Saturday, November 8, 2008

Psikologi Suami – Istri

Kategori: Pernikahan
Sumber: Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri; Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi; Mitra Pustaka.

Oleh Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi

Semua orang pasti setuju bila dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Kondisi psikologis yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon sesuatu. Perbedaan tersebut membuat masing-masing menjadi jelas dan sepertinya tidak akan mungkin bisa bersandar pada dunia yang sama, cara berfikir yang sama. Inilah kodrat manusia. Agar tak salah dalam menafsirkan cara berpikir, maka adalah baiknya mengetahui bagaimana perbedaan ini? Dengan mengetahui dasar-dasar perbedaan ini, diharapkan tidak ada lagi rasa curiga.

Selain perbedaan yang mencolok secara fisik, tentu banyak perbedaan lainnya secara lahiriah. Begitu halnya dalam hal cara berfikir. Cara berfikir lelaki terkonsentrasi (terpusat) pada kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja. Sebaliknya pada wanita, akan lebih mudah memperhatikan sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri. Ia akan menngorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal tersebut.

Perbedaan cara berpikir ini yang mendasari sikap tidak saling memahami jalan pemikiran. Lelaki tidak bisa berfikir dan menyikapi sesuatu seperti yang dilakukan perempuan. Begitu juga sebaliknya. Jika masing-masing pihak memaksakan cara berpikirnya, tentu saja fatal akibatnya. Timbullah rasa frustasi, ketegangan yang diwarnai pertengkaran, kebencian yang dapat menimbulkan keretakan dalam rumah tangga.

Lalu, apa saja perbedaan itu?

Cara Berpikir

Otak lelaki dan perempuan berbeda, begitu pula dalam penggunaannya. Para lelaki akan sulit sekali merubah fikirannya dalam waktu sekejab. Lain hal dengan wanita.

Jika seorang lelaki dalam konsentrasi penuh melakukan suatu hal, maka akan sulit baginya untuk membagi konsentrasi pada hal lainnya. Misalnya, seorang suami sedang asik membaca. Si istri datang dengan maksud ingin menciptakan suasana hangat. Namun yang terjadi pada suami adalah si istri mengganggu konsentrasinya. Hal umum terjadi adalah, suami dan istri sama-sama menjadi jengkel karena tak terpenuhi keinginannya.

Hal yang harus dilakukan istri adalah, tanyakan pada suami apakah dia ingin berbincang-bincang padanya. Jika suami mengatakan kesanggupannya tapi dia tidak melepaskan matanya dari bacaannya. Lebih baik tak usah dilanjutkan lagi perbincangan karena sudah pasti suami tidak akan dapat berkonsentrasi dengan dua macam perbuatan. Lebih baik cari lagi waktu luang lainnya. Dan hal ini tidak berarti dia tidak mencintai dan perduli pada istrinya. Hal ini hanyalah karena tabiat dasar seorang lelaki.

Interaksi dengan dunia luar bagi lelaki adalah pergulatan dengan dunia luar. Pergulatan yang membutuhkan enerji besar dan keharusan untuk memenangkannya. Ia harus selalu menjadi orang yang berada di urutan teratas. Tentu saja interaksi ini berbeda jauh pada kaum perempuan yang penuh dengan kasih sayang, dunia penuh cinta, dan hubungan sosial.

Cara berfikir terhadap dunia luarpun menjadi sangat berbeda. Dimana lelaki berfikir secara sentratif (memusat) akan mengaitkan satu hal dengan hal lainnya kemudian secara bertahap membentuk sebuah gambaran yang dapat ia mengerti. Sedangkan perempuan memiliki sifat ekspansif (meluas) dimana pada tahap awalnya ia akan mencoba menjelajah segala aspek yang terkait dengan objek kemudian mengkaitkan bagian-bagian tersebut.

Contoh sederhana adalah saat berbelanja. Bagi lelaki dimana cara berfikirnya terkonsentrasi adalah langsung membeli barang yang dibutuhkannya dan mengabaikan lainnya. Berbeda dengan perempuan yang bersifat ekspansif. Perempuan membutuhkan waktu untuk menjelajah sambil menyebarkan sifat penyayangnya. Tentu hal yang melelahkan bagi lelaki bila ia dipaksakan harus melakukan hal yang sama seperti kaum perempuan.

