itu adanya di daerah Palbapang or Srandakan. Perjalanan ke Bantulnya sih lancar-lancar aja, begitu sampe di alun-alun kota kami mulai bingung. Ke arah mana ya tepatnya gule itu. Masuk sampe jauuu...h mendekati tempat batik Bantul, lalu kembali lagi. Akhirnya keliatan di pinggir jalan itu papan namanya kecil, Lelung Jodog.
Karena nyarinya udah kelamaan, minatku mulai hilang. Apalagi udara bukan main panasnya. Saat mencari kita malah membayangkan enaknya kalo kita di rumah aja duduk di teras sambil baca, ha..ha...ha...kurang sopan, sudah nyeret-nyeret orang tua nemenin nyari lelung malah kehilangan minat.
Warungnya sederhana, ubinnya pun hanya semen biasa. Warung ini mengingatkanku pada warung-warung di pedesaan sekitar Prembun, tempatku KKN. Tentu dengan segala atribut keramahan khas pedesaan.
Begitu pesanan datang, wuuuih banyaknya!! Nah, trouble muncul kala kita menikmati lelung itu. Alotnya pol! Akhirnya kita hanya m satu potong, sisanya kita bungkus deh. Pak Geng senyam-senyum liat orang kota term iklan.
Tapi, kekesalanku sirna begitu lihat Jessie m lelung ini dengan semangat 45, sambil tak henti-hentinya bertanya, "Mom, beli di mana nih gulenya? Koq enak? Hmm...enak...enak nih. Nambah aah...!" Yei, emaknya kepayahan ngabisin satu potong, malah anaknya lahap.
Ya syukurlah, tak sia-sia ke Jodog, asalkan Jessie seneng.
Cuma, tempatnya jauh sekali. Kita tadinya menggebu-gebu jadi melorot, karena lelung ini adanya di daerah Bantul. Iu daerah cukup asing bagiku. Jadilah lelung hanya tinggal angan-angan. Tapi, kali bawah sadarku masih tetep kepengen. Jadi, kala kita mengganti tali kipas di bengkel langgananku, kita cerita soal lelung ini. Nah, Pak Geng, sang pemilik bengkel itu paham luar dalam soal Bantul, terlebih lagi soal makanan khas Yogya tempatnya nylempat-nylempit, Selesai kita cerita, beberapa hari kemudian kami mendatangi tempat itu.
Sialnya, kita tak membawa serta artikel di koran itu. Hanya berdasarkan ingatan bahwa lelung itu adanya di daerah Palbapang or Srandakan. Perjalanan ke Bantulnya sih lancar-lancar aja, begitu sampe di alun-alun kota kami mulai bingung. Ke arah mana ya tepatnya gule itu. Masuk sampe jauuu...h mendekati tempat batik Bantul, lalu kembali lagi. Akhirnya keliatan di pinggir jalan itu papan namanya kecil, Lelung Jodog.
Karena nyarinya udah kelamaan, minatku mulai hilang. Apalagi udara bukan main panasnya. Saat mencari kita malah membayangkan enaknya kalo kita di rumah aja duduk di teras sambil baca, ha..ha...ha...kurang sopan, sudah nyeret-nyeret orang tua nemenin nyari lelung malah kehilangan minat.
Warungnya sederhana, ubinnya pun hanya semen biasa. Warung ini mengingatkanku pada warung-warung di pedesaan sekitar Prembun, tempatku KKN. Tentu dengan segala atribut keramahan khas pedesaan.
Begitu pesanan datang, wuuuih banyaknya!! Nah, trouble muncul kala kita menikmati lelung itu. Alotnya pol! Akhirnya kita hanya m satu potong, sisanya kita bungkus deh. Pak Geng senyam-senyum liat orang kota term iklan.
Tapi, kekesalanku sirna begitu lihat Jessie m lelung ini dengan semangat 45, sambil tak henti-hentinya bertanya, "Mom, beli di mana nih gulenya? Koq enak? Hmm...enak...enak nih. Nambah aah...!" Yei, emaknya kepayahan ngabisin satu potong, malah anaknya lahap.
Ya syukurlah, tak sia-sia ke Jodog, asalkan Jessie seneng.
