Mustahil deh kayaknya kalo kita masak setiap hari. Di samping repot, kita juga jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Beberapa kala lalu kita rutin beli m siang malam di dua tempat menjual home cook. Walaupun Jessie bapaknya seringkali protes rasanya, kita tetap ke sana memilih menu kira-kira kami sukai. Tapi ada hari-hari memang nggak cocok menunya. Kalo udah gini, kita memilih masak sendiri.
Minggu lalu, Jumat juga, kita coba-coba goreng ikan tengiri. Bumbunya sederhana: asam garam. Begitu digoreng, wanginya merebak ke seluruh rumah Jessie ama bapaknya m dengan lahap. Hari ini kita beli bawal putih. Bumbunya akau ganti dengan garam jeruk nipis. Rupanya, menggoreng ikan nggak seserem pernah kita lakukan sekala masih di Perwita Wisata. Kala itu, tembokku sampe kena bercak-bercak minyak. Dasarnya juga kita males kalo pake api kecil harus nunggu agak lama. Di rumah sekarang, mau nggak mau harus pake api kecil. Kalo tuh minyak sampe muncrat kemana-mana, bisa berabe. Tutup dandang kita jadikan tameng.
Kita mencoba membias Jessie menyenangi ikan. Mungkin kalo kita goreng ikan, kita tambahin rebusan sayur. Kebany brokoli or labu siam (jipang). Direbus biasa dengan sedikit garam. Jadi, dia m ikan sayur. Soalnya pertumbuhan Jessie sedang pesat-pesatnya sekarang. Selain ayam, sapi, dll, menurutku ikan paling oke proteinnya. Jika periode ini lewat, kita nggak bisa nangkep momennya, pertumbuhan tubuhnya biasa-biasa aja, padahal kegiatannya seabreg. Nggak apa-apa repot sedikit cuci-cuci sehabis menggoreng ikan, asalkan kebutuhan protein mineralnya tercukupi. Mungkin suatu kali kita bisa menemukan resep masak ikan nggak terlalu merepotkan tapi yummy?
Home » All posts
Friday, May 29, 2009
Saturday, May 23, 2009
Si Mumun Sakit
Sebenarnya sudah dari beberapa kala lalu si Mumun dibawa ke 'dokter'nya. Kadang-kadang kedengeran seperti batuk-batuk. ini malah minumnya banyak sekali, tapi masih tetap bisa berjalan walau kepayahan.
Sore mencapai puncaknya. Beberapa kali dia mogok jalan. Dipaksa pelan-pelan, akhirnya berhenti total di depan kantor pos besar. Mau tak mau si Mumun harus opname!
Sedih kita karena Mumunlah setia menemani kita bekerja, mengantar jemput anak, melayani, bersenang-senang. Kala mulai terdengar batuk-batuk, harusnya kita berhenti sebentar check up. Namun karena kesibukan membutuhkan kehadirannya, check up itu tak pernah terlaksana. Beberapa hari ini temperaturnya agak tinggi, melebihi biasanya, walaupun tak pernah lupa kita memeriksa apakah Mumun cukup minum or tidak.
sore, saat kita Jessie berangkat ke kebaktian Sabtu, Mumun mulai rewel. Hidupnya bergantung pada pasokan gas ke mesin temperaturnya tinggi. Tak henti-henti ia berkipas supaya suhu tubuh agak sedikit turun. Jika pasokan gas berkurang sedikit, langsung ia tak mau jalan. Beberapa kali itu terjadi: di dekat Samsat Jlagran, di lampu merah dekat stasiun Tugu, di putaran dekat Hotel Garuda, di depan Hotel Mutiara di perempatan Kantor Pos Besar. Akhirnya kita mengistirahatkan Mumun di parkiran Kantor Pos, sambil menunggu dokternya datang.
Istirahat banyak cepatlah sembuh. Tak berdaya kita tanpamu...
