Home » All posts
Saturday, April 18, 2009
Jepit kertas Karet
Penjepit kertas cantik dengan kepala berbentuk hati terbuat dari karet, praktis dan cantik. Dibungkus kantong plastik transparant.Harga Rp. 6.000,-/pcs Minimal Pembelian 100 pcs Harga belum termasuk ongkos kirim
Menicure Set
Menicure Set MarmerMenicure set yang dikemas dalam kotak bermotif marmer, sangat cocok untuk souvenir pernikahan, karena eksklusif. Berisi menicure set yang lengkap. Bisa dikemas dalam kantung tile warna senada.Harga Rp. 8.500,-/pcs Minimal Pembelian 50 pcs Harga belum termasuk ongkos kirimMenicure Set TabungMenicure set yang dikemas dalam kemasan mungil berbentuk tabung. Praktis untuk dibawa
Sabun Kertas
Sabun Kertas dalam TabungSabun berupa lembaran tipis yang berbentuh hati, dikemas dalam tabung dan dibungkus kantung tile berwarna senada. Cocok untuk souvenir siraman pengantin / acara resepsi perkawinan.Harga Rp. 6.500,-/pcs Minimal Pembelian50 pcs Harga belum termasuk ongkos kirimSabun Bunga 1pcSabung berbentuk bunga, dikemas kotak mika berisi 1 pc bunga.Harga Rp. 3.000,-/pcs Minimal Pembelian
Thursday, April 16, 2009
Bukan Tempatnya
Beberapa kala lalu kami mendapat voucher potongan Rp 5.000 di Carefour Amplaz. Jadi, sore itu kami berangkat ke sana, sekalian liat-liat buku, sekalian jalan-jalan. Sampe di sana sih masih aman-aman, horor mulai kala masuk ke jalur parkir.
Di depanku ada Katana. Setelah pemeriksaan satpam di gerbang masuk area parkir, mobil itu mesinnya mati, dua kali, terus melorot lagi. Kita kan nggak nyangka kalo orang itu belum bisa, jadi jaraknya hanya 50cm dari mobil kita setirin. Akhirnya satpamnya nahan di belakang supaya mobil itu nggak kena ke mobilku.
Begitu masuk jalan naik turun, beberapa kali katana itu melorot. Kita jadi deg-degan. Mana parkiran bawah penuh, jadi harus ikut naik di belakang katana itu. Kita bilangin petugas parkir supaya melarang mobil itu naik, kan bisa celaka semua di bawah kalo dia nggak bisa berhentikan melorotnya mobil. Tepatnya sih, kita khawatir kalo terkena tubrukan. Syukurlah, naik satu kali rupanya dia dapet tempat parkir, tapi atretnya masih ngguk-nggukan, begitu agak lowong, langsung deh si Mumun kita pacu supaya mendahului katana itu.
Hhh...lega rasanya bisa parkir, erus nggak terjadi sesuatu menyebalkan. Cuman kita misua jadi berpikir, kualitas les-les setir mobil yah kayak begitu. Boleh dibilang asal bisa masuk gigi satu, ganti ke gigi lebih tinggi or sebaliknya, parkir paralel, berjalan di tempat macet. Lulus deh, apalagi kalo ada uangnya buat beli brevet udah pernah les setir mobil.
Lebih ketat di Singapura, amat ketat dalam mengeluarkan SIM. Udah dapet SIM, mobilnya masih diberi tanda. Tandanya berwarna-warna, ditempel di kaca depan kaca belakang berlangsung periodik. Jadi, jika di jalan tol ada pengendara mobil dengan lingkaran hijau --whatever the color--, pengendara lain harus berhati-hati karena orang ini baru saja mendapat SIM. Nanti beberapa bulan kemudian, orang ini diuji lagi, lalu lingkarannya berubah warna. Terus begitu sampai di mobilnya nggak ada stiker berarti orang itu sudah bisa nyetir dengan aman. Paling nggak sih 3 kali ujian.
Coba, gimana kalo sistem kayak gitu diberlakukan di Indonesia.... paling kita cuman bisa nyanyi, "Itulah Indonesia..."
Di depanku ada Katana. Setelah pemeriksaan satpam di gerbang masuk area parkir, mobil itu mesinnya mati, dua kali, terus melorot lagi. Kita kan nggak nyangka kalo orang itu belum bisa, jadi jaraknya hanya 50cm dari mobil kita setirin. Akhirnya satpamnya nahan di belakang supaya mobil itu nggak kena ke mobilku.