Tuesday, July 3, 2012
Merindukan si Bungsu
malam, sekitar pk 23.00, hp ku berbunyi. Seperti biasa, jika sms masuk pada jam-jam nggak biasa, mesti ada berita penting. Ternyata induk semang kost ku meninggal dunia. Memang kita pesan sama cucunya sering ketemu supaya jika ada apa-apa sama omanya, kita diberitahu.
Cukup lama kita nge-kost di tempatnya, hampir 9 tahun. Dengan empat orang juga hampir sama lamanya beberapa teman silih berganti. Banyak hal kita pelajari dari beliau, terutama kerapihan penampilan. Salah seorang adik kelas kaget kala bertemu kita setahun lalu, "Lho, Mbak? Sekarang koq nggak seperti kala kuliah? Dulu baju, sepatu sampai anting-anting tas senada semua. Sekarang Mbak nyaman dengan jins oblong ya?" Nah, sampe segitu pengaruh Tante sama aku, walaupun kita tak menyadarinya. Belum lagi sikap hidupnya. Semakin Tante diam, semakin keras nyata apa mau diungkapkannya. Pernah nih teman-teman meray ultahku dengan masak indomie goreng sekuali gedhe. Begitu kita pulang rapat buka pintu kamar, mereka langsung teriak. Padahal udah malem banget kala itu, sekitar pk 10.00. Sesudah itu dengan sendirinya kami ber sst...sst...sst...ria, khawatir Tante terganggu. Kamarku di sebelah kamarnya Tante. Besokannya kala sarapan Tante lewat, dia hanya diam tak berkomentar tentang berisik-berisik malam sebelumnya. Tapi dari raut wajahnya kami tahu dia memaklumi anak-anak kostnya kadang-kadang masih kayak bocah padahal sudah mahasiswa.
Induk semangku ini meninggal dalam usia sekitar 90 tahun. Kala layat kita kembali bertemu dengan anak-anaknya dulu kita panggil Mas Mbak, serta cucu-cucunya sebaya dengan aku. Ada salah satu cerita jika Tante udah hampir 5 tahun nggak bisa mengeluarkan suara. Sebelum meninggal ini sudah tiga kali kritis. Pada kondisi kritis ketiga, anak, menantu, cucu, cucu mantu cicit sudah meminta maaf, baik langsung hadir di sekitar Dia or pun melalui telepon. Ketika anak bungsunya telepon, tiba-tiba Tante mengucapkan namanya dengan suara sudah 5 tahun tak pernah terdengar. Anak bungsunya kala telepon berada di Yogya langsung berangkat ke Ciamis. Dia mencuci kaki ibunya meyakinkan ibunya bahwa hidupnya oke. Tak lama kemudian Tante berpulang.
Ternyata dia merindukan anak bungsunya di alam bawah sadarnya. Memang menurut penelitian, jika seseorang sudah tak berdaya apa-apa, koma or hampir meninggal, salah satu organ masih berfungsi dengan baik yaitu telinganya. Ajaib memang, namun itulah kenyataannya. Mungkin itu sebabnya, pada pasien-pasien koma, suara dari orang-orang terdekat dalam hidupnya disinyalir dapat mengembalikannya ke alam realita. Or pada orang-orang hampir meninggal, bisikan bahwa semua merel kepergiannya dapat melapangkan jalannya ke alam baka.
Melalui misa requim siang ini kita kembali menghayati bahwa hidup manusia ini seperti bunga ilalang, hari ini ada esok hilang. Selamat jalan Tante Nardi.
Cukup lama kita nge-kost di tempatnya, hampir 9 tahun. Dengan empat orang juga hampir sama lamanya beberapa teman silih berganti. Banyak hal kita pelajari dari beliau, terutama kerapihan penampilan. Salah seorang adik kelas kaget kala bertemu kita setahun lalu, "Lho, Mbak? Sekarang koq nggak seperti kala kuliah? Dulu baju, sepatu sampai anting-anting tas senada semua. Sekarang Mbak nyaman dengan jins oblong ya?" Nah, sampe segitu pengaruh Tante sama aku, walaupun kita tak menyadarinya. Belum lagi sikap hidupnya. Semakin Tante diam, semakin keras nyata apa mau diungkapkannya. Pernah nih teman-teman meray ultahku dengan masak indomie goreng sekuali gedhe. Begitu kita pulang rapat buka pintu kamar, mereka langsung teriak. Padahal udah malem banget kala itu, sekitar pk 10.00. Sesudah itu dengan sendirinya kami ber sst...sst...sst...ria, khawatir Tante terganggu. Kamarku di sebelah kamarnya Tante. Besokannya kala sarapan Tante lewat, dia hanya diam tak berkomentar tentang berisik-berisik malam sebelumnya. Tapi dari raut wajahnya kami tahu dia memaklumi anak-anak kostnya kadang-kadang masih kayak bocah padahal sudah mahasiswa.
