Akhir-akhir ini internet di tempatku luar biasa lemot. Jarang-jarang kita bisa download dengan tenang. Bisa tiba-tiba down, lau semua kita download berhenti di tengah jalan. Akibatnya kita harus mengulang lagi dari awal.
Kalo soal download masih bisa lah ditunda, tapi jika email penting or pertemuan penting, rasanya kondisi internet kayak gitu bikin frustrasi.
Satu hal akusyukuri adalah kita dibekali dengan handheld canggih. Halangan begitu hampir bisa diatasi semua. pertama kali membuatku bersyukur adalah kala kita harus meneliti hasil pemeriksaa psikologis saat itu juga, padahal internet down. Dengan handheld ini, tugasku itu terlaksana dengan baik.
Begitu juga kala di kampus, kami diminta mencari seuah istilah penting, dengan adanya handheld ini tugas itu tak perlu tertunda-tunda.
Ajaibnya lagi, kala kita berinisiatif mencarikan tempat syawalan angkatanku. Kan hanya kita ada di lokasi saat itu, jadi dengan handheld ini kita cepret sana cepret sini, alngsung kirim ke grup. Saat itu juga kami sepakat menyewa or tidak tempat kita kunjungi. Tanpa handheld seperti ini agak mustahil melakukan banyak pekerjaan dengan kala sesingkat-singkatnya.
Itu soal perangkat keras. Dalam hal software, kita banyak tertolong dengan yahoo messenger. Dengan meletusnya Merapi, komunikasi menjadi sulit. Komunikasi tatap muka, maksudku. Tugasku itu menghubungkan berbagai macam orang di Jakarta, Semarang, Salatiga Yogya. Tanpa bantuan ym, sulit semua itu terlaksana.
Zaman teknologi begini, kemungkinan tatap muka di dunia nyata bisa dikurangi dengan amat banyak, walaupun itu juga diperlukan. Tapi dalam keadaan darurat, bantuan teknologi sangat terasa signifikansinya.
Home » All posts
Monday, November 7, 2011
Friday, September 9, 2011
Cerita Kisah Sebuah Lampion
Ketika kita lewat di daerah sekitar Giwangan, banyak lapak menjual lampion tradisional. Lampion itu bermacam-macam bentuknya. Rangkanya terbuat dari bilah-bilah bambu. Tangkainya terbuat dari batang bambu ujungnya dibuat berlubang untuk tempat lilin.
Jessie senang sekali kita belikan lampion itu. Kita memilih bentuk bintang, karena itu paling netral. lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-ar malam takbiran. Hanya, kita suka bentuknya dengan membeli ini, kita mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.
Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah kita membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.
Harapanku sih anak kami ini tak gamang hidup di dunia penuh warna.
Jessie senang sekali kita belikan lampion itu. Kita memilih bentuk bintang, karena itu paling netral. lain berbentuk bulan sabit, mesjid, kubah mesjid bentuk-bentuk keagamaan lainnya. Memang sejatinya lampion itu dipakai dalam arak-ar malam takbiran. Hanya, kita suka bentuknya dengan membeli ini, kita mulai mengajarkan anakku menghargai keberbedaan.
Lampion itu masih ada sampai sekarang, dua tahun setelah kita membelikannya. Setiap dia lihat lampion itu, dia teringat jalan-jalan malam sekeliling Jl. K. H. Ahmad Dahlan melihat orang berbaris mengumandangkan kebesaran Sang Pencipta.
Harapanku sih anak kami ini tak gamang hidup di dunia penuh warna.
Tuesday, August 2, 2011
Yogya at Night
Udah lama pengen ngajak Jessie ke alun-alun selatan, baru kesampaian tadi malam. Dari rumah kami menuju Malioboro, sampai di Km 0, ternyata banyak orang berdagang helm, jika siang hari hal ini sih kayaknya gak ada, secara jarang banget lewat di sini.
Abis itu, masuk ke alun-alun utara tapi sepi, jadi kita belok kanan, mengikuti jalan itu sampai notok di Rotowijayan, melwati Gadri Resto, kami belok kanan, lalu belok kiri. Di sini dulu lokasinya Pasar Burung Ngasem. Karena pasar ini sudah direlokasi, lagipula malam hari, daerah ini menjadi sepi. Masih belok kiri, lalu belok kiri lagi di jalan Ngadisuryan. Naah... itu dia alun-alun selatan.
