Ketika kita lewat di daerah sekitar Giwangan, banyak lapak menjual lampion tradisional. Lampion itu bermacam-macam bentuknya. Rangkanya terbuat dari bilah-bilah bambu. Tangkainya terbuat dari batang bambu ujungnya dibuat berlubang untuk tempat lilin.
Jessie senang sekali kita belikan lampion itu. Kita memilih bentuk bintang, karena itu paling netral. lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-ar malam takbiran. Hanya, kita suka bentuknya dengan membeli ini, kita mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.
Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah kita membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.
Harapanku sih anak kami ini tak gamang hidup di dunia penuh warna.
Home » All posts
Friday, September 9, 2011
Tuesday, August 2, 2011
Yogya at Night
Udah lama pengen ngajak Jessie ke alun-alun selatan, baru kesampaian tadi malam. Dari rumah kami menuju Malioboro, sampai di Km 0, ternyata banyak orang berdagang helm, jika siang hari hal ini sih kayaknya gak ada, secara jarang banget lewat di sini.
Abis itu, masuk ke alun-alun utara tapi sepi, jadi kita belok kanan, mengikuti jalan itu sampai notok di Rotowijayan, melwati Gadri Resto, kami belok kanan, lalu belok kiri. Di sini dulu lokasinya Pasar Burung Ngasem. Karena pasar ini sudah direlokasi, lagipula malam hari, daerah ini menjadi sepi. Masih belok kiri, lalu belok kiri lagi di jalan Ngadisuryan. Naah... itu dia alun-alun selatan.
Walau bukan malam Minggu, tapi orang seliweran di sana. Di tengah lapangan ada lomba Masangin, berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin. Penutup matanya bisa disewa dengan harga Rp 3000. Kami liat ada mencoba. Titik berangkatnya udah bener, dari tengah di antara kedua pohon beringin itu. Lama-lama dia makin ke kiri ke kiri. Pantesan jarang berhasil nembus.
Di tengah lapangan juga banyak orang bermain parasut warna-warni berkerlap-kerlip. Rasanya kayak di Yogya zaman duluuuu sekali. Lalu kami naik kereta kelinci. Sekali putar Rp 5000/orang, seru banget, ngelilingin alun-alun. Ternyata banyak buka lesehan, ada ronde, gudeg, pisang goreng, dll.nya. Selesai naik kereta kelinci, misua Jessie naik sepeda tandem, Rp 10000 untuk 4 kali putar alun-alun.
Kita sih ogah deh naek tandem, orang naek sepeda biasa aja oglak-oglek, apalagi tandem. kan susah nge-remnya karena rem nya harus berbarengan. menambah kegembiraan Jessie karena semua sepeda tandemnya diberi lampu warna-warni, meriah sekali. Sebenernya Jessie masih pengen naek sepeda dikayuh berdampingan, seperti jika naik bebek air, tapi udah pk 21.27, jadi kapan-kapan ke sini lagi.
Satu hal membuat kagum adalah karcis parkirnya resmi dikeluarkan Keraton Ngayogyakarta dengan harga Rp 3000, padahal tadinya udah pasrah dipalak Rp 5000, ha...ha...ha...
It is a lovely night at Alun-alun Selatan.
Abis itu, masuk ke alun-alun utara tapi sepi, jadi kita belok kanan, mengikuti jalan itu sampai notok di Rotowijayan, melwati Gadri Resto, kami belok kanan, lalu belok kiri. Di sini dulu lokasinya Pasar Burung Ngasem. Karena pasar ini sudah direlokasi, lagipula malam hari, daerah ini menjadi sepi. Masih belok kiri, lalu belok kiri lagi di jalan Ngadisuryan. Naah... itu dia alun-alun selatan.
Walau bukan malam Minggu, tapi orang seliweran di sana. Di tengah lapangan ada lomba Masangin, berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin. Penutup matanya bisa disewa dengan harga Rp 3000. Kami liat ada mencoba. Titik berangkatnya udah bener, dari tengah di antara kedua pohon beringin itu. Lama-lama dia makin ke kiri ke kiri. Pantesan jarang berhasil nembus.
Di tengah lapangan juga banyak orang bermain parasut warna-warni berkerlap-kerlip. Rasanya kayak di Yogya zaman duluuuu sekali. Lalu kami naik kereta kelinci. Sekali putar Rp 5000/orang, seru banget, ngelilingin alun-alun. Ternyata banyak buka lesehan, ada ronde, gudeg, pisang goreng, dll.nya. Selesai naik kereta kelinci, misua Jessie naik sepeda tandem, Rp 10000 untuk 4 kali putar alun-alun.