Begitu masuk jalan naik turun, beberapa kali katana itu melorot. Kita jadi deg-degan. Mana parkiran bawah penuh, jadi harus ikut naik di belakang katana itu. Kita bilangin petugas parkir supaya melarang mobil itu naik, kan bisa celaka semua di bawah kalo dia nggak bisa berhentikan melorotnya mobil. Tepatnya sih, kita khawatir kalo terkena tubrukan. Syukurlah, naik satu kali rupanya dia dapet tempat parkir, tapi atretnya masih ngguk-nggukan, begitu agak lowong, langsung deh si Mumun kita pacu supaya mendahului katana itu.
Hhh...lega rasanya bisa parkir, erus nggak terjadi sesuatu menyebalkan. Cuman kita misua jadi berpikir, kualitas les-les setir mobil yah kayak begitu. Boleh dibilang asal bisa masuk gigi satu, ganti ke gigi lebih tinggi or sebaliknya, parkir paralel, berjalan di tempat macet. Lulus deh, apalagi kalo ada uangnya buat beli brevet udah pernah les setir mobil.
Lebih ketat di Singapura, amat ketat dalam mengeluarkan SIM. Udah dapet SIM, mobilnya masih diberi tanda. Tandanya berwarna-warna, ditempel di kaca depan kaca belakang berlangsung periodik. Jadi, jika di jalan tol ada pengendara mobil dengan lingkaran hijau --whatever the color--, pengendara lain harus berhati-hati karena orang ini baru saja mendapat SIM. Nanti beberapa bulan kemudian, orang ini diuji lagi, lalu lingkarannya berubah warna. Terus begitu sampai di mobilnya nggak ada stiker berarti orang itu sudah bisa nyetir dengan aman. Paling nggak sih 3 kali ujian.
Coba, gimana kalo sistem kayak gitu diberlakukan di Indonesia.... paling kita cuman bisa nyanyi, "Itulah Indonesia..."
Tuesday, April 7, 2009
Penghayatan
Kalo dari asal katanya, hayat itu sama dengan hidup. Dulu kita masih mengenal buku dengan judul ilmu hayat, nggak laen nggak bukan sama dengan biologi sama dengan sains pada generasi Jessie sekarang. Jika ditambah awalan peng akhiran an = penghayatan= berarti penghidupan. Menurutku bisa dikonotasikan dengan mencoba menghidupkan or menjadikan hidup.
Hari-hari ini tanpa kita bisa kendalikan, banyak ingatanku tau-tau lagi membayangkan sengsara Tuhan Yesus menuju penyaliban. Mungkin karena tahun lalu tiba-tiba kita mengalami kematian seorang sahabat, lalu bayang-ba kematian menjadi sesuatu akrab denganku. Tahun-tahun lalu, paling banter kita menghayati kematian-Nya hanya dengan mendengarkan khotbah Jumat Agung. Nggak seperti kala kecil, saat kita menghayati iman Khatolik, upacara sudah dimulai sejak Kamis, kita harus pakai baju warna gelap untuk menand kedukaan. Kala itu di Protestan kayak gitu-gitu nggak ditekankan.
Saat menghayati inilah kita melakukan pencarian ke dalam diri. Betapa banyak kekeliruan, salah dosa di dalam hidupku. Nggak usah berat-berat, soal melanggar lampu merah aja, sering banget kita melakukannya. Apalagi dosa lebih serius, hanya diketahui otakku nurani sengaja kita bungkam, agar tak ada rasa salah tak nyaman. Itu baru di tahap dosa. Belum lagi, ndablegnya kita kalo soal mengampuni. Padahal dilakukan Tuhan Yesus dengan kematian-Nya adalah menanggung dosa umat manusia agar manusia beroleh pengampunan. Seharusnya kan kita juga mau bisa mengampuni, tetapi nyatanya........ hanya Dia lah tahu.
Saat-saat penghayatan ini juga menimbulkan gelisah tanya dalam diriku. Masak sih kita mau tinggal berkubang dengan dosa-dosaku? Kita jelas nggak mau. Berhari-hari mikirin ini sampai kita tiba di ujung pencarian: memahami dengan benar mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.
Keliatannya pendek, hanya satu kalimat, tapi mewujudkannya perlu usaha keras, nggak jera jika suatu saat jatuh terpenting kita mau bertaut kepada-Nya, supaya kita senantiasa dikuatkan diteguhkan. Konkritnya: lebih giat ber-PA berdoa, hidup dengan penuh cinta kasih so kita jadi nggak marah-marah melulu sama anak semata wayang, bekerja melayani lebih sungguh-sungguh. Kita mau lihat ah resolusi Paskahku ini beberapa bulan ke depan. Kita juga terus mendo supaya bukan hanya kematian-Nya kita hayati tetapi juga meray kebangkitan-Nya, jadi kita selalu disertai-Nya karena Dia selalu berkata, "Jangan takut, hanya kuatkan teguhkanlah hatimu..."