Walau bukan malam Minggu, tapi orang seliweran di sana. Di tengah lapangan ada lomba Masangin, berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin. Penutup matanya bisa disewa dengan harga Rp 3000. Kami liat ada mencoba. Titik berangkatnya udah bener, dari tengah di antara kedua pohon beringin itu. Lama-lama dia makin ke kiri ke kiri. Pantesan jarang berhasil nembus.
Di tengah lapangan juga banyak orang bermain parasut warna-warni berkerlap-kerlip. Rasanya kayak di Yogya zaman duluuuu sekali. Lalu kami naik kereta kelinci. Sekali putar Rp 5000/orang, seru banget, ngelilingin alun-alun. Ternyata banyak buka lesehan, ada ronde, gudeg, pisang goreng, dll.nya. Selesai naik kereta kelinci, misua Jessie naik sepeda tandem, Rp 10000 untuk 4 kali putar alun-alun.
Kita sih ogah deh naek tandem, orang naek sepeda biasa aja oglak-oglek, apalagi tandem. kan susah nge-remnya karena rem nya harus berbarengan. menambah kegembiraan Jessie karena semua sepeda tandemnya diberi lampu warna-warni, meriah sekali. Sebenernya Jessie masih pengen naek sepeda dikayuh berdampingan, seperti jika naik bebek air, tapi udah pk 21.27, jadi kapan-kapan ke sini lagi.
Satu hal membuat kagum adalah karcis parkirnya resmi dikeluarkan Keraton Ngayogyakarta dengan harga Rp 3000, padahal tadinya udah pasrah dipalak Rp 5000, ha...ha...ha...
It is a lovely night at Alun-alun Selatan.
Abis itu, masuk ke alun-alun utara tapi sepi, jadi kita belok kanan, mengikuti jalan itu sampai notok di Rotowijayan, melwati Gadri Resto, kami belok kanan, lalu belok kiri. Di sini dulu lokasinya Pasar Burung Ngasem. Karena pasar ini sudah direlokasi, lagipula malam hari, daerah ini menjadi sepi. Masih belok kiri, lalu belok kiri lagi di jalan Ngadisuryan. Naah... itu dia alun-alun selatan.
Walau bukan malam Minggu, tapi orang seliweran di sana. Di tengah lapangan ada lomba Masangin, berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin. Penutup matanya bisa disewa dengan harga Rp 3000. Kami liat ada mencoba. Titik berangkatnya udah bener, dari tengah di antara kedua pohon beringin itu. Lama-lama dia makin ke kiri ke kiri. Pantesan jarang berhasil nembus.
Di tengah lapangan juga banyak orang bermain parasut warna-warni berkerlap-kerlip. Rasanya kayak di Yogya zaman duluuuu sekali. Lalu kami naik kereta kelinci. Sekali putar Rp 5000/orang, seru banget, ngelilingin alun-alun. Ternyata banyak buka lesehan, ada ronde, gudeg, pisang goreng, dll.nya. Selesai naik kereta kelinci, misua Jessie naik sepeda tandem, Rp 10000 untuk 4 kali putar alun-alun.
Kita sih ogah deh naek tandem, orang naek sepeda biasa aja oglak-oglek, apalagi tandem. kan susah nge-remnya karena rem nya harus berbarengan. menambah kegembiraan Jessie karena semua sepeda tandemnya diberi lampu warna-warni, meriah sekali. Sebenernya Jessie masih pengen naek sepeda dikayuh berdampingan, seperti jika naik bebek air, tapi udah pk 21.27, jadi kapan-kapan ke sini lagi.
Satu hal membuat kagum adalah karcis parkirnya resmi dikeluarkan Keraton Ngayogyakarta dengan harga Rp 3000, padahal tadinya udah pasrah dipalak Rp 5000, ha...ha...ha...
It is a lovely night at Alun-alun Selatan.