Induk semangku ini meninggal dalam usia sekitar 90 tahun. Kala layat kita kembali bertemu dengan anak-anaknya dulu kita panggil Mas Mbak, serta cucu-cucunya sebaya dengan aku. Ada salah satu cerita jika Tante udah hampir 5 tahun nggak bisa mengeluarkan suara. Sebelum meninggal ini sudah tiga kali kritis. Pada kondisi kritis ketiga, anak, menantu, cucu, cucu mantu cicit sudah meminta maaf, baik langsung hadir di sekitar Dia or pun melalui telepon. Ketika anak bungsunya telepon, tiba-tiba Tante mengucapkan namanya dengan suara sudah 5 tahun tak pernah terdengar. Anak bungsunya kala telepon berada di Yogya langsung berangkat ke Ciamis. Dia mencuci kaki ibunya meyakinkan ibunya bahwa hidupnya oke. Tak lama kemudian Tante berpulang.
Ternyata dia merindukan anak bungsunya di alam bawah sadarnya. Memang menurut penelitian, jika seseorang sudah tak berdaya apa-apa, koma or hampir meninggal, salah satu organ masih berfungsi dengan baik yaitu telinganya. Ajaib memang, namun itulah kenyataannya. Mungkin itu sebabnya, pada pasien-pasien koma, suara dari orang-orang terdekat dalam hidupnya disinyalir dapat mengembalikannya ke alam realita. Or pada orang-orang hampir meninggal, bisikan bahwa semua merel kepergiannya dapat melapangkan jalannya ke alam baka.
Melalui misa requim siang ini kita kembali menghayati bahwa hidup manusia ini seperti bunga ilalang, hari ini ada esok hilang. Selamat jalan Tante Nardi.
Souvenir Pernikahan Cantik dan Unik
Mau souvenir pernikahan gelas cantik dengan harga murah, tak perlu bingung, menyediakan aneka sovenir gelas cantik dengan desain sesuai selera konsumen.. tersedia bermacam jenis souvenir pernikahan gelas cantik untuk anda semua.
Perkawinan identik dengan sesuatu yang romantis. Agar menambah romantis, bagaimana jika memilih souvenir pernikahan bertemakan rose atau bunga mawar.
Souvenir-Pernikahan-Romantic-Rose
Bunga mawar memang selalu dijadikan simbol romantis juga rasa cinta. Dan menjadikan mawar sebagai tema tentu memiliki makna tersendiri. Makna di mana sang pengantin ingin berbagi rasa cintanya kepada para tamu juga menunjukkan sisi romantis dan perasaan cinta sang pengantin.
Souvenir-Pernikahan-Romantic-Rose
Anda bisa memilih souvenir pernikahan lilin berbentuk mawar, sabun, notes, tempelan kulkas, sampai tanaman mawar baik itu asli atau palsu. Mawar selain menjadi souvenir pernikahan simbol rasa cinta dan romantis juga cantik dijadikan tanda terima kasih bagi para tamu.
Perkawinan identik dengan sesuatu yang romantis. Agar menambah romantis, bagaimana jika memilih souvenir pernikahan bertemakan rose atau bunga mawar.
Souvenir-Pernikahan-Romantic-Rose
Bunga mawar memang selalu dijadikan simbol romantis juga rasa cinta. Dan menjadikan mawar sebagai tema tentu memiliki makna tersendiri. Makna di mana sang pengantin ingin berbagi rasa cintanya kepada para tamu juga menunjukkan sisi romantis dan perasaan cinta sang pengantin.
Souvenir-Pernikahan-Romantic-Rose
Anda bisa memilih souvenir pernikahan lilin berbentuk mawar, sabun, notes, tempelan kulkas, sampai tanaman mawar baik itu asli atau palsu. Mawar selain menjadi souvenir pernikahan simbol rasa cinta dan romantis juga cantik dijadikan tanda terima kasih bagi para tamu.