Sore mencapai puncaknya. Beberapa kali dia mogok jalan. Dipaksa pelan-pelan, akhirnya berhenti total di depan kantor pos besar. Mau tak mau si Mumun harus opname!
Sedih kita karena Mumunlah setia menemani kita bekerja, mengantar jemput anak, melayani, bersenang-senang. Kala mulai terdengar batuk-batuk, harusnya kita berhenti sebentar check up. Namun karena kesibukan membutuhkan kehadirannya, check up itu tak pernah terlaksana. Beberapa hari ini temperaturnya agak tinggi, melebihi biasanya, walaupun tak pernah lupa kita memeriksa apakah Mumun cukup minum or tidak.
sore, saat kita Jessie berangkat ke kebaktian Sabtu, Mumun mulai rewel. Hidupnya bergantung pada pasokan gas ke mesin temperaturnya tinggi. Tak henti-henti ia berkipas supaya suhu tubuh agak sedikit turun. Jika pasokan gas berkurang sedikit, langsung ia tak mau jalan. Beberapa kali itu terjadi: di dekat Samsat Jlagran, di lampu merah dekat stasiun Tugu, di putaran dekat Hotel Garuda, di depan Hotel Mutiara di perempatan Kantor Pos Besar. Akhirnya kita mengistirahatkan Mumun di parkiran Kantor Pos, sambil menunggu dokternya datang.
Istirahat banyak cepatlah sembuh. Tak berdaya kita tanpamu...
Tuesday, May 19, 2009
Anak Semata Wayang
Akhir-akhir ini kita bertemu dengan banyak keluarga anaknya cuma semata wa alias sorangan wae. Ada anaknya laki-laki, ada juga perempuan seperti kami. Kita mendapat cerita bagaimana mereka tumbuh dibesarkan dengan pola-pola tertentu. Hasilnya tentu unik. Ada sebuah keluarga berkecukupan ketemu kita minggu lalu. Mereka sangat menyayangi anak satu-satunya ini dengan cara mencukupkan segalanya, melindunginya dari marabahaya mengarahkan hidup anaknya ini sedemikian rupa sehingga sang anak selalu berada di jalan aman.
Kita ngeri juga sebenarnya punya anak cuman satu, walaupun kita senantiasa mensyukurinya. Ngerinya, kami menjadi ortu over protektif sehingga anak kami ini nggak bisa mengembangkan dirinya secara maksimal. Pikiran kami kadang-kadang berbeda darinya, banyak kali kami deg-degan menuruti jalan pikirannya. Mungkin cerminan dari sikap kami over protektif itu adalah keluarnya banyak aturan harus dipatuhinya. Semua serba jangan, jangan ini, jangan itu. Or semua serba seharusnya. Mungkin dia juga pusing kebany aturan.
Kita bersyukur karena anak kami ini dikaruniai kecerdasan very very good. Selain faktor genetis, mungkin juga karena pola asuh kami senantiasa mengajaknya bercakap-cakap, kadang-kadang berunding bersama, or bahkan berantem debat-debatan. Dia bisa diajak berdiskusi, nggak perlu nerangin hal rumit dengan bahasa anak-anak, bisa langsung mengerti merespon. Selain itu dia terbebas dari kecenderungan orangtua untuk membanding-bandingkan. Kami juga memacunya untuk membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri. Jika ini sih kebany epps deh. Perbandingan bermakna itu kan jika terjadi di dalam dirinya sendiri, bukan jika dibandingkan dengan orang lain.
Gimana hasilnya? So far so nice. Kita mengurangi banyak larangan mencoba mengajaknya melihat dari sisi negatif or positifnya. Khususnya aku, berusaha tidak menuntutnya terlalu tinggi banyak. Kita mencoba take it easy, biar dia enjoy sedikit dengan masa kanak-kanaknya. Kalo ulangan dapetnya 87, oke, nggak perlu selalu 100. penting dia tahu sudah mengusah terbaik. paling penting bagi kami, dia nggak jadi anak manja tetapi jadi orang mandiri.