Monday, June 27, 2011
Sate Klathak
Pertama kali kita diperkenalkan dengan sate jenis ini oleh temannya temanku, lebaran tahun lalu. Kala itu kami pergi siang-siang perjalanan terasa amat jauh. Karena yakin mappingku, kita tak bertanya-tanya ke arah mana, kita ingat adalah ringroad parangtritis belok kiri lalu perempatan belok kanan. Perjalanan pertama ke sana akhirnya pake nyasar-nyasar.
Setelah itu kita menghafalkan landmarknya. Jika dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.
Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi or tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.
Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah garam, jadi rasa satenya ini gurih polosan, soalnya tak ada bumbu lainnya warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Jika pesan harus dikat bahwa maunya sate klathak. Soalnya, jika bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang kala bilang sate kambing, datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak jika diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.
Ciri khas lainnya itu teh hangatnya. Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, loreng-loreng hijau itu. Mungkin nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.
Lalu, malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih modern, udah dikeramik semua. Jadi, m lesehan gitu terasa nyaman. Jika di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami m 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?
Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!
Setelah itu kita menghafalkan landmarknya. Jika dari arah kota Yogya, ambil rute menuju Parangtritis, yaitu Jl. Parangtritis. Begitu sampai di perempatan ringroad, belok kiri ke arah Imogiri. Perempatan lagi, belok kanan. Nah, ini jalan desa, agak jauh baru ada perempatan lagi. Papan petunjuk nya: ke kanan itu ke Rumah Budaya Tembi, ke kiri itu ke Pleret. Ambil jalan menuju Pleret. Di kiri kanan itu sawah, jalan terus sampai di kanan jalan ada gedung olahraga. Maju lagi, kira-kira 100 meteran, di kiri jalan itulah sate klathak Pak Pong.
Istimewanya, warung sate ini menghadap sawah hijau nan luas membentang. Jadi serasa berada di manaaa gitu. Lalu, karena nir suara televisi or tape, terdengarlah suara sepeda dikayuh di kejauhan, saat seorang bapak melintas di teritisan sawah dengan sepedanya. Nuansa itu membuat kami sekeluarga sering menghabiskan minggu siang di sini.
Sate klathak itu tusuk satenya adalah jeruji sepeda, disajikan apa adanya.
Konon bumbunya hanya bawang merah garam, jadi rasa satenya ini gurih polosan, soalnya tak ada bumbu lainnya warnanya gak coklat bakaran. Mungkin karena tusuk satenya itu jeruji sepeda, jadi panas masuk ke dagingnya merata. Dagingnya jadi empuk sekian persen prengus kambingnya juga hilang. Jika pesan harus dikat bahwa maunya sate klathak. Soalnya, jika bilang sate kambing aja, ya dibuatkan sate biasa dengan tusuk sate bambu itu. Kami pernah kecele suatu siang kala bilang sate kambing, datang bukan sate klathak. Terpaksa disantap, tapi dagingnya tak seenak jika diklathak. Seporsi sate klathak itu Rp 10.000.
Ciri khas lainnya itu teh hangatnya. Mantap, karena disajikan bersama dengan poci teh kaleng zadul, loreng-loreng hijau itu. Mungkin nasgitel, disajikan bersama dengan gula batu.
Lalu, malam, kami berdua mencoba sate klathak malam hari. Dari Pak Pong maju lagi, ada perempatan belok kanan. Persis di gang sebelah pasar ada papan petunjuk kecil: Sate klathak Pak Bari. Dia berjualan di dalam pasar. Bayangan kami dari rumah, pasarnya seheboh pasar Biru Maru di Donggala sana. Ternyata pasarnya bersih modern, udah dikeramik semua. Jadi, m lesehan gitu terasa nyaman. Jika di sini nasi putihnya diberi kuah gule. Tehnya juga sama enaknya. Kami m 2 porsi sate klathak, 2 nasi putih 2 gelas teh habisnya Rp 16.000. Asyik kan?
Jadi, sate klathak siang, sate klathak malam, sama enaknya!
Wednesday, June 22, 2011
UM
Hari ini adalah sejarah buat Jessie. Untuk pertama kalinya dia berangkat ke Jakarta sendirian, menggun fasilitas unaccompanied minor.
Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
Udah dari kelas 3 kita motivasi dia untuk mencoba UM, tapi kala itu belum muncul keberaniannya. Baru awal-awal tahun ini tiba-tiba muncul keinginan itu. Jadi, kala kapan itu ke Jakarta bareng-bareng, kita perlihatkan bagaimana harus check in, bagaimana mengukur barang-barang dimasukkan ke bagasi, bagaimana bayar airport tax dll.
Tadi, kita diminta mengisi beberapa keterangan di counter check ini Garuda, bandara Adi Sucipto. harus kita beritahu itu siapa penjemputnya, nomor telepon penjemputnya. Supaya memudahkan ground staff Garuda di Jakarta nanti, kita buatkan foto adikku menjemput Jessie dikalungkan di lehernya Jessie. Bagus juga dibuatkan begitu, karena boarding pass Garuda sekarang kecil sekali.
Satu langkah lagi dia di dalam kemandiriannya. Kita bapaknya langsung mellow begitu Jess berangkat. Pulang ke rumah pun rasanya sepi sekali. Rumah kami semarak jika ada Jessie ceria banyak ide. Mungkin ini kami ras kelak, jika Jess kuliah di lura kota or menikah. Time is really really flies. Rasanya baru melihat dia terlahir dengan selamat, hari ini sudah bisa terbang sendiri ke Jakarta.
Friday, June 10, 2011
Perlindungan atau Asuransi
Sebulan yang lalu saya diinvite seorang teman untuk masuk FB Group komunitas saat kuliah. Senang rasanya bertemu lagi dengan teman-teman lama (walau tidak bertatap muka). Yang muncul dalam group itu adalah kenangan-kenangan baik yang indah maupun yang buruk saat kami masih berkumpul.
Setelah beberapa minggu muncul berita duka dari beberapa member komunitas terkait keluarganya. Ada tiga berita duka dalam seminggu. Kabar yang pertama yaitu meninggalnya seorang teman karena sakit jantung, beliau meninggal di rumah sakit dengan biaya perawatan yang cukup besar. Persoalan lainnya adalah karena beliau singgle parent dengan dua orang anak yang masih kecil, tentunya dua anak ini perlu biaya pendidikan. Berita duka yang kedua adalah meninggalnya anak seorang teman akibat sakit, dan biaya perawatannya yang terasa berat untuk ukuran perekonomian orang tuanya. Berita duka yang ketiga adalah meninggalnya suami seorang teman dan lagi-lagi meninggalkan hutang pada rumah sakit.
Tiga peristiwa tersebut membuat saya berpikir ternyata perlindungan (asuransi) kesehatan sangat diperlukan. Dengan perlindungan yang tepat tentunya akan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa di atas. Memang benar tidak semua penyakit bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi, itu yang perlu kita pelajari dengan seksama pada saat polis asuransi. Tapi setidaknya biaya rumah sakit yang sekarang ini dirasa sangat mahal dapat ditutup dari asuransi (untuk kasus radang tenggorokan saja menghabiskan 500 ribu jika berobat di rumah sakit di jakarta). Sayangnya di negeri ini kesadaran orang untuk berasuransi masih rendah. Saya bersyukur karena untuk urusan kesehatan sudah dicover oleh tempat saya dan suami bekerja.
Selain perlindungan kesehatan, perlindungan atas jiwa pencari nafkah juga menjadi penting. Perlindungan jiwa ini berguna jika pencari nafkah meninggal maka kehidupan perekonomian keluarga yang ditinggalkan tidak terganggu, termasuk pendidikan anak-anak. Naah...ini masih menjadi PR untuk saya, masih mencari yang klop.
Setelah beberapa minggu muncul berita duka dari beberapa member komunitas terkait keluarganya. Ada tiga berita duka dalam seminggu. Kabar yang pertama yaitu meninggalnya seorang teman karena sakit jantung, beliau meninggal di rumah sakit dengan biaya perawatan yang cukup besar. Persoalan lainnya adalah karena beliau singgle parent dengan dua orang anak yang masih kecil, tentunya dua anak ini perlu biaya pendidikan. Berita duka yang kedua adalah meninggalnya anak seorang teman akibat sakit, dan biaya perawatannya yang terasa berat untuk ukuran perekonomian orang tuanya. Berita duka yang ketiga adalah meninggalnya suami seorang teman dan lagi-lagi meninggalkan hutang pada rumah sakit.