Perbedaan lainnya terletak pada cara berfikir dalam menyelesaikan masalah. Bagi lelaki, berfikir adalah diam namun bagi perempuan berfikir sambil berbicara agar mendapatkan kejernihan dalan berfikir. Kontradiktif. Tabiat pokok para lelaki adalah perhatian pada sesuatu yang di luar. Sehingga ketika ia mengalami kesukaran maka ia akan menarik diri dan mulai berfikir secara diam. Ia berusaha memecahkan permasalahan yang dialami. Demikianlah cara lelaki bersikap agar telepas dari kesukaran dan kelelahan.

Lelaki yang merasa lelah akan berusaha mencari kelegaan dengan berusaha mendapatkan tempat yang cukup tenang, jauh dari kebisingan. Dan secara umum berusaha menghindarkan diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin berbicara, baik pada permasalahan yang dihadapi maupun tema lainnya. Yang diinginkan lelaki pada waktu itu hanyalah ketenangan. Dan rumah adalah tempat mendapatkan ketenangan itu.

Di antara naluri khas lelaki adalah apabila ia konsentrasi untuk membahagiakan perempuan maka ketika itu semua pikiran dan usahanya terpusat untuk mewujudkannya. Bila ia merasa perempuan telah merasa bahagia, maka lelaki akan berusaha mengubah pikirannya pada hal baru secara tidak sengaja. Ia mulai konsentrasi pada hal lain, seperti permasalahan dalam pekerjaan. Sehingga otaknya sibuk, pemikirannya tertumpah pada hal tersebut, sehingga masalah baru itu menjadi sangat menyibukkan dia. Seakan-akan ia telah mengabaikan istrinya yang ia cintai.

Seni Berkomunikasi

Sudah umum dikatakan bahwa perempuan adalah makhluk cerewet yang banyak omong. Sebenarnya pendapat itu tidak salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Kaum lelaki juga sangat suka berbicara. Kaum lelaki banyak berbicara saat di luar rumah, saat ia berjuang dan berkorban untuk mendapatkan kebutuhannya. Saat di rumah ia menjadi pendiam karena baginya rumah bukan tempat untuk berjuang. Rumah adalah tempat untuk beristirahat, mengistirahatkan otaknya. Berbeda dengan kaum perempuan yang merasa rumah adalah tempat yang tepat untuk berbicara terutama dengan suaminya. Lagi-lagi, keadaan yang sangat jauh berbeda. Lalu bagaimana mengatasinya?

Tentu saja harus melihat kondisi dan situasi. Lelaki yang sedang memiliki masalah di kantor akan terus membawa masalahnya itu sampai ke rumah. Ketika suami sedang dalam kondisi letih dan mempunyai masalah, maka perempuan harus memahami hal itu bahwa suami sedang lelah, butuh istirahat, dan ketenangan. Kewajiban perempuan adalah memenuhi hal tersebut. Jika tidak, akibatnya akan buruk. Jika suami telah menemukan pemecahan masalahnya, letihnya telah habis, maka ia akan terlihat gembira. Pikirannya menjadi baik kembali. Mukanya menampakkan senyuman yang lebar. Siap diajak untuk berkomunikasi.

Dalam dunia lelaki, ada dua sebab mengapa ia mau berbicara tentang masalahnya:
1. Ingin berembug dan mencari jalan keluar
2. Ingin membebaskan diri dari tanggung jawab dan kesalah tersebut.

Dalam benak lelaki, saat perempuan mengatakan keluhannya, dua hal tersebutlah yang menjadi alasannya. Jikalah istrinya mengeluh, maka secara otomatis, lelaki yang menganggap dirinya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab penuh kepada istrinya akan memberikan jalan keluarnya. Namun lelaki tidak mengetahui bahwa istrinya membutuhkan perbincangan kasih sayang bukan membutuhkan nasehat-nasehat dan jalan keluar. Baik, jika ternyata lelaki itu mampu mengerti akan kebutuhan bercakap-cakap ini dalam diri istrinya sehingga konflik tidak ada.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah jika lelaki menangkap pesan bahwa keluhan yang disampaikan istrinya adalah salah satu tindakan pembebasan diri si istri dari tanggung jawab. Dengan kata lain, bahwa lelaki merasa bahwa istrinya telah menganggapnya lalai. Ketika inilah lelaki akan mengeluarkan senjatanya untuk membela diri. Di sinilah harus ada trik-trik dalam menyampaikan keluhan permasalahan.