Nggak ada sih sekolah buat orangtua dengan anak tunggal, hmm...
Kita ngeri juga sebenarnya punya anak cuman satu, walaupun kita senantiasa mensyukurinya. Ngerinya, kami menjadi ortu over protektif sehingga anak kami ini nggak bisa mengembangkan dirinya secara maksimal. Pikiran kami kadang-kadang berbeda darinya, banyak kali kami deg-degan menuruti jalan pikirannya. Mungkin cerminan dari sikap kami over protektif itu adalah keluarnya banyak aturan harus dipatuhinya. Semua serba jangan, jangan ini, jangan itu. Or semua serba seharusnya. Mungkin dia juga pusing kebany aturan.
Kita bersyukur karena anak kami ini dikaruniai kecerdasan very very good. Selain faktor genetis, mungkin juga karena pola asuh kami senantiasa mengajaknya bercakap-cakap, kadang-kadang berunding bersama, or bahkan berantem debat-debatan. Dia bisa diajak berdiskusi, nggak perlu nerangin hal rumit dengan bahasa anak-anak, bisa langsung mengerti merespon. Selain itu dia terbebas dari kecenderungan orangtua untuk membanding-bandingkan. Kami juga memacunya untuk membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri. Jika ini sih kebany epps deh. Perbandingan bermakna itu kan jika terjadi di dalam dirinya sendiri, bukan jika dibandingkan dengan orang lain.
Gimana hasilnya? So far so nice. Kita mengurangi banyak larangan mencoba mengajaknya melihat dari sisi negatif or positifnya. Khususnya aku, berusaha tidak menuntutnya terlalu tinggi banyak. Kita mencoba take it easy, biar dia enjoy sedikit dengan masa kanak-kanaknya. Kalo ulangan dapetnya 87, oke, nggak perlu selalu 100. penting dia tahu sudah mengusah terbaik. paling penting bagi kami, dia nggak jadi anak manja tetapi jadi orang mandiri.
Nggak ada sih sekolah buat orangtua dengan anak tunggal, hmm...
Friday, May 8, 2009
Last Minute
Seminggu ahir ini, hidupku seolah dihitung dalam satuan detik, saking begitu banyaknya hal harus kita kerj dalam kala singkat. Kita sangat bersyukur karena dalam kondisi demikian kondisi ba tidak terganggu, suasana hati selalu ceria tetap bersemangat.
Di awal bulan, kita memulai lagi tugasku setiap Juni Juli, mengunjungi mahasiswa teologi sedang praktik di jemaat-jemaat. Kalo dipikir-pikir, kita koq jadi mewarisi fungsi DPL nya mahasiswa KKN dulu di UGM. Kalo nggak salah ingat sih kami memanggilnya Pak Gatot, walaupun tak tahu nama lengkapnya. Dia jika datang tiba-tiba di tempat KKN, anak sedang di luar lokasi pada kala dia datang, langsung terkena kartu merah. Strick banget, tapi kalo nggak gitu ratusan mhsw KKN bisa hilang satu per satu. Jika kita dkk modelnya memberitahu dulu kepada Majelis Jemaat ditempati mahasiswa praktik, sekaligus sowan karena sebelum ini hubungannya selalu lewat surat. Tahun ini jumlah mahasiswa KKN lumayan banyak, 19 orang. Syukurlah tim kami 10 orang, walaupun nggak semua bisa jadi visitor.
Minggu pertama Mei kita merampungkan penugasan sebagai editor buku sejarah GKI Ngupasan. Tugasku ini sangat mudah dibanding dengan penyusunnya. Jika lagi cepet-cepet, ada aja hambatannya. Karena kompie sang penyusun kerap hang, lalu data dicari ternyata tidak ada, foto kurang lengkap, kita baru pegang naskahnya tanggal 6 Mei. Padahal 9 Mei libur 10-13 Mei kita ke Magelang. Wah.....mefet sekali waktunya. Jadi pas misua juga ada rapat di kantor sampai malam, ditemani secangkir kopi, kita begadang sampai Kamis dinihari. Draft kasar langsung kita print bawa ke Ketua Majelis supaya dibaca dibuatkan Kata Pengantar. Kamis kita bertemu dengan penyusunnya untuk memantapkan isi berembug soal cover. Jumat kita di percet dari pk 14.30-pk 20.00. Syukurlah selesai. Senin approval ahir dari penyusun, lalu naik cetak deh...