Hari-hari ini tanpa kita bisa kendalikan, banyak ingatanku tau-tau lagi membayangkan sengsara Tuhan Yesus menuju penyaliban. Mungkin karena tahun lalu tiba-tiba kita mengalami kematian seorang sahabat, lalu bayang-ba kematian menjadi sesuatu akrab denganku. Tahun-tahun lalu, paling banter kita menghayati kematian-Nya hanya dengan mendengarkan khotbah Jumat Agung. Nggak seperti kala kecil, saat kita menghayati iman Khatolik, upacara sudah dimulai sejak Kamis, kita harus pakai baju warna gelap untuk menand kedukaan. Kala itu di Protestan kayak gitu-gitu nggak ditekankan.
Saat menghayati inilah kita melakukan pencarian ke dalam diri. Betapa banyak kekeliruan, salah dosa di dalam hidupku. Nggak usah berat-berat, soal melanggar lampu merah aja, sering banget kita melakukannya. Apalagi dosa lebih serius, hanya diketahui otakku nurani sengaja kita bungkam, agar tak ada rasa salah tak nyaman. Itu baru di tahap dosa. Belum lagi, ndablegnya kita kalo soal mengampuni. Padahal dilakukan Tuhan Yesus dengan kematian-Nya adalah menanggung dosa umat manusia agar manusia beroleh pengampunan. Seharusnya kan kita juga mau bisa mengampuni, tetapi nyatanya........ hanya Dia lah tahu.
Saat-saat penghayatan ini juga menimbulkan gelisah tanya dalam diriku. Masak sih kita mau tinggal berkubang dengan dosa-dosaku? Kita jelas nggak mau. Berhari-hari mikirin ini sampai kita tiba di ujung pencarian: memahami dengan benar mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.
Keliatannya pendek, hanya satu kalimat, tapi mewujudkannya perlu usaha keras, nggak jera jika suatu saat jatuh terpenting kita mau bertaut kepada-Nya, supaya kita senantiasa dikuatkan diteguhkan. Konkritnya: lebih giat ber-PA berdoa, hidup dengan penuh cinta kasih so kita jadi nggak marah-marah melulu sama anak semata wayang, bekerja melayani lebih sungguh-sungguh. Kita mau lihat ah resolusi Paskahku ini beberapa bulan ke depan. Kita juga terus mendo supaya bukan hanya kematian-Nya kita hayati tetapi juga meray kebangkitan-Nya, jadi kita selalu disertai-Nya karena Dia selalu berkata, "Jangan takut, hanya kuatkan teguhkanlah hatimu..."
Sunday, April 5, 2009
Penggocohan Mental
Tadi pagi kala membereskan tas sekolah Jessie, kita menemukan surat-suratan Jessie dengan beberapa temannya. Surat-suratannya sih nggak apa-apa, isinya bikin hatiku mencelos.
Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi kita disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.
Hebat nggak? Rupanya pemal mental sudah dimulai. Kita sama misua cuma geleng-geleng. kayak begini ini rentan buat Jessie, kita lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak ludes tandas. Suatu kali kita pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin kita geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, kita sendiri nggak kebagian. Katanya kalo kita nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya or cara teman bersikap ketika dia bicara sangat mempengaruhi mentalnya. Jika udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.
Dari dua kasus dialami anakku, kita jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali jika kita mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Kita sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma lebih penting buat kita adalah memberitahu makna sahabat sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya kita juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.
Sisi positif Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, banyak berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilkita teman-temannya.
Jessie: A, kamu masih temen aku?
A: masih, tapi kita disuruh sama si B supaya cuek sama kamu sama C.
Hebat nggak? Rupanya pemal mental sudah dimulai. Kita sama misua cuma geleng-geleng. kayak begini ini rentan buat Jessie, kita lihat-lihat cilik ati. Pantesan kalo dibawain bekal selalu menolak-nolak ludes tandas. Suatu kali kita pernah iseng-iseng nanya, "Jess, udah bawa bekal koq jajannya masih banyak aja?" Jawabannya juga bikin kita geleng-geleng, "Temen-temen pada minta, kita sendiri nggak kebagian. Katanya kalo kita nggak mau bagi, dia nggak mau temen aku." Oalah Nak, sampe segitunya... Anakku ini nggak bisa cuek bebek. Cara teman memandangnya, cara teman menjawab pertanyaannya or cara teman bersikap ketika dia bicara sangat mempengaruhi mentalnya. Jika udah gitu mulailah dia mengkeret, kayak orang bingung. Jaadi seperti digocoh mentalnya.