Kita sih ogah deh naek tandem, orang naek sepeda biasa aja oglak-oglek, apalagi tandem. kan susah nge-remnya karena rem nya harus berbarengan. menambah kegembiraan Jessie karena semua sepeda tandemnya diberi lampu warna-warni, meriah sekali. Sebenernya Jessie masih pengen naek sepeda dikayuh berdampingan, seperti jika naik bebek air, tapi udah pk 21.27, jadi kapan-kapan ke sini lagi.
Satu hal membuat kagum adalah karcis parkirnya resmi dikeluarkan Keraton Ngayogyakarta dengan harga Rp 3000, padahal tadinya udah pasrah dipalak Rp 5000, ha...ha...ha...
It is a lovely night at Alun-alun Selatan.
Monday, June 27, 2011
Sate Klathak
Pertama kali kita diperkenalkan dengan sate jenis ini oleh temannya temanku, lebaran tahun lalu. Kala itu kami pergi siang-siang perjalanan terasa amat jauh. Karena yakin mappingku, kita tak bertanya-tanya ke arah mana, kita ingat adalah ringroad parangtritis belok kiri lalu perempatan belok kanan. Perjalanan pertama ke sana akhirnya pake nyasar-nyasar.
Setelah itu kita menghafalkan landmarknya. Jika dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.
Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi or tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.
Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah garam, jadi rasa satenya ini gurih polosan, soalnya tak ada bumbu lainnya warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Jika pesan harus dikat bahwa maunya sate klathak. Soalnya, jika bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang kala bilang sate kambing, datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak jika diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.
Ciri khas lainnya itu teh hangatnya. Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, loreng-loreng hijau itu. Mungkin nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.
Lalu, malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih modern, udah dikeramik semua. Jadi, m lesehan gitu terasa nyaman. Jika di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami m 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?
Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!
Setelah itu kita menghafalkan landmarknya. Jika dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.
Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi or tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.
Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah garam, jadi rasa satenya ini gurih polosan, soalnya tak ada bumbu lainnya warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Jika pesan harus dikat bahwa maunya sate klathak. Soalnya, jika bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang kala bilang sate kambing, datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak jika diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.
Ciri khas lainnya itu teh hangatnya. Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, loreng-loreng hijau itu. Mungkin nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.
Lalu, malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih modern, udah dikeramik semua. Jadi, m lesehan gitu terasa nyaman. Jika di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami m 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?
Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!
Wednesday, June 22, 2011
UM
Hari ini adalah sejarah buat Jessie. Untuk pertama kalinya dia berangkat ke Jakarta sendirian, menggun fasilitas unaccompanied minor.
Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
Friday, June 10, 2011
Perlindungan atau Asuransi
Sebulan yang lalu saya diinvite seorang teman untuk masuk FB Group komunitas saat kuliah. Senang rasanya bertemu lagi dengan teman-teman lama (walau tidak bertatap muka). Yang muncul dalam group itu adalah kenangan-kenangan baik yang indah maupun yang buruk saat kami masih berkumpul.
Setelah beberapa minggu muncul berita duka dari beberapa member komunitas terkait keluarganya. Ada tiga berita duka dalam seminggu. Kabar yang pertama yaitu meninggalnya seorang teman karena sakit jantung, beliau meninggal di rumah sakit dengan biaya perawatan yang cukup besar. Persoalan lainnya adalah karena beliau singgle parent dengan dua orang anak yang masih kecil, tentunya dua anak ini perlu biaya pendidikan. Berita duka yang kedua adalah meninggalnya anak seorang teman akibat sakit, dan biaya perawatannya yang terasa berat untuk ukuran perekonomian orang tuanya. Berita duka yang ketiga adalah meninggalnya suami seorang teman dan lagi-lagi meninggalkan hutang pada rumah sakit.
Tiga peristiwa tersebut membuat saya berpikir ternyata perlindungan (asuransi) kesehatan sangat diperlukan. Dengan perlindungan yang tepat tentunya akan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa di atas. Memang benar tidak semua penyakit bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi, itu yang perlu kita pelajari dengan seksama pada saat polis asuransi. Tapi setidaknya biaya rumah sakit yang sekarang ini dirasa sangat mahal dapat ditutup dari asuransi (untuk kasus radang tenggorokan saja menghabiskan 500 ribu jika berobat di rumah sakit di jakarta). Sayangnya di negeri ini kesadaran orang untuk berasuransi masih rendah. Saya bersyukur karena untuk urusan kesehatan sudah dicover oleh tempat saya dan suami bekerja.