Sabtu libur-libur seperti hari ini sih pengennya pijat, baca novel sambil nyeruput kopi, asyik kan kedengerannya. Mudah-mudahan kesampaian...
Di awal bulan, kita memulai lagi tugasku setiap Juni Juli, mengunjungi mahasiswa teologi sedang praktik di jemaat-jemaat. Kalo dipikir-pikir, kita koq jadi mewarisi fungsi DPL nya mahasiswa KKN dulu di UGM. Kalo nggak salah ingat sih kami memanggilnya Pak Gatot, walaupun tak tahu nama lengkapnya. Dia jika datang tiba-tiba di tempat KKN, anak sedang di luar lokasi pada kala dia datang, langsung terkena kartu merah. Strick banget, tapi kalo nggak gitu ratusan mhsw KKN bisa hilang satu per satu. Jika kita dkk modelnya memberitahu dulu kepada Majelis Jemaat ditempati mahasiswa praktik, sekaligus sowan karena sebelum ini hubungannya selalu lewat surat. Tahun ini jumlah mahasiswa KKN lumayan banyak, 19 orang. Syukurlah tim kami 10 orang, walaupun nggak semua bisa jadi visitor.
Minggu pertama Mei kita merampungkan penugasan sebagai editor buku sejarah GKI Ngupasan. Tugasku ini sangat mudah dibanding dengan penyusunnya. Jika lagi cepet-cepet, ada aja hambatannya. Karena kompie sang penyusun kerap hang, lalu data dicari ternyata tidak ada, foto kurang lengkap, kita baru pegang naskahnya tanggal 6 Mei. Padahal 9 Mei libur 10-13 Mei kita ke Magelang. Wah.....mefet sekali waktunya. Jadi pas misua juga ada rapat di kantor sampai malam, ditemani secangkir kopi, kita begadang sampai Kamis dinihari. Draft kasar langsung kita print bawa ke Ketua Majelis supaya dibaca dibuatkan Kata Pengantar. Kamis kita bertemu dengan penyusunnya untuk memantapkan isi berembug soal cover. Jumat kita di percet dari pk 14.30-pk 20.00. Syukurlah selesai. Senin approval ahir dari penyusun, lalu naik cetak deh...
Sabtu libur-libur seperti hari ini sih pengennya pijat, baca novel sambil nyeruput kopi, asyik kan kedengerannya. Mudah-mudahan kesampaian...
Wednesday, April 29, 2009
Tak Sigap
Beberapa hari lalu kita merencan suntik vaksin Cervirax. Vaksin ini untuk pencegahan kanker leher rahim. Karena termasuk jenis baru muahhaaalnya luar biasa, tak semua lab or ginekolog memilikinya.
Kita telpon ke sebuah lab cukup terkenal di Yogya. Penjawab teleponnya laki-laki, langsung perasaanku nggak enak pesimis, "Apa dia bisa jawab pertanyaan-pertanyaanku?" Lalu kita menanyaka tentang vaksin itu jenis papsmear harus kita ambil. Jawabannya, "Ibu tak perlu puasa, karena nanti darahnya dibekukan." Wah, kita kaget banget, orang mau HPV koq ada darah dibekukan segala. Sekali lagi kita menjelaskan ke si petugas itu soal papsmear dapat mendeteksi sel-sel ganas sebelum suntik vaksin. Lamaaa kita disuruh nunggu sementara dia tanya ke teman-temannya. Langsung deh kita putuskan hubungan teleponnya.