Dari dua kasus dialami anakku, kita jadi bisa meraba-raba kenapa defensenya kuat sekali jika kita mau bicara dengan guru kelasnya. Gurunya mana tahu soal-soal begini, cara-cara persaingan tidak sehat dengan saling menggocoh mental. Gurunya cuman tau anak itu baik, pandai, dll...dll...! Kita sih sadar sesadar-sadarnya kalo ini kan baru dari data di tas Jessie, belon nyelidikin sampe ke rivalnya itu. Cuma lebih penting buat kita adalah memberitahu makna sahabat sebenarnya kepada Jessie. Kayaknya kita juga harus merhatiin her longing of friendshipnya, supaya dia jangan dimanfaatkan teman-temannya gara-gara keliatan banget kalo dia takut nggak punya temen. Heran juga aku, bapak ibunya soliter koq anaknya begini ya, mungkin ini gen resesifnya mencuat. Kayaknya musti belajar lagi deh tentang behavior.
Sisi positif Jessie dapatkan adalah bahwa di dunia ini banyak tipu muslihat, banyak serigala berbulu domba, banyak berteman karena ada pamrihnya. Jadi dia tau ganasnya dunia nanti melalui perilkita teman-temannya.
Thursday, April 2, 2009
Perawatan
Buat perempuan di atas usia 35 tahun, perawatan tubuh jadi penting. Kalo rutin ke salon or spa sih menyenangkan sekaligus naekin pede. Tapi, perawatan kita maksud ini buat organ-organ dalam.
Beberapa kali kita sudah melakukan papsmear, tapi perasaan nggak enak itu tetap menyertai kalo mau papsmear. Ujudnya sih mungkin kita agak-agak pening sedikit, terus bolak-balik ke kamar kecil, terus bingung pake rok apa celana panjang. Untungnya, kesadaran manfaat papsmear itu menguatkan tekadku untuk meneruskan perjalanan ke lab. Kemaren ini hampir aja lewat batas waktunya, 10-15 hari sesudah hari pertama siklus rutin. Jadi, feelingku masih lumayan tajam.
Proses pengambilan semen nya sih nggak lama, kurang dari 10 menit, cuman menuju pengambilan semen itu pali nggak mengenakkan, walaupun pengambilannya dilakukan oleh sesama perempuan. Terus ngedenger alatnya diputar naik, hmmm.... penting tarik napas dalam-dalam deh.
Demi kesehatan, kita melakukannya deh. Kalo nggak inget kesehatan, minta ampyun deh. belum kita lakukan adalah mammogram. Nah, itu perlu kesiapan lebih lagi, soalnya menurut penelitian mammogram itu jadi menyenangkan kalo kita puasa kopi kira2 dua minggu sebelum pemeriksaan. Mana tahaaan, paling enak bangun pagi sambil nyeruput coffee mix, lhah koq disuruh puasa ngopi. Bisa teklak-tekluk pas nyetir. Tapi kita menuju ke sana, cuman pelan-pelan ancang-ancangnya.
Beberapa kali kita sudah melakukan papsmear, tapi perasaan nggak enak itu tetap menyertai kalo mau papsmear. Ujudnya sih mungkin kita agak-agak pening sedikit, terus bolak-balik ke kamar kecil, terus bingung pake rok apa celana panjang. Untungnya, kesadaran manfaat papsmear itu menguatkan tekadku untuk meneruskan perjalanan ke lab. Kemaren ini hampir aja lewat batas waktunya, 10-15 hari sesudah hari pertama siklus rutin. Jadi, feelingku masih lumayan tajam.
Proses pengambilan semen nya sih nggak lama, kurang dari 10 menit, cuman menuju pengambilan semen itu pali nggak mengenakkan, walaupun pengambilannya dilakukan oleh sesama perempuan. Terus ngedenger alatnya diputar naik, hmmm.... penting tarik napas dalam-dalam deh.
Demi kesehatan, kita melakukannya deh. Kalo nggak inget kesehatan, minta ampyun deh. belum kita lakukan adalah mammogram. Nah, itu perlu kesiapan lebih lagi, soalnya menurut penelitian mammogram itu jadi menyenangkan kalo kita puasa kopi kira2 dua minggu sebelum pemeriksaan. Mana tahaaan, paling enak bangun pagi sambil nyeruput coffee mix, lhah koq disuruh puasa ngopi. Bisa teklak-tekluk pas nyetir. Tapi kita menuju ke sana, cuman pelan-pelan ancang-ancangnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)