Selain perlindungan kesehatan, perlindungan atas jiwa pencari nafkah juga menjadi penting. Perlindungan jiwa ini berguna jika pencari nafkah meninggal maka kehidupan perekonomian keluarga yang ditinggalkan tidak terganggu, termasuk pendidikan anak-anak. Naah...ini masih menjadi PR untuk saya, masih mencari yang klop.
Setelah beberapa minggu muncul berita duka dari beberapa member komunitas terkait keluarganya. Ada tiga berita duka dalam seminggu. Kabar yang pertama yaitu meninggalnya seorang teman karena sakit jantung, beliau meninggal di rumah sakit dengan biaya perawatan yang cukup besar. Persoalan lainnya adalah karena beliau singgle parent dengan dua orang anak yang masih kecil, tentunya dua anak ini perlu biaya pendidikan. Berita duka yang kedua adalah meninggalnya anak seorang teman akibat sakit, dan biaya perawatannya yang terasa berat untuk ukuran perekonomian orang tuanya. Berita duka yang ketiga adalah meninggalnya suami seorang teman dan lagi-lagi meninggalkan hutang pada rumah sakit.
Tiga peristiwa tersebut membuat saya berpikir ternyata perlindungan (asuransi) kesehatan sangat diperlukan. Dengan perlindungan yang tepat tentunya akan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa di atas. Memang benar tidak semua penyakit bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi, itu yang perlu kita pelajari dengan seksama pada saat polis asuransi. Tapi setidaknya biaya rumah sakit yang sekarang ini dirasa sangat mahal dapat ditutup dari asuransi (untuk kasus radang tenggorokan saja menghabiskan 500 ribu jika berobat di rumah sakit di jakarta). Sayangnya di negeri ini kesadaran orang untuk berasuransi masih rendah. Saya bersyukur karena untuk urusan kesehatan sudah dicover oleh tempat saya dan suami bekerja.
Selain perlindungan kesehatan, perlindungan atas jiwa pencari nafkah juga menjadi penting. Perlindungan jiwa ini berguna jika pencari nafkah meninggal maka kehidupan perekonomian keluarga yang ditinggalkan tidak terganggu, termasuk pendidikan anak-anak. Naah...ini masih menjadi PR untuk saya, masih mencari yang klop.
Monday, April 25, 2011
Kurang Sabar
Pagi tadi, sepulang berburu tiket nonton gratis film Perancis, kita terjebak kemacetan di Jl. Magelang. Jalan utama rumahku ini memang menjadi distrik perdagangan tersibuk besok-besoknya. Kemacetan itu karena di Jamal ada truk Kubota mau masuk keluar dari pabrik. Namanya juga truk, ya nggak bisa lah sekali belok langsung jadi.
Tiba-tiba, ada semacam SUV baru berwarna hijau pucuk daun nyelip di belakang truk, padahal Satpamnya udah nyetopin semua kendaraan. Entah daya ba ruangnya minus or karena ketak sabarannya menunggu kemacetan itu selesai or karena sebab-sebab lain, usahanya menyelip itu diteruskan. Alhasil, mobil barunya itu menghantam pembatas jalan....penyok deh bemper depan bawah.
Kita dari arah berlawanan sampe terkagum-kagum ngeliat usaha bapak ini nyelip. Sa banget mobilnya baru tapi stylenya nyetir kayak sopir angkot. Dan, nyetir ini mending-mending masih muda terkenal berdarah panas, ini nggak, udah stw. Coba sabar dikit, kan nggak menodai mobil baru.
Dari sini kita kembali diingatkan supaya lebih bersabar dalam berlalu lintas, apalagi di Yogya, terkenal karena pengendara motornya seperti nyamuk: dari kiri bisa belok kanan tiba-tiba, or kita udah kasih tanda mau belok kiri, teteup aja tuh motor nerabas dari belakang untuk arah lurus. Selain itu kita juga belajar bahwa gaya menyetir mencerminkan kepribadiannya. Gimana sih orang grusa-grusu bisa sabar menghadapi orang lain?
Pelajaran berharga hari ini.