Di sini pentingnya front liner, di perusahaan or instansi mana pun. Begitu front linernya payah, gawat deh akibatnya. Bisa salah informasi, salah komunikasi, salah macem-macem lagi. Jarang front liner sigap melayani customer. Mungkin pikirnya, "Ah, kita kan nggak harus menguasai semua informasi, kan ada bagiannya sendiri-sendiri." Sikap mental begini ini payah: nggak mau belajar, mengandalkan orang lain tidak mementingkan citra perusahaan.
Tapi, siapa sih sekarang mau susah-susah belajar menguasai pekerjaannya, penting kan dapet gaji, tenggo, tunjangan full!
Kita telpon ke sebuah lab cukup terkenal di Yogya. Penjawab teleponnya laki-laki, langsung perasaanku nggak enak pesimis, "Apa dia bisa jawab pertanyaan-pertanyaanku?" Lalu kita menanyaka tentang vaksin itu jenis papsmear harus kita ambil. Jawabannya, "Ibu tak perlu puasa, karena nanti darahnya dibekukan." Wah, kita kaget banget, orang mau HPV koq ada darah dibekukan segala. Sekali lagi kita menjelaskan ke si petugas itu soal papsmear dapat mendeteksi sel-sel ganas sebelum suntik vaksin. Lamaaa kita disuruh nunggu sementara dia tanya ke teman-temannya. Langsung deh kita putuskan hubungan teleponnya.
Di sini pentingnya front liner, di perusahaan or instansi mana pun. Begitu front linernya payah, gawat deh akibatnya. Bisa salah informasi, salah komunikasi, salah macem-macem lagi. Jarang front liner sigap melayani customer. Mungkin pikirnya, "Ah, kita kan nggak harus menguasai semua informasi, kan ada bagiannya sendiri-sendiri." Sikap mental begini ini payah: nggak mau belajar, mengandalkan orang lain tidak mementingkan citra perusahaan.
Tapi, siapa sih sekarang mau susah-susah belajar menguasai pekerjaannya, penting kan dapet gaji, tenggo, tunjangan full!
Monday, April 27, 2009
Ikuuut...
Kalo anak pentas, orangtua ikut repot. Kayak-kayak begini selalu kualami jika Jessie terpilih menjadi penari sanggar untuk tampil. Kita sih seneng-seneng aja, malah momen-momen seperti ini kita pakai untuk memperlambat irama hidupku wuusss....
Pentas kali ini adalah untuk meresmikan pembukaan cabang Sanggar Tari Natya Lakshita di Klaten, tempatnya di SD Kristen 3. Sepulang sekolah kami m nasi Padang di Duta Minang, rebah-rebah sekitar 15 menit, mandi, lalu berangkat. Misua bilang pake aja si Konde, supaya perjalanan lebih nyaman, terutama buat Jessie. Jadilah kita bawa si Konde, biar nggak ngejen di jalan. Kasihan si Mumun kalo ke luar kota, bisa ngos-ngosan nanti.
Di sanggar baru 3 orang hadir. Begitu anak-anak dirias matanya oleh Pak Sugita, kita mendekat, memerhatikan apa saja dioleskan sampai rias matanya jadi. Sekalian belajar, siapa tau Jessie diminta menari sendiri kan kita udah mulai bisa ngerias matanya. Pak Gita (baca: Gito) ngajarin juga cara membentuk alis mata, ukur-ukurannya juga.
seru kala iring-iringan mobil berangkat. Begitu tahu teman-temannya berkumpul dalam satu bus, Jessie pun ikut mereka. Tinggallah kita sendiri. Kita diem-diem aja di pintu masuk sanggar. Sesudah pada mulai berangkat, ternyata ikut kita itu Mbak Cempluk Pak Hendrid serta seorang murid ambil les privat tari klasik untuk bekal mengajar di Sinagpura.