Tiga peristiwa tersebut membuat saya berpikir ternyata perlindungan (asuransi) kesehatan sangat diperlukan. Dengan perlindungan yang tepat tentunya akan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa di atas. Memang benar tidak semua penyakit bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi, itu yang perlu kita pelajari dengan seksama pada saat polis asuransi. Tapi setidaknya biaya rumah sakit yang sekarang ini dirasa sangat mahal dapat ditutup dari asuransi (untuk kasus radang tenggorokan saja menghabiskan 500 ribu jika berobat di rumah sakit di jakarta). Sayangnya di negeri ini kesadaran orang untuk berasuransi masih rendah. Saya bersyukur karena untuk urusan kesehatan sudah dicover oleh tempat saya dan suami bekerja.
Selain perlindungan kesehatan, perlindungan atas jiwa pencari nafkah juga menjadi penting. Perlindungan jiwa ini berguna jika pencari nafkah meninggal maka kehidupan perekonomian keluarga yang ditinggalkan tidak terganggu, termasuk pendidikan anak-anak. Naah...ini masih menjadi PR untuk saya, masih mencari yang klop.
Monday, April 25, 2011
Kurang Sabar
Pagi tadi, sepulang berburu tiket nonton gratis film Perancis, kita terjebak kemacetan di Jl. Magelang. Jalan utama rumahku ini memang menjadi distrik perdagangan tersibuk besok-besoknya. Kemacetan itu karena di Jamal ada truk Kubota mau masuk keluar dari pabrik. Namanya juga truk, ya nggak bisa lah sekali belok langsung jadi.
Tiba-tiba, ada semacam SUV baru berwarna hijau pucuk daun nyelip di belakang truk, padahal Satpamnya udah nyetopin semua kendaraan. Entah daya ba ruangnya minus or karena ketak sabarannya menunggu kemacetan itu selesai or karena sebab-sebab lain, usahanya menyelip itu diteruskan. Alhasil, mobil barunya itu menghantam pembatas jalan....penyok deh bemper depan bawah.
Kita dari arah berlawanan sampe terkagum-kagum ngeliat usaha bapak ini nyelip. Sa banget mobilnya baru tapi stylenya nyetir kayak sopir angkot. Dan, nyetir ini mending-mending masih muda terkenal berdarah panas, ini nggak, udah stw. Coba sabar dikit, kan nggak menodai mobil baru.
Dari sini kita kembali diingatkan supaya lebih bersabar dalam berlalu lintas, apalagi di Yogya, terkenal karena pengendara motornya seperti nyamuk: dari kiri bisa belok kanan tiba-tiba, or kita udah kasih tanda mau belok kiri, teteup aja tuh motor nerabas dari belakang untuk arah lurus. Selain itu kita juga belajar bahwa gaya menyetir mencerminkan kepribadiannya. Gimana sih orang grusa-grusu bisa sabar menghadapi orang lain?
Pelajaran berharga hari ini.
Tiba-tiba, ada semacam SUV baru berwarna hijau pucuk daun nyelip di belakang truk, padahal Satpamnya udah nyetopin semua kendaraan. Entah daya ba ruangnya minus or karena ketak sabarannya menunggu kemacetan itu selesai or karena sebab-sebab lain, usahanya menyelip itu diteruskan. Alhasil, mobil barunya itu menghantam pembatas jalan....penyok deh bemper depan bawah.
Kita dari arah berlawanan sampe terkagum-kagum ngeliat usaha bapak ini nyelip. Sa banget mobilnya baru tapi stylenya nyetir kayak sopir angkot. Dan, nyetir ini mending-mending masih muda terkenal berdarah panas, ini nggak, udah stw. Coba sabar dikit, kan nggak menodai mobil baru.
Dari sini kita kembali diingatkan supaya lebih bersabar dalam berlalu lintas, apalagi di Yogya, terkenal karena pengendara motornya seperti nyamuk: dari kiri bisa belok kanan tiba-tiba, or kita udah kasih tanda mau belok kiri, teteup aja tuh motor nerabas dari belakang untuk arah lurus. Selain itu kita juga belajar bahwa gaya menyetir mencerminkan kepribadiannya. Gimana sih orang grusa-grusu bisa sabar menghadapi orang lain?
Pelajaran berharga hari ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)