Tiba-tiba, ada semacam SUV baru berwarna hijau pucuk daun nyelip di belakang truk, padahal Satpamnya udah nyetopin semua kendaraan. Entah daya ba ruangnya minus or karena ketak sabarannya menunggu kemacetan itu selesai or karena sebab-sebab lain, usahanya menyelip itu diteruskan. Alhasil, mobil barunya itu menghantam pembatas jalan....penyok deh bemper depan bawah.
Kita dari arah berlawanan sampe terkagum-kagum ngeliat usaha bapak ini nyelip. Sa banget mobilnya baru tapi stylenya nyetir kayak sopir angkot. Dan, nyetir ini mending-mending masih muda terkenal berdarah panas, ini nggak, udah stw. Coba sabar dikit, kan nggak menodai mobil baru.
Dari sini kita kembali diingatkan supaya lebih bersabar dalam berlalu lintas, apalagi di Yogya, terkenal karena pengendara motornya seperti nyamuk: dari kiri bisa belok kanan tiba-tiba, or kita udah kasih tanda mau belok kiri, teteup aja tuh motor nerabas dari belakang untuk arah lurus. Selain itu kita juga belajar bahwa gaya menyetir mencerminkan kepribadiannya. Gimana sih orang grusa-grusu bisa sabar menghadapi orang lain?
Pelajaran berharga hari ini.
Tuesday, April 5, 2011
Adventure in Semarang
Liburan panjang kami ke Semarang. Sebenernya agak-agak ngeri jug, karena kota ini besar, secara ibukota propinsi gitu loh. Hanya karena kami lihat ada wahana air di sana aja, kami jadi berangkat.
Setelah melalui lembah bukit hijau, ramainya lalin menuju Ungaran menyambut kami. Samar-samar masih keinget berapa tahun lalu mencari sate kempleng di daerah itu bersama keluarga besarku. kita memang menemukan tempat kami m sate kempleng itu. Akhirnya...tak lama kemudian muncul deh kota Semarang itu.
Sebenarnya mencapai Grand Candi Hotel nggak susah, karena hotel ini paling dekat dengan gerbang Semarang. Cuma karena ahir ke sini 2 tahun lalu, kita kelupaan harus belok kiri begitu ada percabangan papan petunjuk Patra Jasa. Jadi turun terus, tau-tau udah pertokoan. Langsung kita tanya memang kelewatan. Jadi, putar balik masih sempat satu kali lagi tanya sebelum menemukan Grand Candi.
Petualangan dimulai malam harinya. Hanya berbekal ingatan masa silam, kami 'turun' ke Pandanaran. Ngiter-ngiter nyari rumah m keliatannya serba: serba lengkap, serba murah serba mudah. Maklum, turis domestik satu ini agak malas mencoba-coba baru di malam hari. Akhirnya ketemu tuh toko buku kesayangan. Setelah itu ke Mall Ciputra. Di sini ini kita ngalamin aneh di ibukota propinsi. Parkir mall itu kan emang kecil, lalu sesampainya di lahan parkir, tukang parkirnya nanya mau nggak diparkirin. Spontan kita tanya memangnya valet parkingnya berapa. Tau nggak jawabnya? "Oh, di sini nggak ada valet parking. Kami hanya menolong ibu saja supaya bisa segera masuk mal, nanti kami parkirkan." Bayangin tuh..., bae banget kan tuh Bapak?
Berkat dia lah kami bisa putar2 di mal m malam di sana. Nggak enak sih makanan2nya, tapi kenapa rame bener yak? Setelah pulang ke Yogya baru terpikir, lain kali jangan masuk mal ah, ha3, telat.
Dari mal itu kami 'naik' ke hotel. Malam pertama tidur pulas karena lelah nyamannya kamar di hotel itu.
Hari kedua, ada teman datang dia nganter-nganter keliling Semarang. Kalo ini bener deh, namanya keliling kuliner. Dari sekian tempat kuliner terucap, kita paling terkesan dengan gerobak leker lkita banget di depan Loyola. Orang ngantri beli itu siang-siang. Harganya variatif, dari 1000-14000. 14000 pake keju mozarela daging asap, kayak makanan hotel berbintang aja. Konon gerobak leker satu ini sekarang jadi sering diundang ke pesta nikah, buka lapak di sana, he3. Siang itu sebenernya kami mau diajak ke gule kambing terkenal di Semarang tapi tutup. Jadi, kami disuguhkan warung gule kepala ikan. Nikmat banget siang-siang m ini. Kepala ikannya penuh daging, kuahnya enak minumnya air kelapa dingin! Jessie aja nggak gitu doyan pedes m dengan lahap, apalagi ortunya!