Kesel deh salah jalan, karena kita ambil jalan kota. Nggak bisa lancar. Lupa lagi kalo itu hari Sabtu, kan banyak orang pulang kerja lebih awal, or pada ke pusat-pusat perbelanjaan. Jalan mulai agak lancar kala keluar Yogya dekat Prambanan. Lagi cerita-cerita tentang pejabat lewat karena jalanan dikosongkan, tiba-tiba dari belakang terdengar sirene meraung-raung. Kita siap-siap minggir memberi jalan. Begitu lewat terbaca I-IV ijo, langsung kita ikuuuut....! Si Konde kan cukup besar untuk menjadi mobil rombongan. Gemeteran juga kala kita nyalain lampu hazard ikut rombongan. Lampu merah lewaaat semua, begitu belok kanan mau masuk Klaten juga lancar. Mau belok kiri menuju lokasi, kita melepaskan diri dari rombongan.
Alhasil Yogya-Klaten, cepet bener. Kalo nggak, mana keburu mau mendampingi anak-anak dan ganti pakaian? Ha...ha...ha..., gara-gara ikuuut..., lancar deh!
Pentas kali ini adalah untuk meresmikan pembukaan cabang Sanggar Tari Natya Lakshita di Klaten, tempatnya di SD Kristen 3. Sepulang sekolah kami m nasi Padang di Duta Minang, rebah-rebah sekitar 15 menit, mandi, lalu berangkat. Misua bilang pake aja si Konde, supaya perjalanan lebih nyaman, terutama buat Jessie. Jadilah kita bawa si Konde, biar nggak ngejen di jalan. Kasihan si Mumun kalo ke luar kota, bisa ngos-ngosan nanti.
Di sanggar baru 3 orang hadir. Begitu anak-anak dirias matanya oleh Pak Sugita, kita mendekat, memerhatikan apa saja dioleskan sampai rias matanya jadi. Sekalian belajar, siapa tau Jessie diminta menari sendiri kan kita udah mulai bisa ngerias matanya. Pak Gita (baca: Gito) ngajarin juga cara membentuk alis mata, ukur-ukurannya juga.
seru kala iring-iringan mobil berangkat. Begitu tahu teman-temannya berkumpul dalam satu bus, Jessie pun ikut mereka. Tinggallah kita sendiri. Kita diem-diem aja di pintu masuk sanggar. Sesudah pada mulai berangkat, ternyata ikut kita itu Mbak Cempluk Pak Hendrid serta seorang murid ambil les privat tari klasik untuk bekal mengajar di Sinagpura.
Kesel deh salah jalan, karena kita ambil jalan kota. Nggak bisa lancar. Lupa lagi kalo itu hari Sabtu, kan banyak orang pulang kerja lebih awal, or pada ke pusat-pusat perbelanjaan. Jalan mulai agak lancar kala keluar Yogya dekat Prambanan. Lagi cerita-cerita tentang pejabat lewat karena jalanan dikosongkan, tiba-tiba dari belakang terdengar sirene meraung-raung. Kita siap-siap minggir memberi jalan. Begitu lewat terbaca I-IV ijo, langsung kita ikuuuut....! Si Konde kan cukup besar untuk menjadi mobil rombongan. Gemeteran juga kala kita nyalain lampu hazard ikut rombongan. Lampu merah lewaaat semua, begitu belok kanan mau masuk Klaten juga lancar. Mau belok kiri menuju lokasi, kita melepaskan diri dari rombongan.
Alhasil Yogya-Klaten, cepet bener. Kalo nggak, mana keburu mau mendampingi anak-anak dan ganti pakaian? Ha...ha...ha..., gara-gara ikuuut..., lancar deh!
Friday, April 24, 2009
State of Mind
Siang-siang panas, hapeku bunyi, pertanda ada sms masuk. Ternyata dari Sr. Anna, PK di Kediri. Bunyi pesannya menggelitikku untuk menuliskan hal ini: Selamat memperingati Hari Bumi, 22 April. Green is not a color, it's a state of mind. Bagus nih pikirku, lalu muncul ide membalas sms dia dengan Green is not a merely slogan, it's a way of life.