Di lain sisi, kaum perempuan menyukai memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Keadaan berbeda pada kaum lelaki. Perbedaan memang selalu ada selayaknya tulang rusuk yang bengkok bagi kaum lelaki, selalu berseberangan sifatnya. Tujuan memberikan bantuan bagi kaum perempuan adalah untuk membuat dia merasa dicintai. Sementara dalam dunia kaum lelaki, memberikan bantuan sukarela dianggap sesuatu yang tak dapat diterima. Kadang ditafsirkan sebagai penghinaan atas sebuah ketidakmampuan.

Karena itulah, seorang istri yang baik akan membiarkan suaminya berkerja dan percaya penuh padanya. Biarkanlah ia, turutilah, dan jangan mencampur aduk. Jangan berusaha memperbaiki kecuali apabila ia tidak bekerja dan berhenti dari pekerjaannya.

Secara umum, bila perempuan ingin memberikan bantuan kepada suaminya atau memberikan nasehat kepadanya. Murni keinginannya dengan tujuan untuk kebaikan si suami, sebagai wujud rasa cinta tanpa diminta suami. Sikap ini akan terasa menyakitkan bagi suami. Bagi suami, tindakan ini sebagai sikap dari rasa ketidakpercayaan istri padanya. Ada baiknya dilakukan dengan sikap yang tidak menggurui atau dengan cara tidak langsung.

Friday, November 7, 2008

Drop Lagi

Wah, salah kira nih. pagi kita kelaparan, lalu nyemil kue-kue dibawa mertua. Jumlahnya cukup banyak, jadi kita kenyang. Abis itu masih ditambah minum kopi mix. Jadi, kala beli sarapan buat misua, kita gak ikutan beli. Pikirku cukuplah sampe siang nanti.

Mulai deh errornya jam 8, datengnya dari leher terasa kencang lalu senut-senut di pelipis. Kira-kira jam 9 kita minum obimin buat naekin tekanan darah. Jemput Jessie juga sambil keliyengan. Abis m siang kita minumin lagi obiminnya. Mungkin saking sakitnya kepalkita ini, malah nggak bisa tidur. Wah, runyam.

Akhirnya kita mandangin aja alam ngamuk dari jendela kamar kerja. Pohon pisang di halaman tetangga depan goyat-gayut kayak mau kecabut aja. Ngeliat semua itu sama sakit kepalanya jalan bareng, sengsaraa… deh!

Keliyengannya baru reda sekitar pk 21.00. Cepet-cepet deh kita minum madu bipolen. Masak obimin lagi, kesian deh mijn ginjel kalo gitu! Untung nggak abis tekanan darahnya.

Pagi ini kita m nasi seperti biasa. Pk 5 tadi kita ganjel pake bolu teh madu. Abis anter Jessie beli sarapan baru deh lega. Masak saban hari keliyengannya, gazwat dong.

Thursday, November 6, 2008

Pekerjaan Menunggu

Nunggu tuh kerjaan bukan ya? Soalnya nggak keliatan kerja, diem aja. Tapi dibilang bukan kerjaan koq ya menghabiskan waktu. lucu, menunggu bisa terjadi di mana-mana, berulang kali, dengan sengaja dilakukan, bahkan dimodif.

Sebagian besar kerjaan ibu rumah tangga itu menunggu. Mulai dari menunggu tomat dididihkan, menunggu air panas untuk mandi, menunggu nasi ditanak, menunggu tukang ini itu dateng, menunggu suami pulang, menunggu anak les, dll seribu satu macam pekerjaan menunggu.

kita terbiasa menunggu, kadang-kadang kita sabar tapi bany nggak sabarannya. Daripada ngomel-ngomel, udah sejak lama kita berbekal buku kemana-mana, supaya kalo kita terpaksa harus menunggu, kita punya sesuatu untuk dilakukan. Mungkin buku selalu kita sedi itu Reader’s Digest (edisi Indo lah, kalo baca Inggris bisa keriting terus malah jadi mencak-mencak). Tapi, kalo lagi banyak membutuhkan referensi, bukunya jadi ‘berat’. Kalo udah begini, baca buku saat menunggu bukan lagi killing time tapi mendingan ngelamun kali…

Jadi, menunggu buat kita itu sebuah kesempatan langka ma uterus kita eksplor. So far sih kita menuruti kata hati aja. Kalo lagi pas bosen baca, ya kita ngelamun sambil mencermati apa kita tungguin, misalnya ngeliatin ger tarinya Jessie. Or ngeliatin dia renang. Kalo pas harus baca ref kita paksain deh baca, karena pas nunggu ini ada waktunya.