Malamnya, adventure dimulai lagi karena nyari resto Kampung Laut kata temenku di Yogya, ambiencenya bagus banget. Untung kemaren di Gramed beli peta, jadi lumayan gampang. Tapi nyasarnya sih tetep aja, walau udah diterangin di hotel panjang lebar ke rah mana kami harus menuju. Sampe petunjuk ke bandara masih bener, tapi makin lama jalannya makin lebar tapi koq tambah sepi? Buru-buru deh u turn. Tau-tau pas nanya sama tukang taksi, eh...ada gerbangnya bandara di sana. Nggak pake lampu sih, jadi nggak keliatan tadi. Nggak lama kemudian, nyampe deh di Kampung Laut.
Menunya macem-macem tempatnya gede banget. Dari sekian menu banyaknya nggak ketulungan itu, pilihan jatuh ke ikan hiu sama kepiting lemburi telur asin. Wah, enak betul m di gazebo luar, memandang kerlip-kerlip lampu di laut sambil nyeruput teh hangat. Kayak bukan di Jawa aja.
Pulangnya udah hafal jalan, eh malah rubiknya Jessie ketinggalan di resto tadi, Jadi balik lagi ke sana. Kayak orang nggak puas aja pergi hanya sekali ke Kampung Laut, ha...ha...ha....
Minggu pagi beberes terus check out kita maen aer di water blaster. Karena pembangunannya belum selesai semua, jadi peraturannya juga belum selesai semua, he3. Masak berenang pake singlet? bener aja. Terus dari wahana satu ke wahana lain jauh banget jalannya. Parahnya nggak dibilangin dari bawah peraturan-peraturannya, jadi udah sampe atas baru tau harus bawa ban doble or single, minimal tinggi ba maksimal berat ba diperbolehkan di sana. Satu lagi agak mengganggu itu, air di sliding kurang deras. Jadi gesekan dengan papan seluncuran punggung terasa kerasnya. Emang sih dibandinginnya sama ciputra water park, tai kayaknya derasnya air peraturan renang di sana adalah hal mendasar seharusnya di set up dengan baik sebelum wahana itu dibuka. Untuk petualangan mencoba wahana baru, lumayanlah...
Petualangan diakhiri dengan menerjang hujan deras keluar dari Semarang. Nyari warung kepiting terkenal di Ungaran. papan nama warungnya kecil, tapi untungnya nggak kelewatan. M siang di Roso Nyoto emang luar biasa enaknya. Kepiting digoreng kering sesuai dengan nama menunya. Jadi kami pesan bertelur, datanglah memang kepiting nelur. Ternyata kami tamu terakhir, abis itu tutup deh restonya. Untung masih kebagian, kalo nggak nyesel deh.
Lain kali ke sana lagi ah, kalo ace baru udah buka.
Setelah melalui lembah bukit hijau, ramainya lalin menuju Ungaran menyambut kami. Samar-samar masih keinget berapa tahun lalu mencari sate kempleng di daerah itu bersama keluarga besarku. kita memang menemukan tempat kami m sate kempleng itu. Akhirnya...tak lama kemudian muncul deh kota Semarang itu.
Sebenarnya mencapai Grand Candi Hotel nggak susah, karena hotel ini paling dekat dengan gerbang Semarang. Cuma karena ahir ke sini 2 tahun lalu, kita kelupaan harus belok kiri begitu ada percabangan papan petunjuk Patra Jasa. Jadi turun terus, tau-tau udah pertokoan. Langsung kita tanya memang kelewatan. Jadi, putar balik masih sempat satu kali lagi tanya sebelum menemukan Grand Candi.
Petualangan dimulai malam harinya. Hanya berbekal ingatan masa silam, kami 'turun' ke Pandanaran. Ngiter-ngiter nyari rumah m keliatannya serba: serba lengkap, serba murah serba mudah. Maklum, turis domestik satu ini agak malas mencoba-coba baru di malam hari. Akhirnya ketemu tuh toko buku kesayangan. Setelah itu ke Mall Ciputra. Di sini ini kita ngalamin aneh di ibukota propinsi. Parkir mall itu kan emang kecil, lalu sesampainya di lahan parkir, tukang parkirnya nanya mau nggak diparkirin. Spontan kita tanya memangnya valet parkingnya berapa. Tau nggak jawabnya? "Oh, di sini nggak ada valet parking. Kami hanya menolong ibu saja supaya bisa segera masuk mal, nanti kami parkirkan." Bayangin tuh..., bae banget kan tuh Bapak?