Dia memang terkenal dengan gaya hidupnya hijau. Di Kediri, ada kelompok para miskin dibinanya untuk membuat tas belanja, tas peralatan mandi dompet uang receh dari bekas punch sabun mandi, obat pel, kopi, dll. Lalu hasil karya itu dijual.
Melalui perjumpaan-perjumpaanku dengan beliau, kesadaran untuk menyayangi bumi semakin dalam tertanam. Beberapa kali kita membuat posting tentang menghemat pemakaian kertas, memisahkan sampah kering dari sampah basah, dll. Di tengah-tengah ketak berdayaan melihat pak sampah mencampurkan sampah kering dengan sampah basah, kita mencoba usul ke Darwis (Dasa Wisma) untuk mengangkat topik tentang hal ini. Tapi, usulku kandas di tangan sang jubir. Selain itu kita usul juga ke ketua rapatku supaya notula rapat tak perlu diperbanyak, tapi dikirim via email, jadi nggak perlu buang-buang kertas. Toh, semua peserta rapat punya laptop internet bukan lagi barang mewah. Supaya notulanya nggak diubah-ubah, dibuatlah dengan file pdf. Ketua rapat sering kita hadiri setuju, cuma realisasinya masih harus dilihat.
Jadi, kita mulai dengan diri sendiri. Memisahkan sampah kering dari sampah basah, sudah biasa. Lalu, kita membantu kawanku mengumpulkan HVS putih baru terpakai satu sisi untuk dijadikan 'buku tulis' bagi sebuah sekolah di kawasan Adisucipto. Lalu, kita memisahkan kardus kertas warna dari kertas putih. kita tahu pasti semua itu didaur ulang ya di tempat pengumpulan kertas anfal. Jangan dikira jika rumah tangga nggak memproduksi kardus bekas, banyak sekali ternyata. Di rumahku sendiri, sebulan bisa 2 sampai 3 kg! Mengerikan!
Lalu ke mana-mana kita membawa sebuah tas kain kecil. Jadi, kalo kita beli sesuatu, tak perlu tas kresek. Bertepatan dengan itu, salah satu adik ipar mengirimi kita tas sehari-hari lumayan besar. Jadi, kalo barang kecil-kecil, kita langsung masukkan ke tas aja, gak perlu kresek. Pernah juga sih kita mengalami hal memalukan sehubungan dengan memasukkan belanjaan ke tas sendiri bukan tas kresek toko. Ceritanya kita beli kaset lagu daerah anak-anak di sebuah pusat kerajinan cukup terkenal di kota ini. Tau sendiri deh kota turis, siang itu toko juga kayak ublegan cendol, orang ramai berduyun-duyun beli cinderamata di sana. Selesai bayar di kasir, kita bilang ke kasir jika kasetnya nggak usah dipakein tas kresek, langsung masuk tasku aja. Lalu kita langsung pulang. Begitu lewat di sensormatic depan pintu masuk, bunyi tuh alarm!!! Kita aja lewat di situ. Langsung kita digiring ke dekat kasir terus tasnya diperiksa. Ketemulah barang toko itu masih tertempel di sana nota pembayarannya, untungnya nggak kita buang. Penjaga toko satpamnya munduk-munduk minta maaf. Malunya itu rek..., astaga!!!! Mungkin itu bikin kita kadang-kadang males bawa tas sendiri...
Pemakaian obat nyamuk semprot udah kita ganti dengan obat nyamuk elektrik baunya mild sekali. Semprot-semprot masih kita gun dengan frekuensi mat jarang adalah parfum. Untuk fave ku Channel 05 oles, jadi gak perlu semprot-semprot terlalu sering.
Kayaknya, banyak deh masih bisa kita lakukan untuk menghijaukan bumiku. Bukan untuk apa-apa, tapi supaya generasi mendatang, anakku termasuk di dalamnya, bisa hidup dengan lebih baik.