Monday, July 2, 2012
Bau Donggala
Suatu kali kami bertiga kelelahan karena berbagai aktivitas. Kalo udah begini, paling enak direfleksi. Cuma, karena belum m malam, jadi kepikiran m di bakso Pringgading lalu refleksi di Kakiku di ujung jalan. Sementara Jessie papinya makan, kita jalan kaki mendaftar ke tempat refleksi itu.
Lokasi jalannya memang berada di salah satu Pecinan Yogyakarta. Begitu kita jalan, sudah tercium bau hio, semacam dupa untuk sembahyangan orang Tionghoa. Baunya khas membuat ingatanku mela ke rumah mertukita juga pake hio-hio kayak begitu. Lalu di kiri kanan jalan ada orang duduk-duduk ngobrol di depan pintu toko dicet hijau terang seperti rumah-rumah Tionghoa zadul. Suara orang ngobrol bagaikan musik merdu mengiringi perjalananku malam itu.
Tiba-tiba terdengar gelas pecah suara ibu-ibu ngomelin anaknya. Tapi masih kalah sama instrumen Mandarin dari rumah di seberangnya. Jadi kita berjalan sambil mencandra pernak-pernik percik kehidupan di Pecinan. Suara-suara itu silih berganti, jadi jalan sunyi senyap itu seolah ditingkah aneka suara dari dalam rumah...
Di jalan itu ada semacam tanh berpasir tak berpenghuni. Maksudku, di situ nggak ada tenda jualan makanan or rumah. Hanya seng menutupi sebidang tanah. Penerangannya pun remang-remang. Di situlah kita mencium harum rokok lintingan khas pedesaan di Jawa Tengah, semasa kita KKN dulu.
Kalo nggak jalan kaki gini, semua cita rasa udara tak tercium. Ingatanku langsung menuju Donggala, tempat mertuaku. Di sana juga situasinya persis seperti ini. Mungkin karena jarang ada kegiatan malam hari. Jadi sesudah tutup toko, mandi, lalu mulailah acara kongkow-kongkow sampe malam di depan toko. Kadang anak-anak berlari-lari di jalan belum teraspal sempurna. Jika bulan terang benderang, anak-anak bernyanyi-nyanyi di jalan sementara orang tuabercengkerama sambil menumpangkan satu kaki di atas kaki lainnya, or sambil bisik-bisik.
Paling nggak malam itu kita menyicipi suasana Donggal telah lama tak kulihat...
Lokasi jalannya memang berada di salah satu Pecinan Yogyakarta. Begitu kita jalan, sudah tercium bau hio, semacam dupa untuk sembahyangan orang Tionghoa. Baunya khas membuat ingatanku mela ke rumah mertukita juga pake hio-hio kayak begitu. Lalu di kiri kanan jalan ada orang duduk-duduk ngobrol di depan pintu toko dicet hijau terang seperti rumah-rumah Tionghoa zadul. Suara orang ngobrol bagaikan musik merdu mengiringi perjalananku malam itu.
Tiba-tiba terdengar gelas pecah suara ibu-ibu ngomelin anaknya. Tapi masih kalah sama instrumen Mandarin dari rumah di seberangnya. Jadi kita berjalan sambil mencandra pernak-pernik percik kehidupan di Pecinan. Suara-suara itu silih berganti, jadi jalan sunyi senyap itu seolah ditingkah aneka suara dari dalam rumah...
Di jalan itu ada semacam tanh berpasir tak berpenghuni. Maksudku, di situ nggak ada tenda jualan makanan or rumah. Hanya seng menutupi sebidang tanah. Penerangannya pun remang-remang. Di situlah kita mencium harum rokok lintingan khas pedesaan di Jawa Tengah, semasa kita KKN dulu.
Kalo nggak jalan kaki gini, semua cita rasa udara tak tercium. Ingatanku langsung menuju Donggala, tempat mertuaku. Di sana juga situasinya persis seperti ini. Mungkin karena jarang ada kegiatan malam hari. Jadi sesudah tutup toko, mandi, lalu mulailah acara kongkow-kongkow sampe malam di depan toko. Kadang anak-anak berlari-lari di jalan belum teraspal sempurna. Jika bulan terang benderang, anak-anak bernyanyi-nyanyi di jalan sementara orang tuabercengkerama sambil menumpangkan satu kaki di atas kaki lainnya, or sambil bisik-bisik.
Paling nggak malam itu kita menyicipi suasana Donggal telah lama tak kulihat...