Berkat dia lah kami bisa putar2 di mal m malam di sana. Nggak enak sih makanan2nya, tapi kenapa rame bener yak? Setelah pulang ke Yogya baru terpikir, lain kali jangan masuk mal ah, ha3, telat.
Dari mal itu kami 'naik' ke hotel. Malam pertama tidur pulas karena lelah nyamannya kamar di hotel itu.
Hari kedua, ada teman datang dia nganter-nganter keliling Semarang. Kalo ini bener deh, namanya keliling kuliner. Dari sekian tempat kuliner terucap, kita paling terkesan dengan gerobak leker lkita banget di depan Loyola. Orang ngantri beli itu siang-siang. Harganya variatif, dari 1000-14000. 14000 pake keju mozarela daging asap, kayak makanan hotel berbintang aja. Konon gerobak leker satu ini sekarang jadi sering diundang ke pesta nikah, buka lapak di sana, he3. Siang itu sebenernya kami mau diajak ke gule kambing terkenal di Semarang tapi tutup. Jadi, kami disuguhkan warung gule kepala ikan. Nikmat banget siang-siang m ini. Kepala ikannya penuh daging, kuahnya enak minumnya air kelapa dingin! Jessie aja nggak gitu doyan pedes m dengan lahap, apalagi ortunya!
Malamnya, adventure dimulai lagi karena nyari resto Kampung Laut kata temenku di Yogya, ambiencenya bagus banget. Untung kemaren di Gramed beli peta, jadi lumayan gampang. Tapi nyasarnya sih tetep aja, walau udah diterangin di hotel panjang lebar ke rah mana kami harus menuju. Sampe petunjuk ke bandara masih bener, tapi makin lama jalannya makin lebar tapi koq tambah sepi? Buru-buru deh u turn. Tau-tau pas nanya sama tukang taksi, eh...ada gerbangnya bandara di sana. Nggak pake lampu sih, jadi nggak keliatan tadi. Nggak lama kemudian, nyampe deh di Kampung Laut.
Menunya macem-macem tempatnya gede banget. Dari sekian menu banyaknya nggak ketulungan itu, pilihan jatuh ke ikan hiu sama kepiting lemburi telur asin. Wah, enak betul m di gazebo luar, memandang kerlip-kerlip lampu di laut sambil nyeruput teh hangat. Kayak bukan di Jawa aja.
Pulangnya udah hafal jalan, eh malah rubiknya Jessie ketinggalan di resto tadi, Jadi balik lagi ke sana. Kayak orang nggak puas aja pergi hanya sekali ke Kampung Laut, ha...ha...ha....
Minggu pagi beberes terus check out kita maen aer di water blaster. Karena pembangunannya belum selesai semua, jadi peraturannya juga belum selesai semua, he3. Masak berenang pake singlet? bener aja. Terus dari wahana satu ke wahana lain jauh banget jalannya. Parahnya nggak dibilangin dari bawah peraturan-peraturannya, jadi udah sampe atas baru tau harus bawa ban doble or single, minimal tinggi ba maksimal berat ba diperbolehkan di sana. Satu lagi agak mengganggu itu, air di sliding kurang deras. Jadi gesekan dengan papan seluncuran punggung terasa kerasnya. Emang sih dibandinginnya sama ciputra water park, tai kayaknya derasnya air peraturan renang di sana adalah hal mendasar seharusnya di set up dengan baik sebelum wahana itu dibuka. Untuk petualangan mencoba wahana baru, lumayanlah...
Petualangan diakhiri dengan menerjang hujan deras keluar dari Semarang. Nyari warung kepiting terkenal di Ungaran. papan nama warungnya kecil, tapi untungnya nggak kelewatan. M siang di Roso Nyoto emang luar biasa enaknya. Kepiting digoreng kering sesuai dengan nama menunya. Jadi kami pesan bertelur, datanglah memang kepiting nelur. Ternyata kami tamu terakhir, abis itu tutup deh restonya. Untung masih kebagian, kalo nggak nyesel deh.
Lain kali ke sana lagi ah, kalo ace baru udah buka.
Subscribe to:
Posts (Atom)