Ada bilang begini, nunggu itu salah satu cara melatih kesabaran, supaya kita tambah arif. Buatku itu kayak menunggu Godot!

Wednesday, November 5, 2008

Beranjak Besar

Kami cukup terkejut kala mendengar keluhan si anak semata wa jika payudaranya sakit. Soalnya dia abis jatuh, jadi pikiran nih udah nggak-nggak. Jangan-jangan kala jatuh kena ke dada, seribu satu macem jangan-jangan. Tetapi setelah kita amat-amati ternyata nipplenya mulai membentuk, mungkin proses itu bikin sakit. Barangkali seperti gigi mintip-mintip mau tumbuh.


Terus kepikirlah membelikan dia miniset, kayaknya kaos dalem aja udah nggak memadai. Nah ini, ternyata miniset itu ada bermacam-macam step, dari step 1 sampai step 3. Step 1 bentuknya kayak kaos dalem, tapi panjangnya sampai pertengahan dada, lalu plain sama sekali, nggak ada busanya. Step 2 panjangnya miniset berkurang sampai kurang lebih 2 cm di bawah payudara, lalu di bagian belakangnya ada tali menyilang. Step 3 udah seperti bra biasa, tapi busanya tipis sekali. Kita bingungnya tuh miniset nggak boleh dicoba. Akhirnya kita ukur-ukurin aja di badannya Jessie. Dibelilah si step 2, tapi nggak pake tali menyilang, biasa aja model talinya.


Namanya anak-anak, udah ketemu stepnya, dia bingung milih….gambarnya warnanya. Akhirnya dia milih ada bunganya gantung-gantung. Kita misua mesem-mesem aja, liat anak-anak mulai gede.


Terus kemaren malem, kala antar temen nyari jas di Centro, dia ajak lagi cari miniset. Nah, kalo ini simple, nggak ada step-stepan. Bentuknya seperti bra, hanya ukurannya S pake karet elastis, jadi nggak pake kait. Begitu coba langsung pas. Jadi, dia beli lagi tuh miniset.


Lucunya, karena gambarnya juga lucu, udah rapi-rapi pake seragam, tiba-tiba Jessie bilang begini, “Nih Mam, liat, lucu kan gambarnya?” Terus dia sibak sedikit kemeja seragamnya. Dasar anak-anak, polos-polos gimana gitu….

Tuesday, November 4, 2008

Akhirnya... Ketangkep Zzhuga!

Kemaren malam kita harus mewawancara calon karyawan gereja. Janjiannya sih pk 19.30, tapi setelah membereskan keadaan di rumah (anak n misua udah makan), kita berangkat pk 19.10.

Mungkin karena memikirkan banyak hal, kita melanggar lampu merah di bunderan Abubakar Ali. Langsung deh kena prit!

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, kita ditanya bisa nggak kalo sidang tanggal 12 November. Kita bilang aja bisa, terus iseng-iseng aja kita tanya kalo didenda berapa.

“Saya bantu diproses di sini aja, biayanya Rp 20.000.”

Karena kita bawa duit cash ya kita bayar, kalo adanya duit plastik kita sidang, he…he…he…. Mustinya polisi-polisi juga bawa gesekan kartu debit ya, hah????

Sebenernya, dua hari lalu kita juga pernah ampir kena prit pak polisi. Soalnya tuh lampu masih ijo, jadilah kita jalan (masak berenti?). Pas baru ban depan lewat batas lampu merah, eh lampunya jadi merah. Ya kita terusin jalan, walopun pak polisinya rebut maen sempritan di belakangku. Wah, mati deh, kita pasti dikejer polisi nih. Tapi mungkin karena udaranya sumuk luar biasa, kita aman-aman aja. Eee…, tak disangka tak dinyana akhirnya kita ketangkep juga kemaren malam.

Misua bilang, “Gak apa-apa deh, itung-itung nyumbang.”

Kejer-kejeran koq sama polisi, ya amsyiong lah, ha…ha…ha…

Monday, November 3, 2008

Sekejap Melintas

Minggu lalu kita nganterin kongsiku sekeluarga pulang sekolah, soalnya something wrong sama mobilnya.