Sunday, July 1, 2012
Diglot
Ulang tahun kali ini ada hadiah istimewa dari sahabat keluarga kami, sebuah Alkitab diglot. Kado ini se mengukuhkan keseriusanku untuk memelajari teologi.
Jangankan orang lain, bapakku aja bingung kala kita beritahu jika sekarang kita kuliah teologi. "Emang mau jadi pendeta, kuliah koq teologi?" Nadanya biasa lah, agak-agak bernuansa kolong walau udah purna bakti sekian tahun lalu.
Pertanyaan kenapa itu terus mengikutiku setelah kita mendengar khotbah Pdt. Rudy Budiman di GKI Taman Cibunut, hampir seperempat abad silam. Kala kita cerita ke Papa kalo mau masuk teologi, Papa nggak bisa tidur. Dia berpendapat teologi itu ilmu abstrak nggak bisa buat hidup. Lalu kita disarankan masuk ke fakultas agak-agak mirip teologi. Jadilah kita ke psikologi.
Tahun-tahun berlalu, tapi keinginan itu terus bercokol di dalam hati. Sampai, kita berani menuliskan resolusi tahun 2006 untuk sekolah theologia. Tapi, setelah menulis resolusi itu, hambatannya makin menjadi-jadi, mulai dari biaya, waktu, multiple task sampai niat.
Tahun ini, kita dapat cukup banyak dividen usaha, cukup untuk biaya kuliah satu matkul satu semester. Cepet-cepet deh kita mendaftarkan diri melunasinya. Biasa ibu-ibu, ada uang sedikit larinya ke seprei apa kuali, ha...ha...ha...! Jadilah kita kuliah lagi.
Nah, di ulang tahunku ke 43 ini kita dihadiahkan Alkitab dwi bahasa: Indonesia - Ibrani. Bacanya aja kayak buku Jepang, dari belakang. Lalu bahasa Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, seperti bahasa Arab. Cuman kita belum ambil tuh matkul Ibrani, paling kita deketin dulu aja dosennya, supaya dikasih kunci-kunci untuk mengetahui huruf tulisannya.
Resolusi 2006 terwujudkan di 2009. Sekarang, kita mau bertekad ah supaya selesai di tahun 2016, pas di ultahku ke-50. Semoga dikabulkan ya?
Jangankan orang lain, bapakku aja bingung kala kita beritahu jika sekarang kita kuliah teologi. "Emang mau jadi pendeta, kuliah koq teologi?" Nadanya biasa lah, agak-agak bernuansa kolong walau udah purna bakti sekian tahun lalu.
Pertanyaan kenapa itu terus mengikutiku setelah kita mendengar khotbah Pdt. Rudy Budiman di GKI Taman Cibunut, hampir seperempat abad silam. Kala kita cerita ke Papa kalo mau masuk teologi, Papa nggak bisa tidur. Dia berpendapat teologi itu ilmu abstrak nggak bisa buat hidup. Lalu kita disarankan masuk ke fakultas agak-agak mirip teologi. Jadilah kita ke psikologi.
Tahun-tahun berlalu, tapi keinginan itu terus bercokol di dalam hati. Sampai, kita berani menuliskan resolusi tahun 2006 untuk sekolah theologia. Tapi, setelah menulis resolusi itu, hambatannya makin menjadi-jadi, mulai dari biaya, waktu, multiple task sampai niat.
Tahun ini, kita dapat cukup banyak dividen usaha, cukup untuk biaya kuliah satu matkul satu semester. Cepet-cepet deh kita mendaftarkan diri melunasinya. Biasa ibu-ibu, ada uang sedikit larinya ke seprei apa kuali, ha...ha...ha...! Jadilah kita kuliah lagi.
Nah, di ulang tahunku ke 43 ini kita dihadiahkan Alkitab dwi bahasa: Indonesia - Ibrani. Bacanya aja kayak buku Jepang, dari belakang. Lalu bahasa Ibrani dibaca dari kanan ke kiri, seperti bahasa Arab. Cuman kita belum ambil tuh matkul Ibrani, paling kita deketin dulu aja dosennya, supaya dikasih kunci-kunci untuk mengetahui huruf tulisannya.
Resolusi 2006 terwujudkan di 2009. Sekarang, kita mau bertekad ah supaya selesai di tahun 2016, pas di ultahku ke-50. Semoga dikabulkan ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)