Dia memang terkenal dengan gaya hidupnya hijau. Di Kediri, ada kelompok para miskin dibinanya untuk membuat tas belanja, tas peralatan mandi dompet uang receh dari bekas punch sabun mandi, obat pel, kopi, dll. Lalu hasil karya itu dijual.
Melalui perjumpaan-perjumpaanku dengan beliau, kesadaran untuk menyayangi bumi semakin dalam tertanam. Beberapa kali kita membuat posting tentang menghemat pemakaian kertas, memisahkan sampah kering dari sampah basah, dll. Di tengah-tengah ketak berdayaan melihat pak sampah mencampurkan sampah kering dengan sampah basah, kita mencoba usul ke Darwis (Dasa Wisma) untuk mengangkat topik tentang hal ini. Tapi, usulku kandas di tangan sang jubir. Selain itu kita usul juga ke ketua rapatku supaya notula rapat tak perlu diperbanyak, tapi dikirim via email, jadi nggak perlu buang-buang kertas. Toh, semua peserta rapat punya laptop internet bukan lagi barang mewah. Supaya notulanya nggak diubah-ubah, dibuatlah dengan file pdf. Ketua rapat sering kita hadiri setuju, cuma realisasinya masih harus dilihat.
Jadi, kita mulai dengan diri sendiri. Memisahkan sampah kering dari sampah basah, sudah biasa. Lalu, kita membantu kawanku mengumpulkan HVS putih baru terpakai satu sisi untuk dijadikan 'buku tulis' bagi sebuah sekolah di kawasan Adisucipto. Lalu, kita memisahkan kardus kertas warna dari kertas putih. kita tahu pasti semua itu didaur ulang ya di tempat pengumpulan kertas anfal. Jangan dikira jika rumah tangga nggak memproduksi kardus bekas, banyak sekali ternyata. Di rumahku sendiri, sebulan bisa 2 sampai 3 kg! Mengerikan!
Lalu ke mana-mana kita membawa sebuah tas kain kecil. Jadi, kalo kita beli sesuatu, tak perlu tas kresek. Bertepatan dengan itu, salah satu adik ipar mengirimi kita tas sehari-hari lumayan besar. Jadi, kalo barang kecil-kecil, kita langsung masukkan ke tas aja, gak perlu kresek. Pernah juga sih kita mengalami hal memalukan sehubungan dengan memasukkan belanjaan ke tas sendiri bukan tas kresek toko. Ceritanya kita beli kaset lagu daerah anak-anak di sebuah pusat kerajinan cukup terkenal di kota ini. Tau sendiri deh kota turis, siang itu toko juga kayak ublegan cendol, orang ramai berduyun-duyun beli cinderamata di sana. Selesai bayar di kasir, kita bilang ke kasir jika kasetnya nggak usah dipakein tas kresek, langsung masuk tasku aja. Lalu kita langsung pulang. Begitu lewat di sensormatic depan pintu masuk, bunyi tuh alarm!!! Kita aja lewat di situ. Langsung kita digiring ke dekat kasir terus tasnya diperiksa. Ketemulah barang toko itu masih tertempel di sana nota pembayarannya, untungnya nggak kita buang. Penjaga toko satpamnya munduk-munduk minta maaf. Malunya itu rek..., astaga!!!! Mungkin itu bikin kita kadang-kadang males bawa tas sendiri...
Pemakaian obat nyamuk semprot udah kita ganti dengan obat nyamuk elektrik baunya mild sekali. Semprot-semprot masih kita gun dengan frekuensi mat jarang adalah parfum. Untuk fave ku Channel 05 oles, jadi gak perlu semprot-semprot terlalu sering.
Kayaknya, banyak deh masih bisa kita lakukan untuk menghijaukan bumiku. Bukan untuk apa-apa, tapi supaya generasi mendatang, anakku termasuk di dalamnya, bisa hidup dengan lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)