Tiba-tiba dia membaui bajuku. Kita jadi ngerasa agak-agak gimana gitu, soalnya kongsiku ini matanya tajam, penciumannya juga. Koq jadi kayak werewolf ya, hii…., tapi itulah kelebihannya.

“Kenapa Mel, something wrong?”

“Nggak, koq kita nyium bau rokoknya Mas Janni. Makanya kita cium bajumu. Tapi ternyata bukan.”

“You missed him very much, aren’t you?”

“Yes, true. I missed him.”


Kayak gitu kali ya kalo merindukan kekasih hati sudah tiada? Kala cerita ke misua, dia langsung merinding! Kalo kita sih mencoba menyerap aja momen kayak gitu. Pengalaman-pengalaman unik dengan orang-orang ditinggal mati kekasih jiwanya banyak kita alami.

Selaen pengalaman di atas, di kost kita dulu juga begitu. Anaknya induk semangku baru aja meninggal dikubur 4 hari. Minggu siang itu kita salah satu anaknya m bersama. Setelah m sendok garpu masih diletakkan di dekat gelas, lalu kami ngobrol ngalor- ngidul ceritain papanya semasa hidup. Tiba-tiba dia sadar ada aneh pas mau nyuci sendok garpu. ilang sendoknya. Dicari ke kolong-kolong, tetep nggak ketemu. Lalu sambil merinding dia ngomong gini, “Mbak Ian, papa datang, papa datang. Dia ambil sendokku.” Misteri itu nggak pernah terpecahkan sampai sekarang. Setelah itu nggak pernah lagi Mas Ari dateng-dateng.

Tapi…, kita nggak bakalan mau kalo disuruh memperdalam ilmu itu. Nggak enak rasanya. keliatan-keliatan mata biasa aja deh!

Sunday, November 2, 2008

Bonyok

Bukan bokap nyokap, tapi bonyok beneran. Nih ada kaitannya sama idungnya Jessie. Dalam perjalanan jemput dia Sabtu lalu, kita ditelepon kepseknya. Dengan suara takut-takut dia memberitahu, “Kak Ian, inii… tadi Jessie terdorong temannya pas pelajaran olahraga. Lalu, dia jatuh.”


“Lalu, kena apanya?”


“Hidungnya. Tapi tadi sudah diperiksa guru olahraganya nggak apa-apa, hanya memar luka berdarah di lubang hidung.”


Ada patah or goyang? Jessienya mengeluh pusing nggak?”


“Oh nggak, nggak ada patah or goyang. Jessie juga nggak pusing. Saya memberitahu supaya Kak Ian nanti nggak kaget kala jemput lihat ada luka di mukanya Jessie. Kmi minta maaf atas kejadian ini.”


“Ya, ok. Saya segera ke sana.”


Lega banget kala liat Jessie tergolong nggak apa-apa karena luka cukupan itu persis di bawah lubang hidung. Bagian hidung sebelah kiri bengkak sedikit, batang hidungnya lecet-lecet memanjang, dagunya memar biru, Selain itu punggung tangannya lecet dikit. Lutut kiri kanan memar biru lecet-lecet.

Menurut cerita Jessie, dia lagi jalan di pinggir lapangan, lagi ngincer bola. Tiba-tiba dari belakang dia ditabrak temennya. Langsung nyungsep ke paving block. Kala nyungsep itu, tangannya refleks nutupin mata, makanya punggung tangannya luka.

Bapaknya kaget, pulang-pulang muka anaknya bonyok. Mau dibawa ke dokter, tapi anaknya sendiri udah nggak ngeluh. Ditanyain pelan-pelan ngerasa pusing, mual or mata berkunang-kunang nggak kala jatuh. Teteup aja ngegeleng.

Dengan kondisi muka bonyok, kemana-mana jadi malu. Jadi wiken kemaren di rumah aja, sambil ngomporin Jessie supaya nggak usah malu kalo ketemu orang. Namanya aja kecelakaan, orang jatuh itu biasa. Luka juga nggak bisa sembuh instant, walau udah ditaburin hau fung san sakti mandraguna… Jadi, kalo orang kiri kanan nanya ya dijawab aja kalo itu karena jatuh. Soalnya, anakku ini kan mentingin banget gimana dia tampil di depan orang, beda 180 derajat sama emaknya, ha…ha…ha…., jadi perlu dikomporin supaya Jessie gak berkurang pedenya.

Search This Blog